Bus Sekolah Gunungkidul Kembali Normal, Ada Tambahan Rp270 Juta
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Ilustrasi warga sedang melintas di crossway di aliran Kali Oya di Kalurahan Pundungsari, Semin, Jumat (16/6/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jejak purba di Daerah Aliran Sungai Oya di Gunungkidul masih membutuhkan penelitian yang mendalam. Meski demikian, berdasarkan kajian awal diketahui keberadannya masuk budaya Pacitanian.
Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indah Asikin Nurani mengatakan sudah melakukan beberapa kali penelitian tentang jejak purba di Kali Oya. Sejumlah artefak telah ditemukan mulai dari kapak perimbas, kapak penetak hingga alat serut yang terbuat dari batu.
“Ada juga bahan-bahan batu yang membuat kapak ini yang ditemukan di aliran Kali Oya,” kata Indah, Jumat (23/6/2023).
Indah menekankan, temuan-temuan yang berhasil didapatkan belum bisa mengungkap secara menyeluruh berkaitan dengan jejak purba di Kali Oya Gunungkidul. Hal ini dikarenakan belum ada temuan fosil yang in situ seperti manusia maupun fauna yang sama sekali tidak ditemukan.
“Temuan alat-alat batu sangat banyak. Tapi, tinggalan organik dalam hal ini fosil-fosil manusia maupn fauna sama sekali tidak ditemukan. Jadi, untuk mengungkapnya butuh penelitian yang lebih tajam [mendalam],” katanya.
Baca juga: Ujian SIM Dipermasalahkan, Korlantas Akan Studi Banding ke Luar Negeri
Berdasarkan temuan ini, Indah berkesimpulan bahwa jejak purba di Kali Oya masuk budaya Pacitanian atau Pacitan. Secara garis besar, Pulau Jawa di zaman Pleistosen terbagi tiga bagian. Zona selatan dikenal dengan budaya Pacitan, peninggalanya berupa kapak perimbas dan penetak.
Zona tengah di Sangiran yang terkenal dengan peninggalan manusia purba dan zona utara di kawasan Patiayam, Kudus dengan peninggalan stegodon atau gajah purba.
Indah menambahkan, Arkeolog Belanda, Von Koenigswald melakukan penelitian di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah menduga keberadaan bahan baku alat pembuatan kapak perimbas dan penetak berada di daerah ketinggian. Identifikasi ini mengarah ke pegunungan-pegunungan di daerah selatan.
Setelah melakukan penelitian secara mendalam, Koenigswald akhirnya menemukan peralatan ini di Sungai Baksoka di Pacitan, Jawa Timur. Menurut Indah, Sungai Baksoka dengan Kali Oya masih ada keterkaitan dalam satu kebudayaan yang dikenal dengan Budaya Pacitanian.
“Peninggalannya sama berupa teknologi pembuatan kapak,” katanya.
Penelitian Berlangsung Lama
Arkeolog Agus Tri Hascaryo seperti dikutip dalam akun Youtube milik Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY dengan judul Jejak Manusia Purba di Sungai Oyo mengatakan, penelitian di Kali Oya sudah berlangsung sejak lama dikarenakan di era 60an, peneliti Belanda melakukannya.
Meski demikian, saat itu belum ada yang ditemukan karena temuan baru ada di era 1990an. “Penelitian lanjutan ini akhirnya menemukan artefak berupa alat batu di Sungai Oyo bagian tengah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Jennifer Hubner disorot netizen Malaysia setelah komentarnya soal permainan Timnas Malaysia. Polemik kemudian melebar ke persoalan keluarga.
Prancis ditahan Italia 1-1 di Stade de France. Zidane tetap puas meski Les Bleus gagal mempertahankan catatan sempurna di Nations League.
Veda Ega Pratama jatuh di Q2 Moto3 Jepang dan harus start ke-18. David Almansa merebut pole position di Sirkuit Motegi.
PSS Sleman menggelar latihan 11 lawan 11 dengan wasit di Stadion Maguwoharjo untuk menjaga ritme permainan selama jeda internasional.
Harga mobil LCGC Oktober 2026 mulai Rp141 jutaan. Simak harga Ayla, Sigra, Agya, Calya, dan Brio Satya.