Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Bersama Holding Ultra Mikro BRI
Asra menjaga tradisi sulam kasab Aceh selama lebih dari tiga dekade. Dukungan PNM Mekaar membantu mengembangkan usaha dan memberdayakan warga sekitar.
Anggota DPRD DIY, Raden Stevanus Christian Handoko./ist
Harianjogja.com, JOGJA—Donald Trump telah menerapkan ketentuan tarif resiprokal untuk impor terhadap produk asing. Kebijakan ini bisa memicu efek domino ke banyak negara, termasuk Indonesia. DIY pun harus merepons ini dengan memperkuat produk ekspornya.
Anggota DPRD DIY, Raden Stevanus Christian Handoko, menjelaskan kebijakan Trump adalah sinyal langsung bahwa kita harus memperkuat fondasi ekonomi lokal, termasuk di DIY. Pasar global makin tak pasti. Dalam ketidakpastian seperti inilah, daerah harus justru bergerak lebih strategis.
“Amerika Serikat adalah negara tujuan ekspor terbesar DIY. Data dari Badan Pusat Statistik DIY mencatat bahwa pada Januari 2025, ekspor DIY ke AS mencapai US$17,43 juta atau 40,2 persen dari total ekspor DIY. Produk UMKM, industri kreatif seperti barang kulit, fashion, kerajinan tangan, produk kertas dan kemasan, rajutan dan tekstil lokal”, ujarnya, Selasa (8/4/2025).
Ia melihat gejolak global ini justru membuka peluang baru. Tapi hanya jika kita mampu menyusun langkah-langkah taktis.
“Ketika biaya logistik internasional naik dan hambatan tarif makin besar, kita harus menguatkan ekosistem produksi dalam negeri. DIY sudah punya kekuatan di sini, banyak produk kreatif lahir dari desa-desa dan komunitas yang saling terhubung,” katanya.
Kita perlu memastikan bahwa bahan baku, produksi, distribusi, dan promosi bisa dilakukan tanpa terlalu bergantung pada pasokan luar. Penguatan rantai pasok Lokal sangat penting. “Produk kreatif kita luar biasa, tapi belum semua siap bersaing di pasar global dari sisi standar mutu,” ungkapnya.
Sertifikasi internasional, pengemasan, hingga paten dan hak cipta perlu dipercepat melalui program lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Persoalan ini menurutnya bukan soal kuantitas ekspor saja, tapi bagaimana kita mengangkat nilai jual produk-produk lokal DIY.
“Digitalisasi harus menyentuh seluruh sektor, termasuk ekspor dan UMKM. Dalam platform Smart Region yang dirancang Pemda DIY, kita harus memastikan bahwa data pelaku usaha, akses pasar, dan layanan ekspor terintegrasi secara real time dan mudah diakses. Regulasi Yogyakarta Smart Region sangat penting dan perlu segera didorong,” katanya.
Menurutnya, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor konvensional. Marketplace global digunakan menjadi saluran alternatif ekspor bagi produk handmade dari DIY. Pemerintah daerah harus mendampingi pelaku usaha lokal untuk masuk ke ekosistem digital.
“Gejolak ekonomi dunia adalah ujian bagi semua. Tapi bagi Jogja, ini bisa jadi momen untuk naik kelas, dari kota budaya menjadi kekuatan ekspor kreatif nasional. Kita perlu mendorong kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha lokal, mendukung digitalisasi daerah, serta memastikan regulasi yang tepat,” kata dia. (Advetorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asra menjaga tradisi sulam kasab Aceh selama lebih dari tiga dekade. Dukungan PNM Mekaar membantu mengembangkan usaha dan memberdayakan warga sekitar.
KPK mendalami aktivitas Sirajudin Lasena di Jakarta sebelum OTT, termasuk komunikasi dengan pihak swasta dan temuan uang Rp130 juta.
Kadin DIY menyebut kekuatan ekonomi Jogja sebagai “tambang ide”. Riset kampus didorong terhubung dengan industri dan pasar.
Kemenhub mencatat 409 penerbangan terdampak karhutla di Kalimantan pada 14-20 September 2026, naik dari 159 penerbangan
Aldo korban KM Virgo sempat keluar kapal sebelum kembali mengambil tas dan menunggu temannya. Jenazahnya ditemukan setelah 10 hari pencarian.
KPK memeriksa Presiden Komisaris Tempo Scan Group Handojo Selamet Muljadi terkait dugaan pemberian kepada oknum di Imipas.