Pemkot Yogyakarta Matangkan Substansi Pengajuan UNESCO World Book Capital 2028
Pemkot Yogyakarta mematangkan pengajuan UNESCO World Book Capital 2028 melalui konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem buku dan literasi.
Lakon ketoprak Peri Lo dipentaskan di Pasar Kuliner Logandeng, Playen, Gunungkidul, Kamis (12/9/2024)./Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY menggelar Pentas Kethoprak Tobong dengan lakon Peri Lo di Pasar Kuliner Logandeng, Playen, Gunungkidul, Kamis (12/9/2024) pukul 20.00 WIB. Pentas ini merupakan upaya DPRD DIY untuk mendekatkan diri ke masyarakat.
Ketua Sementara DPRD DIY, Nuryadi mengatakan Kethoprak menjadi sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan sekaligus menjadi ruang yang memisahkan sekat. Baik rakyat maupun wakil rakyat melebur menjadi satu di atas panggung.
Pentas ketoprak, kata dia, juga menjadi upaya Dewan mendekatkan lembaga legislatif kepada masyarakat. Sebenarnya ada banyak cara untuk mendekatkan lembaga Dewan ke masyarakat, tidak hanya ketoprak. Namun, Nuryadi memilih ketoprak karena masyarakat dapat berkumpul dan ikut menonton. “Ketoprak jadi salah satu cara agar Dewan bersinergi langsung dengan masyarakat,” kata Nuryadi ditemui di Pasar Kuliner Logandeng, Kamis.
Nuryadi mengaku pemain pentas ketoprak tersebut juga berasal dari DPRD Kabupaten Gunungkidul. Inilah yang ia maksudkan bahwa pentas tersebut dapat meleburkan kelompok-kelompok atau lembaga.
Ide membawa pentas ketoprak sebagai ruang bersama tercetus 10 tahun lalu, ketika Nuryadi menjadi Ketua Komisi D. Kantor Dewan pun berubah menjadi kantor rakyat.
Sementara itu, Penulis Naskah dan Sutradara Kethoprak, Nano Asmorodono mengatakan lakon Peri Lo diangkat dari sejarah lokal kalurahan, babat.
Sekitar 1890, Adipati Redi Kidul bernama Raden Tumenggung Cakranagara meminta seseorang untuk membabat alas/ hutan lo sebagai upaya memperluas wilayah. Hutan ini dijaga oleh Peri Rara Kuning. Maka terjadi kesepakatan untuk membabat.
Hanya, dua Pohon Lo yang gandeng dan tidak bisa tebang. Pohon inilah yang menjadi cikal bakal nama Logandeng. “Pemainnya ada juga dari lurah, ketua sementara DPRD Gunungkidul, dan wakilnya,” kata Nano.
Nano mengaku para pemain akan menyelipkan pesan sosialisasi kepada masyarakat. Pesan tersebut lebih kepada bagaimana rakyat dan wakil rakyat dapat bersatu di tengah persoalan yang terjadi sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Yogyakarta mematangkan pengajuan UNESCO World Book Capital 2028 melalui konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem buku dan literasi.
Kulonprogo mengintegrasikan data pernikahan dan adminduk melalui Kado Nikah serta Bela Akta Pro untuk mempercepat layanan dokumen warga.
Tiga pos Damkar Sleman sudah berdiri, tetapi Pos Damkar Prambanan belum beroperasi karena terkendala SDM dan sarana prasarana.
Veda Ega Pratama menempati posisi kedelapan sesi latihan Moto3 Jepang di Sirkuit Motegi dengan catatan waktu 1 menit 55,597 detik.
Kejagung mengungkap dugaan peran Budi Utomo dalam pengadaan motor listrik MBG. Dari rencana 21.000 unit, hanya 2.117 unit terealisasi.
Rocky Gerung menjelaskan alasannya bergabung sebagai Wantimpres Prabowo dan menegaskan sikap kritisnya terhadap arah kebijakan pemerintah.