Di Balik Kantong Darah untuk Pasien, Ada Peran Teknisi Pelayanan Darah
Profesi teknisi pelayanan darah masih belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, tenaga inilah yang bertanggung jawab memastikan setiap kantong darah aman
Peserta peserta Trip Wisata Pameran Arsip 2024 "Napak Tilas 18 Tahun Gempa Yogyakarta 2006" Angkatan II Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY saat mengunjungi Rumah Domes' yang terletak di Desa Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Senin (10/6/2024)/ Harian Jogja-Jumali
"Sekilas mirip rumah teletubbies," celetuk, Irfan saat mengunjungi 'Rumah Domes' yang terletak di Desa Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Senin (10/6/2024).
Irfan mengunjungi rumah kubah layaknya rumah Iglo Suku Eskimo itu tidak sendiri. Ia bersama dengan 24 orang yang tergabung dalam peserta Trip Wisata Pameran Arsip 2024 "Napak Tilas 18 Tahun Gempa Yogyakarta 2006" Angkatan II Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.
BACA JUGA: PENDIDIKAN LITERASI Bedah Buku DPAD DIY Telah Menyasar Ribuan Warga di DIY
"Ini pertama kali saya kesini dan lihat langsung. Ternyata, seperti ini bentuk Rumah Domes, rumah tahan gempa," terang Irfan.
Warga Kebumen, Jawa Tengah ini sengaja mendaftar sebagai peserta Trip Wisata Pameran Arsip 2024, karena ingin mengetahui lebih lanjut terkait dengan Gempa Yogyakarta 2006. Apalagi, saat terjadi gempa, dirinya baru berumur 2 tahun dan tidak mengalaminya.
"Saya pernah dengar katanya dampaknya luar biasa. Makanya, begitu ada pengumuman trip wisata, saya langsung mendaftar lewat DM Instagram. Apalagi, gratis," imbuhnya.
Setelah mendaftar, Irfan kemudian dihubungi oleh pihak DPAD DIY. Ia diminta datang pada Senin (10/6/2024) pagi sekitar pukul 07.30 WIB di Kantor DPAD DIY. Disana, Irfan berkumpul dengan para peserta trip lainnya yang telah bersiap mengikuti perjalanan.
Rangkaian trip sendiri diawali dengan doa bersama dan pesan dari Kepala DPAD DIY Kurniawan. Dalam pesannya, Kurniawan berharap agar peserta trip tidak hanya mendapatkan pengetahuan tapi juga mampu menyebarluaskan terkait dengan yang mereka lakukan di trip kali ini.
"Karena rangkaian kami tidak hanya memamerkan foto-foto Gempa 2006, tapi juga ada trip dengan harapan informasi yang ada bisa disebarluaskan," terang Kurniawan.
Kurniawan juga berharap dengan kegiatan tersebut, sebagai media pembelajaran agar ke depan mitigasi bencana bisa dilakukan. "Kami tentu juga berharap agar peserta bisa sampaikan hal lain, tidak hanya perihal wisata arsip," terang Kurniawan.
Usai pembukaan, peserta trip kemudian mendapatkan penjelasan dari petugas DPAD DIY, Murjono. Ia lebih banyak memberikan pemahaman mengenai foto-foto yang ditampilkan pada pameran DPAD DIY. Ada tujuh kategori foto yang ditampilkan, mulai dari informasi kegempaan, kerusakan, korban, pengungsian, bantuan, relawan dan Jogja Bangkit. Adapun total foto atau arsip yang dicetak dan dipamerkan sebanyak 33 buah.
Setelah mendapatkan penjelasan, para peserta trip kemudian masuk bus dan diantar ke 'Rumah Domes' yang terletak di Desa Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman. Di sana ada 80 rumah domes yang dihuni 71 warga dan 9 rumah yang digunakan untuk fasilitas umum.
"Rumah ini tidak dilengkapi dengan kamar mandi. Biasanya 1 blok berisi satu kamar mandi," kata Aan Antomi, tour guide lokal saat memberikan penjelasan kepada kelompok trip.
Menurut Aan, saat peristiwa gempa, di tempat itu ada sekitar 2 RT yang kehilangan rumah. Rumah itu dibangun atas inisiasi Domes for The World Foundation (DFTW) akibat gempa bumi 27 Mei 2006.
DFTW merupakan sebuah organisasi nonprofit asal Texas, Amerika Serikat. Rumah-rumah tersebut dibangun oleh DFTW yang bekerja sama dengan World Association of The Non-Governmental Organizations (WANGO).
"Setiap rumah domes dibangun di atas lahan seluas 38 meter persegi. Ada dua pintu, yakni depan dan belakang. Ada empat jendela yang terletak di kamar tidur dan fasad rumah. Lalu di puncak itu, ada ventilasi udara di bagian puncak dan saluran air di dapur," ungkap Aan.
Karena tidak adanya sambungan yang jadi titik lemah, lanjut Aan, maka rumah domes tahan gempa. Selain itu, rumah domes juga mampu menahan terpaan angin kencang. "Karena bentuknya maka aman dari serangan angin. Kalau soal gempa, warga yang menghuni tidak merasakan, karena memang dirancang tahan gempa," ucapnya.
Selesai menjelajah rumah domes, para peserta trip kemudian diajak ke Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi di Kaliurang, Hargobinangun, Sleman. Di sana, para peserta mendapatkan penjelasan dari mantan Ketua Harian Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut.
Sarwidi lebih banyak menerangkan mengenai awal mula berdirinya museum gempa. Di mana, gagasan pendirian museum muncul di Universitas Islam Indonesia dengan difasilitasi Center For Earthquake Engineering and Dynamic Effect and Disaster Studies UII. Museum ini memiliki konsep Dynamics Museum and Gallery dan wisata edukasi dengan bangunan ukuran 6x10 meter dan tahan gempa atau dengan nama lain "Barratagana".
"Harapannya, yang datang kesini mendapat ilmu tambahan mengenai kegempaan dan resiko bencana yang ada," katanya.
Setelah melihat koleksi museum berupa Barratagana (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) ciptaan Prof. Dr. Sarwidi, dan alat simulasi gempa serta miniatur bangunan tahan gempa, para peserta juga disuguhkan, pemutaran film mengenai gempa. Usai pemutaran film, para peserta kemudian kembali menuju ke Kantor DPAD DIY sebagai pertanda diakhirinya serangkaian acara Trip Wisata Pameran Arsip 2024 .
"Rasanya senang. Kami bisa dapat banyak ilmu disini. Ternyata memang kita harus siap dan banyak belajar mengenai mitigasi bencana," kata Fiella, peserta trip wisata asal Kota Jogja. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Profesi teknisi pelayanan darah masih belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, tenaga inilah yang bertanggung jawab memastikan setiap kantong darah aman
AS melarang impor robot humanoid dan inverter baru asal Tiongkok demi melindungi keamanan nasional serta infrastruktur AI domestik.
Jadwal salat Jogja Rabu 29 Juli 2026 untuk Kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul berdasarkan Kemenag.
Kasus ISPA di Bantul masih mencapai ribuan hingga Juni 2026. Dinkes mengimbau warga menerapkan PHBS dan memakai masker saat musim kemarau.
Sosiolog UGM menilai dugaan siswa membawa bom rakitan ke sekolah menjadi alarm bagi sistem pendidikan dan pentingnya budaya dialog dengan anak.
Cek jadwal terbaru KRL Jogja-Solo hari ini, Rabu 29 Juli 2026. Keberangkatan dari Stasiun Tugu hingga Palur mulai pagi hingga malam.