Lonjakan Pemudik Lebaran Terlihat di Bandara YIA
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Wakil Bupati Kulonprogo Fajar Gegana saat melakukan penanaman pohon sekitar mata air di Pendopo Embung Krapyak, Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo, pada Jumat (10/12/2021)/Harian Jogja-Hafit Yudi Suprobo
Harianjogja.com, KULONPROGO--Penanaman pohon di wilayah sekitar sumber mata air menjadi perhatian Pemkab Kulonprogo. Hal itu dilakukan untuk konservasi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat agar keberadaan mata air tidak punah.
Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana, mengatakan pemanfaatan sumber mata air diharapkan selaras dengan upaya yang dilakukan baik oleh Pemkab Kulonprogo maupun masyarakat yang berada di sekitar sumber mata air.
"Sebagai upaya konservasi sumber mata air, Pemkab mengadakan penanaman pohon sekitar mata air sebanyak 1.040 pohon senilai sekitar Rp100 juta yang dibiayai oleh APBD perubahan Kulonprogo melalui Dinas Lingkungan Hidup Kulonprogo," kata Fajar saat penanaman pohon sekitar mata air di Pendopo Embung Krapyak, kalurahan Banjaroyo, kapanewon Kalibawang, Kulonprogo, pada Jumat (10/12/2021).
Dikatakan Fajar, ribuan pohon tersebut didistribusikan ke lima kelompok tani hutan yaitu Embung Krapyak, Manunggal Raos, Wana Rahayu, Mudi Lestari, Wana Menorah Subur. Upaya bantuan konservasi juga berasal dari Perumda Air Tirta Binangun senilai 15 juta untuk bantuan biaya pembelian pohon, penanaman pohon, serta pupuk.
BACA JUGA: 20.000 Kursi Stadion JIS Telah Terpasang
"Saya berharap agar kita semua sebagai masyarakat Kulonprogo ikut aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air. Salah satunya dengan gerakan menanam pohon di sekitar mata air yang keberadaannya sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia,” ujar Fajar.
Kelompok Tani Hutan Embung Krapyak, Banjaroyo, Sudarno, mengatakan keberadaan sumber mata air di wilayah setempat perlu dilestarikan. Pasalnya, sekali waktu khususnya saat kemarau sumber mata air bisa surut.
“Posisi kami berada di atas Sungai Progo, tetapi tidak pernah menikmatinya [air dari kali Progo]. Pada saat musim kemarau, Embung Krapyak ini sering mengalami surut air bahkan sampai debit air tinggal setengah bahkan hampir habis,” kata Sudarno.
Dikatakan Sudarno, Embung Krapyak adalah tempat bersama antara warga, penyuluh, dan Kelompok Tani Hutan untuk bersama berusaha sekuat tenaga melestarikan sumber daya air agar bisa dinikmati hingga anak cucu.
"Embung Krapyak berada di dua pedukuhan dan pengurusnya juga dari dua pedukuhan. Dengan adanya penanaman pohon ini diharapkan mampu berdampak terhadap keberlangsungan sumber mata air," ungkap Sudarno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Perbukitan Menoreh Kulonprogo disiapkan jadi pusat wellness tourism. Sungai Mudal siap, namun akses jalan masih jadi kendala utama.
James Cameron ungkap rencana Avatar 4 dan 5 dengan teknologi baru agar produksi lebih cepat dan biaya lebih efisien.
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Studi global ungkap penurunan oksigen di sungai akibat pemanasan iklim. Sungai tropis paling terdampak, ancam ekosistem air tawar.
Sapi Mbah Iran milik peternak Bantul terpilih jadi hewan kurban Presiden Prabowo dengan harga Rp90 juta.