MotoGP 2027 Punya 2 Grid, Sprint dan Grand Prix Dipisah
MotoGP 2027 punya dua grid berbeda untuk Sprint dan Grand Prix. Simak jadwal kualifikasi baru hingga penghapusan Warm Up.
Ilustrasi. /Bisnis-Dwi Prasetya
Harianjogja.com, BANTUL - Kian masifnya kegiatan masyarakat menerbangkan layang-layang pada malam hari di kawasan Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS), tepatnya di kawasan Desa Srigading, Sanden hingga Desa Tirtohargo, Kretek, menjadi perhatian khusus bagi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul.
Sebab, selain kerap menimbulkan kemacetan, warga dan wisatawan yang menyaksikan layang-layang dilengkapi lampu warna-warni dan mengeluarkan suara nyaring tersebut juga tidak memerhatikan protokol kesehatan. Banyak warga dan wisatawan tidak mengenakan masker dan berkerumun. Alhasil, potensi kian penularan Covid-19 dari kegiatan ini sangat tinggi.
“Kami sudah mendengar hal tersebut. Rencana kami akan berkoordinasi dengan Pak Bupati, untuk memohon petunjuk dan langkah mengatasinya. Bisa saja kami bubarkan, jika memang menimbulkan kerumunan dan potensi untuk penularan Covid-19,” kata Kepala Satpol PP Bantul Yulius Suharta, Minggu (23/8/2020).
Menurut dia, keputusan untuk membubarkan ini sudah sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) No.79/2020 tentang adaptasi kebiasaan baru penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di wilayahnya. Di mana, Satpol PP Bantul merupakan garda terdepan dalam penegakan aturan di Perbup tersebut.
Baca Juga: Dukung Suharsono-Totok di Pilkada Bantul, PKS Janjikan 70.000 Suara
Oleh karena itu, Yulis menyatakan patroli gabungan akan diintensifkan dengan tujuan agar protokol kesehatan benar-benar dijalankan, terutama di lokasi yang berpotensi mengundang kerumunan atau pelanggaran protokol kesehatan itu sendiri. Ia juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak membuat agenda yang mengundang pelanggaran protokol kesehatan.
“Aturannya sudah jelas. Jika rawan terhadap penyebaran Covid-19, ya kami bubarkan,” terang Yulius.
Kegiatan menerbangkan layang-layang pada malam hari di kawasan JJLS di Bantul sejatinya mulai marak dilakukan sejak awal Juni. Mereka menganggap bermain layang-layang merupakan satu bentuk hiburan yang murah. Tapi, kegiatan ini tidak diikuti dengan penerapan protokol kesehatan dan mengganggu pengguna jalan.
Baca Juga: Kakak Raja Jogja Wafat, Gamelan Kraton Tak Boleh Dibunyikan Selama 3 Hari
Puncaknya seperti yang terjadi pada Sabtu (22/8/2020) malam. Jalan lintas Jawa yang melewati Pantai Samas macet karena banyaknya warga dan wisatawan yang ingin melihat penerbangan layang-layang. Banyak mobil dan sepeda motor yang memenuhi pinggir jalan di sisi timur Jembatan Samas hingga JJLS di Desa Tirtohargo, Kretek. Warga juga enggan menerapkan protokol kesehatan.
Salah satu warga Desa Srigading, Sanden, Tejo, mengaku jika aktivitas menerbangkan layangan biasa dilakukan sejak pukul 18.00 WIB. Semakin malam, jumlah warga yang datang terus bertambah.
“Banyak wisatawan yang lewat juga berhenti untuk menonton layangan dan membuat lalu lintas sedikit tersendat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MotoGP 2027 punya dua grid berbeda untuk Sprint dan Grand Prix. Simak jadwal kualifikasi baru hingga penghapusan Warm Up.
Axelo Nababan dan Vanessa Simorangkir debut layar lebar lewat film musikal Pulang Kampung yang tayang 26 November 2026.
DPAD DIY menyiapkan pengawasan kearsipan BUMD mulai 2027 untuk mendorong tata kelola arsip yang efektif, akuntabel, dan berkelanjutan.
klaim fiktif BPJS Ketenagakerjaan, Renu Arinta Shani, Sri Listiani, Sayoko Adi Nugroho, vonis korupsi BPJS, uang pengganti BPJS Ketenagakerjaan
Penjualan mobil September 2026 turun dari Agustus, tetapi tumbuh 28,1% secara tahunan. Simak data Gaikindo hingga September.
BSU 2026 Rp900.000 menyasar 13,3 juta pekerja. Simak cara cek NIK dan status penerima melalui laman resmi Kemnaker.