Komisi B DPRD Kota Jogja Minta Target Pendapatan 2027 Realistis
Komisi B DPRD Kota Jogja Soroti Penurunan Pendapatan Taman Budaya, Target 2027 Diminta Realistis
Ilustrasi beras impor - ist/Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, BANTUL—Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Profesor Gunawan Budiyanto menilai kebijakan pangan di Indonesia banyak dipengaruhi oleh keputusan politik. Hal itu dinilai berpengaruh pada ketahanan pangan di dalam negeri.
“Selama ini petani masih kurang dibimbing untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan maksimal. Namun, yang terjadi saat ini pangan di Indonesia banyak dipengaruhi oleh keputusan politik, sehingga kebijakannya selalu berkaitan dengan impor. Kegiatan impor ini tentu saja hanya menguntungkan beberapa pihak saja,” kata Gunawan di Sportorium UMY pada Senin (23/9/2024).
Kebijakan impor dan ekspor pangan di Indonesia memberikan pengaruh yang signifikan pada ketahanan pangan. Hal itu antara lain berpengaruh dalam aspek ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.
Menurutnya, selama ini pembinaan yang diberikan kepada petani masih terbatas. Pemerintah perlu memberikan wadah yang tepat agar petani di Indonesia mampu meningkatkan kualitasnya.
Gunawan menuturkan, menilik balik pada kejadian pada tahun 1998 dan saat pandemi Covid-19, menurutnya petani di Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik. Hal tersebut terlihat dari upaya perubahan sistem ekonomi yang dilakukan petani menjadi barter di beberapa wilayah dalam masa tersebut. Akan tetapi, menurutnya, saat ini ada banyak kebijakan politik yang turut campur tangan terhadap kebijakan pangan di dalam negeri.
Pemerintah perlu melakukan pembentukan kelompok tani dan Koperasi Unit Desa (KUD) seperti pada saat orde baru. Menurutnya, KUD pada saat saat orde baru mampu memerdekakan petani secara ekonomi, sehingga para petani dapat merancang proses budidaya tanaman yang ingin dilakukan. Hal itu menurutnya akan mendukung ketahanan pangan dalam negeri.
Dosen Program Studi Agribisnis UMY, Oki Wijaya menilai impor dan ekspor produk pangan memberikan manfaat. Meski begitu, dampak kebijakan impor dan ekspor dengan ketahanan pangan dalam negeri perlu dikaji lebih lanjut.
“Hal ini agar impor yang dilakukan tidak menimbulkan excess supply (situasi dimana jumlah barang yang ditawarkan lebih besar dari jumlah permintaan). Sebab ini akan berdampak pada jatuhnya harga pangan di bawah harga pasar sehingga dapat merugikan petani sebagai produsen,” katanya.
Terkait impor beras, Oki menilai pemerintah Indonesia belum melaksanakan impor sebagaimana mestinya. Hal tersebut menurutnya terlihat dengan adanya kelebihan cadangan pangan yang pernah terjadi yang justru menyebabkan kelebihan biaya penyimpanan yang ditanggung Bulog.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komisi B DPRD Kota Jogja Soroti Penurunan Pendapatan Taman Budaya, Target 2027 Diminta Realistis
Romelu Lukaku resmi bergabung dengan Fenerbahce dari Napoli dengan nilai transfer 6 juta euro. Striker Belgia itu kembali ke Turki setelah 30 tahun
KLH/BPLH menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah karhutla di te
LPEM FEB UI mengungkap lima jurusan kuliah yang paling banyak menyumbang pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Manajemen berada di posisi teratas, disusul Hukum
Hujan meteor Perseid masih dapat disaksikan dari Indonesia pada 13-14 Agustus 2026. Simak waktu terbaik, cara mengamati, dan lokasi ideal untuk melihat meteor.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026