Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tak henti-hentinya mempromosikan potensi investasi di wilayahnya kepada para investor baik dalam negeri maupun luar negeri.
SMK Negeri 1 Pleret Bantul menyelenggarakan Deklarasi Sekolah Ramah Anak./Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL - Salah satu upaya untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak adalah terwujudnya Sekolah Ramah Anak atau biasa dikenal dengan SRA. Sekolah Ramah Anak adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak selama anak berada di satuan pendidikan (termasuk tersedianya mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan). Upaya pemenuhan hak anak melalui sekolah perlu dilakukan karena anak menghabiskan waktu selama 8 jam di sekolah, serta kondisi sekolah yang masih rawan terjadi kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, tindakan radikalisme dan proses pendisiplinan yang kurang tepat karena kebijakan sekolah masih berbasis hukuman.
Sebagai komitmen untuk Memenuhi dan Melindungi Hak Anak maka pada Hari Kamis, 10 Desember 2020 pada pukul 09.00 WIB, SMK Negeri 1 Pleret Bantul menyelenggarakan Deklarasi Sekolah Ramah Anak. Acara Deklarasi Sekolah Ramah Anak tersebut dihadiri oleh Ibu Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara Deklarasi Sekolah Ramah Anak tersebut juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Kepala Puskesmas di Wilayah Pleret, Dinsos PPA Kabupaten Bantul, Aparatur Kapanewon, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Pleret, Kepala Sekolah dari sekolah lainnya, Perwakilan Warga Sekolah (Guru, Siswa, Karyawan) serta perwakilan orangtua siswa.
SMK N 1 Pleret mendeklarasikan dirinya sebagai Sekolah Ramah Anak yang mempunyai komitmen memenuhi dan melindungi hak anak, memastikan setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya, dan memastikan setiap anak bebas dari segala bentuk kekerasan maupun vandalisme.
Sekolah Ramah Anak sejatinya bukan membuat bangunan sekolah baru, namun membangun paradigma baru dalam mendidik dan mengajar peserta didik untuk menciptakan generasi baru yang tangguh tanpa kekerasan serta menumbuhkan kepekaan orang dewasa di satuan pendidikan untuk memenuhi dan melindungi peserta didik. Dalam Sekolah Ramah Anak, pengajar menjadi pembimbing, orang tua dan sahabat anak. Selain itu orang dewasa memberikan keteladan dalam keseharian serta memastikan terlibat penuh dalam melindungi anak saat di sekolah.
Diharapkan setelah acara Deklarasi Sekolah Ramah Anak, SMK Negeri 1 Pleret Bantul mampu memberikan yang terbaik bagi kepentingan anak, menghilangkan segala bentuk diskriminasi, menjamin hak partisipasi anak sehingga siswa terlibat aktif dalam setiap pengambilan kebijakan serta mampu menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak didiknya.
Dengan terwujudnya SRA, kebijakan sekolah berbasis hukuman akan digantikan dengan penerapan disiplin positif, yang merupakan upaya perubahan perilaku tanpa menyakiti, namun dapat mempertahankan norma-norma dan otoritas tanpa kekerasan serta merendahkan harkat dan martabat anak.
Harapan kami dengan Deklarasi Sekolah Ramah Anak yang dilaksanakan oleh SMK N 1 Pleret Bantul dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak demi terwujudnya Indonesia Layak Anak. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tak henti-hentinya mempromosikan potensi investasi di wilayahnya kepada para investor baik dalam negeri maupun luar negeri.
JAECOO telah mengirimkan 16.000 unit J5 EV ke konsumen Indonesia. SUV listrik ini dibanderol mulai Rp279,9 juta.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM
Lima pendaki tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Maros. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya selamat.
Pemkab Sleman bekerja sama dengan 34 perguruan tinggi DIY untuk memperluas akses pendidikan melalui Beasiswa Sleman Pintar 2026.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp81.300 per kg berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia, Senin (25/5/2026)