Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Komunitas Paseduluran Grab Yogyakarta (PSGY) mengimkan karangan bunga ke kantor Grab Yogyakarta, Rabu (30/4/2025). Ist
Harianjogja.com, JOGJA— Komunitas Paseduluran Grab Yogyakarta (PSGY) menyikapi program "Akses Hemat" yang digelar Grab dengan mengimkan karangan bunga ke kantor Grab Yogyakarta, Rabu (30/4/2025).
Aksi protes dengan cara simbolik itu dinilai sebagai sindiran atas kebijakan berlangganan akses order yang dinilai memberatkan mitra.
BACA JUGA: Pengemudi Ojol Diusulkan Masuk Kategori UMKM, Ini Tanggapan Grab
Beberapa karangan bunga berdiri mencolok di depan kantor Grab. Masing-masing memuat pesan bernada kritik seperti “UMR terus naik, pendapatan driver terus menurun”, “Terimakasih! atas biaya langganan akses hemat pendapatan driver menurun”, dan “Driver Grab Yogyakarta menolak adanya biaya GrabBike Akses Hemat.”
Aksi yang semula berlangsung damai sempat diwarnai kericuhan kecil. Ketegangan terjadi antara mitra pengemudi dan petugas keamanan kantor Grab, dipicu perdebatan soal lokasi peletakan karangan bunga.
Petugas keamanan meminta agar bunga tidak diletakkan di akses masuk, sementara mitra bersikukuh ingin aksinya terlihat jelas oleh manajemen. Situasi akhirnya dapat diredam, dan para mitra membubarkan diri secara tertib.
Narpati, perwakilan PSGY, menyampaikan bahwa program Akses Hemat justru menambah beban mitra, bukan memberikan solusi.
“Program ini justru menyulitkan kami. Mitra yang tidak mampu membayar langganan jadi tidak mendapatkan order yang layak. Ini menciptakan ketimpangan di antara sesama mitra. Harusnya semua punya kesempatan yang sama, bukan tergantung siapa yang bisa bayar,” ujar Narpati.
Ia juga menegaskan bahwa pengiriman karangan bunga adalah bentuk protes damai yang menunjukkan keresahan para pengemudi di Jogja terhadap kebijakan tersebut.
PSGY menyerukan agar Grab segera mengevaluasi skema Akses Hemat dan membuka ruang dialog terbuka dengan komunitas mitra. Jika tidak, mereka siap bersolidaritas dalam gerakan lebih besar bersama mitra dari kota-kota lain.
“Kami tidak sedang mencari masalah, kami hanya ingin suara kami didengar. Ini bentuk protes elegan yang mewakili perasaan banyak mitra di lapangan. Kami kecewa, karena keadilan perlahan hilang dari sistem,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Sound horeg berkembang sebagai hiburan rakyat, tetapi juga memicu polemik keselamatan, kebisingan, dan pengawasan di lapangan.
BPJS Kesehatan menanggung pengobatan keracunan MBG, tetapi ada ketentuan jika kasus ditetapkan sebagai KLB.
Panglima TNI Agus Subiyanto menegaskan penanganan OPM di Papua dilakukan melalui operasi keamanan dan pendekatan teritorial secara kolaboratif.
Denver, anjing malamut alaska seberat 70 kg di Semarang, ‘bekerja’ lewat sesi foto berbayar untuk membantu biaya shelter anjing telantar.
Pemkab Sleman membuka Sleman Creative Weeks #6 untuk memperkuat ekonomi kreatif dan ekosistem seni budaya hingga Oktober 2026.