Bupati Gunungkidul Minta Jaga Warga Lebih Aktif, Ini Tujuannya
Bupati Gunungkidul Endah Subekti meminta kelompok Jaga Warga memperkuat kamtibmas, mencegah konflik sosial, narkoba, kenakalan remaja, dan hoaks.
Sukatno, salah seorang warga Dusun Magirejo, Ngalang saat menunjukkan longsoran talut yang berada di samping rumahnya, Selasa (14/1/2020)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dusun Margirejo, Ngalang merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul yang rawan longsor. Warga pun sering khawatir saat terjadi hujan deras karena ancaman longsor semakin meningkat. Berikut kisah yang dihimpun wartawan, Harian Jogja, David Kurniawan.
Letak Dusun Magirejo, Ngalang berada di lereng perbukitan yang menghubungkan puncak 4G yang menjadi salah satu objek wisata di Kecamatan Gedangsari dengan bukit Magir. Meski berada di kawasan perbukitan, dusun ini termasuk padat penduduk karena dihuni tidak kurang dari 205 kepala keluarga.
Jarak satu rumah dengan rumah lainnya juga masih berdekatan. Hanya saja, karena kondisi geografis yang berada di wilayah perbukitan, bangunanya berupa terasiring karena ada ada beda ketinggian antara tiga hingga enam meter antarrumah. Kondisi ini lazim terlihat sehingga dari kejauahan terlihat seperti bangunan yang berundak-undak.
Kondisi inilah yang membuat wilayah Magirejo menjadi salah satu dusun yang rawan longsor di Desa Ngalang, Gedangsari. Hingga kini sudah ada sejumlah titik longsoran, tapi dalam skala kecil. Salah satunya, menimpa talut milik Sukatno. Talut setinggi lima empat meter ini longsor akibat guyuran hujan deras yang turun di awal tahun ini.
Pada Selasa (14/1) pagi, Sukatno terlihat mengamati langit untuk melihat keadaan cuaca. Dia takut cuaca tidak bersahabat sehingga bisa memicu kerusakan talut di samping rumah lebih parah lagi. Namun kebetulan pagi kemarin cuacanya cerah, sehingga ia senang karena untuk sementara longsoran aman dari gerusan air hujan. Untuk antisipasinya, di sekitar longsoran juga sudah ditutup dengan terpal agar air tidak terus menggerus talut yang telah ambrol.
Menurut Sukatno, baik hujan maupun kemarau ada persoalan yang dihadapi warga. Saat kemarau, warga kesulitan mendapatkan air bersih, tapi saat hujan ancaman longsor meningkat karena wilayah Magirejo masuk di kawasan perbukitan. “Ya beginilah kondisinya. Ini sudah ada longsor yang menimpa talut di samping rumah,” katanya kepada Harian Jogja, Selasa kemarin.
Dia menjelaskan ancaman longsor sudah menjadi pandangan yang biasa di musim hujan. Untuk itu, saat hujan turun warga terus waspada terkait dengan ancaman gerusan air hujan yang menyebabkan longsoran. “Ya kalau malam sulit tidur karena waswas akan ada longsor,” ungkapnya.
Meski ada kejadian longsor tetapi hingga kini tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau pun membuat warga mengungsi. “Kami bersyukur longsoran hanya kecil-kecil sehingga kondisinya masih aman,” katanya.
Hanya saja, sambung Sukatno, warga tetap tidak bisa tenang pada saat hujan lebat turun karena potensi longsor semakin meningkat. “Kalau malam, jelas sulit tidur. Apalagi di atas juga ada batu besar yang kondisinya sudah menjorok ke bawah. Takutnya, ambrol dan pasti mengenai rumah warga,” katanya.
Untuk antisipasi longsor, warga Magirejo sudah diberikan sosialisasi tentang penanggulangan bencana. Salah satu upaya mengurangi risiko longsor dilakukan dengan menjaga kondisi perkarangan untuk tidak tergenang. Oleh karenanya, pada saat hujan, warga sering mengecek kondisi di sekitar rumah apakah ada genangan atau tidak. “Ya kalau ada genangan, segera dibuatkan aliaran agar air dapat ke selokan dan tidak tertahan di lokasi yang sama,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dusun Magirejo, Widodo. Menurut dia, dusun sudah rutin menyosialisasikan antisipasi bencana di pertemuan-pertemuan warga. Salah satunya, mengimbau warga untuk menjaga aliran selokan tetap lancar sehingga tidak menimbulkan genangan air.
Menurut dia, genangan ditakutkan dapat memicu terjadinya longsor karena air meresap ke dalam tanah sehingga memicu terjadinya retakan-retakan tanah. “Terus kami sosialisasikan. Kami bersyukur tingkat kesadaran warga baik dan mau menjaga agar selokan atau saluran air tetap lancar alirannya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan di wilayahnya terdapat 205 KK, dari jumlah ini sedikitnya 180-an KK masuk dalam lokasi rawan longsor. “Ya harapannya tetap berhati-hati dan terus waspada, khususnya saat turun hujan deras karena kondisinya di daerah rawan. Sedang untuk pindah ke lokasi lain tidak mungkin karena terkendala kepemilikan lahan,” katanya.
Disinggung mengenai alat deteksi dini longsor, Widodo mengakui sempat ada pemasangan satu early warning system (EWS). Meski demikian, kondisinya telah rusak dan tidak difungsikan karena gesekan angin dan gangguan hewan liar. “Dipasang untuk antisipasi batu besar longsor dari atas bukit. Awalnya berfungsi, tapi sekarang kondisinya mati,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti meminta kelompok Jaga Warga memperkuat kamtibmas, mencegah konflik sosial, narkoba, kenakalan remaja, dan hoaks.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 24 Oktober 2026 tersedia untuk layanan reguler dan Xpress. Simak waktu keberangkatan dan kedatangannya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 24 Oktober 2026 dari Palur tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkap di setiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 24 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Pemda DIY berencana membuka Konsulat Kehormatan Meksiko di Royal Ambarrukmo untuk memperkuat kerja sama pendidikan, seni, dan budaya.
Dua tahun Prabowo-Gibran, pariwisata Indonesia makin merata. Kunjungan wisatawan tumbuh di Danau Toba, Manado-Likupang, dan desa wisata.