Kunjungan Wisata ke Jogja Harus Membawa Manfaat bagi Warga Sekitar
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas pentingnya pariwisata berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal serta mendorong budaya membaca.
Narasumber menyampaikan materi dalam agenda bedah buku berjudul Deadline Your Life yang digelar DPAD DIY bekerja sama dengan DPRD DIY di Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kamis (25/7/2024)./Yosef Leon
JOGJA—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY terus mengupayakan agar minat baca masyarakat di Bumi Mataram terus meningkat melalui program bedah buku.
Pada Kamis (25/7/2024), agenda bedah buku digelar di Pendopo Tamansari, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Jogja.
Puluhan warga Patehan antusias mengikuti program pendidikan literasi ini. Bedah buku berjudul Deadline Your Life menghadirkan sejumlah narasumber dari DPRD DIY, DPAD DIY, dan penulis buku, Solikhin Abu Izzuddin.
Setelah pemaparan dari masing-masing narasumber, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi.
Kepala Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Informasi DPAD DIY, Rahmat Sutopo menjelaskan program bedah buku merupakan bentuk kerja sama DPAD dan DPRD DIY dengan tujuan mengajak masyarakat gemar membaca.
Warga diminta aktif membaca informasi dari buku secara langsung meskipun akses informasi dan pengetahuan sekarang bisa diperoleh dari mana saja. "Meskipun DIY menurut data Perpustakaan Nasional [Perpusnas] 2023 penduduknya paling gemar membaca se-Indonesia dengan skor 73,27 poin, tetapi kami akan terus mengupayakan agar prestasi ini terus dipertahankan atau meningkat di tahun ini lewat bedah buku," katanya.
Rahmat menerangkan, di era teknologi informasi seperti sekarang, masyarakat tidak perlu lagi datang ke perpustakaan untuk mengakses layanan peminjaman buku.
Seperti inovasi yang dijalankan DPAD DIY melalui aplikasi E-Jogja, warga bisa mengakses ribuan judul buku hanya lewat gawai. Mereka hanya perlu mengunduh dan daftar pada aplikasi itu untuk meminjam koleksi buku digital di DPAD DIY. "Dengan membaca buku, maka akan banyak informasi dan pengetahuan sehingga masyarakat tidak gampang terpengaruh dengan informasi palsu," katanya.
Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, mengatakan program bedah buku merupakan usulan kegiatan yang diserap dari aspirasi masyarakat sehingga terus digalakkan untuk mempertahankan minat baca agar semakin optimal di semua segmen, baik ibu-ibu, bapak-bapak, maupun generasi muda dan warga lansia.
"Pemerintah lewat program ini hanya memberikan rangsangan dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Ini menjadi bentuk motivasi bahwa masyarakat harus akrab dengan buku," ujarnya.
Menurut Syafi'i, fenomena sekarang masyarakat lebih gemar membaca gawai atau media sosial, dan kurang tertarik untuk membaca buku.
Padahal, buku menyimpan informasi dan pengetahuan yang luas untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, warga juga bisa menikmati fasilitas perpustakaan yang disediakan pemerintah daerah untuk hal yang positif.
"Seperti DPAD DIY yang punya beragam koleksi, layanan dan wahana atraksi di gedung mereka. Itu bisa diakses masyarakat berbagai elemen karena di sana tidak hanya ada koleksi buku tapi juga ada informasi tentang Jogja dalam berbagai bentuk, baik itu video, diorama dan sebagainya," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas pentingnya pariwisata berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal serta mendorong budaya membaca.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.
Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia dinilai berpotensi masuk kategori risiko tinggi PP Tunas seperti Lazada dan Blibli.
Lomba Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3 diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah dan mengangkat pelestarian budaya serta satwa.