Sembuh atau Berdamai? Cara Baru Memahami Penyakit Kronik
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Kelompok kesenian jatilan menghibur warga dan wisatawan di kawasan wisata Gua Selarong, Minggu (15/4/2018)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, JOGJA-- Penyelenggaraan event di DIY merupakan upaya menggerakkan perekomian masyarakat, termasuk di masa pandemi Covid-19 saat ini. Dengan dampak ekonomi yang meluas, penyelenggaraan event dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat, bisa sedikit demi sedikit menghidupi para penyelenggara event yang sudah lama vakum sekitar setahun.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Marlina Handayani mengatakan penyesuaian menjadi salah satu keharusan menggelar event di masa seperti ini. Dengan persiapan yang matang dan prokes yang ketat, event bisa menggerakkan ekonomi di berbagai sektor. Tahun 2020, lebih dari 400 event di DIY batal terselenggara. Tahun ini, ada 71 event, baik dari pemerintah daerah, asosiasi, komunitas, maupun Kraton Jogja.
“Kebetulan di masa pandemi ini lebih banyak di kegiatan budaya. Karena ada dan tidak ada pendemi tetap diselenggarakan. Event tersebut penyelenggaraannya secara meminimalisir adanya kerumunan. Misalnya grebeg, tetap ada, tapi tidak ada arak-arakan, seremonial murni itu ada,” kata Marlina dalam diksusi daring oleh Dispar DIY bertema kalender of Event Pariwisata Jogja Tahun 2021 pada Minggu (21/3/2021).
Perencanaan penyelengaraan event juga bertujuan membranding Jogja, sebagai tempat yang masih memiliki potensi festival budaya yang bisa dinikmati. Target pasar tahun ini masih wisatawan domestik, belum akan fokus pada wisatawan mancanegara. “Balancing kegiatan peningkatan perekonomian dan prokes tetap harus diterapkan,” kata Marlina.
Menurut Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY Nurcholis Suharman, dari sisi penggerak ekonomi, penyelenggaraan event berdampak bagus. Salah satu yang terdampak baik seperti Usaha Kecil Menengah.
“Persyaratan bebas Covid-19 pakai swab antigen [untuk peserta event], saya rasa teman-teman event organizer tidak keberatan. Harus seimbang, jangan sampai event ini menjadi klaster baru,” kata Nurcholis.
Dengan berbagai penerapan prokes, biaya penyelenggaraan event bisa jadi lebih tinggi daripada kondisi normal. Namun ini konsekuensi yang memang harus dilaksanakan. Jogja sebagai daerah yang mengandalkan pariwisata dan pendidikan perlu berupaya berbenah dari segala sisi. “Sedikit demi sedikit sembari terus evaluasi. Tanpa evaluasi, nanti kebablasan juga tidak baik,” kata Nurcholis.
Board of Jogja Festival Forum, Ajie Wartono, mengatakan pandemi Covid-19 mengajarkan banyak hal, termasuk pemanfaatan teknologi yang selama ini sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pandemi, penyelenggara event semakin sadar potensi acara daring yang bisa lebih luas gemanya.
BACA JUGA: Kisah Horor Pendaki Gunung Gede Dipeluk Sosok Raksasa Hitam Berbulu
Meskipun tetap saja ada event yang perlu berinteraksi langsung dengan penontonnya. “Tetap ada event yang memang harus berinteraksi secara langsung, seperti musik, seni rupa dan lainnya. Apabila melihat langsung, energinya lebih sampai,” kata Ajie.
Penyesuaian event di masa pandemi telah beberapa kali terselenggara. Beberapa di antaranya Custom Fest, Artjog, dan lainnya. Menurut Ajie, masyarakat Jogja merupakan orang yang bisa bertahan dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Dalam hal event, lima orang berkumpul saja bisa menjadi sebuah event. Hal ini membuat Jogja memiliki banyak event baik komersil maupun non komersil.
Event komersil memiliki dampak pada perekonomian di sektor-sektor yang teribat. Sementara event non komersil memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan kebudayaan, kesenian, dan periwisata Jogja. “Dengan begitu ada keseimbangan,” kata Ajie. “Mereka saling bersinergi dan saling mendukung.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Makna sehat kini bergeser. Tak selalu sembuh total, penyakit kronik menuntut adaptasi dan cara hidup baru.
Penjualan tiket KAI tembus 1,21 juta saat long weekend Iduladha 2026. Rute Jakarta–Jogja jadi favorit, mobilitas melonjak tajam.
Bandara Soekarno-Hatta mencatat 104.150 penumpang selama libur Iduladha 2026. Terminal 3 menjadi penyumbang trafik terbesar.
Arab Saudi menyatakan penyelenggaraan Haji 2026 sukses dengan 1,7 juta jamaah dan dukungan sistem keamanan serta layanan terintegrasi.
Wisata PG Madukismo Bantul menawarkan pengalaman naik kereta diesel klasik dan melihat langsung proses produksi gula saat musim giling tebu.
Progres pembangunan Jalan Kompleks Yudikatif IKN mencapai 19,35 persen, melampaui target dan ditopang berbagai inovasi konstruksi dari WIKA.