Akhir Badai Anggrek Kulonprogo, Sebabkan 91 Insiden Bencana, Warga Minta Pembangunan Talut
Suasana evakuasi pohon tumbang akibat Badai Anggrek di Jl. Mergosari-Kepek, Kalurahan Pengasih yang sempat menutup akses jalan pada Senin (22/1/2023).
Harianjogja.com, KULONPROGO—Badai Anggrek di Bumi Binangun diprediksi rampung pada Rabu (24/1/2023). Selama sepekan Badai Anggrek terjadi 91 insiden kebencanaan di Kulonprogo.
Prediksi rampungnya Badai Anggrek ini disampaikan BPBD Kulonprogo yang menggunakan prakiraan BMKG DIY. Meskipun sudah rampung, BPBD meminta masyarakat untuk tetap waspada karena hujan dengan intensitas tinggi kemungkinan akan terjadi di Bumi Binangun.
Data BPBD Kulonprogo mencatat 91 insiden kebencanaan itu paling banyak terjadi tanah longsor dan pohon tumbang. Dimana pada Selasa (23/1/2023) hingga Rabu sore ini terdapat 13 insiden. "Sebelumnya ada 78 kejadian, lalu hari ini sama kemarin tambah 13 kejadian," kata Kepala BPBD Kulonprogo Taufik Prihadi, Rabu sore.
Insiden kebencanaan selama Badai Anggrek, jelas Taufik, paling banyak terjadi di Samigaluh, Girimulyo, dan Kokap. "Karena geografisnya pegunungan dimana ada hujan lebat disertai angin kencang selama Badai Anggrek kemarin, sehingga banyak kejadiannya di sana," jelasnya.
Baca Juga
Imbas Badai Anggrek, 10 Padukuhan di Kulonprogo Mati Listrik Lima Hari
Badai Tropis Anggrek, Kunjungan Wisata di Gunungkidul Anjlok 30 Persen
Penjelasan Lengkap Badai Anggrek, Siklon Tropis Penyebab Hujan Berhari-hari
Penanganan dan evakuasi BPBD Kulonprogo, lanjut Taufik, sudah dilakukan selama Badai Anggrek itu. "Infonya dari relawan, Tagana, TRC, dan personil kami yang menangani semuanya sudah berhasil dievakuasi dengan baik, termasuk tanah longsor yang menutup akses jalan," ungkapnya.
Tantangan evakuasi dan penanganan kebencanaan selama Badai Anggrek, menurut Taufik, terjadi pada tanah longsor. "Sebagian tanah longsor tidak dapat dievakuasi secara manual, perlu alat berat, tapi semuanya sudah tertangani dengan baik," tuturnya.
Salah satu yang sudah dievakuasi oleh BPBD Kulonprogo itu adalah tanah longsor di Pulepayung, Kapanewon Kokap. Butuh dua hari evakuasi untuk membuka jalan yang tertimbun tanah longsor menuju kawasan wisata itu.
Tanah longsor terjadi di Pulepayung pada Minggu (21/1/2023), lalu terbuka akses jalannya sehari berselang pada Senin (22/1/2023). "Tidak bisa manual kemarin, perlu alat berat, lalu bisa ditangani," kata Kepala Dukuh Kalibiru, Mariko Tri Nugroho pada Selasa (23/1/2023).
Mariko menyebut tebing yang mengalami longsor tingginya 15 meter, sedangkan talut yang menopang tebing tersebut tingginya hanya sekitar dua meter. "Sebenarnya masih berpotensi longsor lagi, karena tebing sangat curam, lalu samping tebing itu jalan yang kemarin tertimbun, sangat mepet sekali," ujarnya.
Potensi longsor susulan di Pulepayung, menurut Mariko, dapat diantisipasi dengan meninggikan talut yang ada. "Longsor kemarin talut tetap kokoh, tapi karena tidak cukup tinggi menghadang longsoran jadi kejadian longsor itu. Sehingga kami berharap ada pembangunan talut dengan mempertinggikan lagi," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share