Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Peserta mengikuti Program Dukungan Psikososial bagi Relawan dan Keluarga Korban Tragedi Kebakaran Tai Po, Hong Kong, di Tara Hotel Jogja, Kamis-Jumat (5-6/2/2026)/ist Beranda Migran
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya pemulihan keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) korban tragedi kebakaran di Hong Kong terus berlanjut. Beranda Migran menggelar Program Dukungan Psikososial bagi relawan dan keluarga korban kebakaran Wang Fuk Court Estate, Distrik Tai Po, Hong Kong, yang berlangsung di Tara Hotel Jogja selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6/2/2026).
Program ini dirancang sebagai pendampingan lanjutan sekaligus ruang aman untuk memperkuat kapasitas relawan serta mendukung pemulihan psikososial keluarga korban yang masih menghadapi trauma dan ketidakpastian pascakejadian.
Tragedi kebakaran yang terjadi pada November 2025 tersebut tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga sembilan PMI yang menjadi korban. Duka berkepanjangan, trauma psikologis, hingga persoalan sosial yang belum tuntas menjadi realitas yang masih dihadapi hingga kini.
Di sisi lain, para relawan pendamping—yang mayoritas merupakan purna pekerja migran—juga berada dalam posisi rentan. Intensitas pendampingan yang tinggi, minimnya ruang pemulihan, keterbatasan pemahaman tentang pendampingan kedukaan, serta kompleksitas persoalan sosial di tingkat komunitas turut memicu kelelahan emosional dan trauma sekunder.
Direktur Beranda Migran, Hanindha Kristy, menegaskan bahwa kebutuhan keluarga korban tidak berhenti pada pemenuhan hak administratif dan hukum semata.
“Keluarga membutuhkan kejelasan informasi dan keadilan, tetapi pada saat yang sama mereka juga membutuhkan pendampingan psikososial agar mampu bertahan dan melanjutkan hidup setelah kehilangan,” ujarnya dalam rilis pers, Sabtu (7/2/2026).
Sebagai bentuk respons atas kebutuhan tersebut, kegiatan dua hari ini menghadirkan Totok S. Wiryasaputra, konselor kedukaan dan praktisi intervensi krisis, sebagai fasilitator utama.
Totok menjelaskan bahwa praktik menemani orang berduka sejatinya telah lama hidup dalam berbagai kebudayaan melalui tradisi melayat dan kebersamaan, yang kini berkembang menjadi pendekatan psikososial yang lebih sadar dan beretika.
“Pendampingan bukan soal banyak bicara atau menghibur, tetapi tentang hadir sepenuhnya dengan segenap hati, pikiran, dan tubuh bersama orang yang berduka,” tegasnya.
Dalam sesi pendalaman materi, peserta diajak memahami bahwa kedukaan merupakan respons alami atas kehilangan sekaligus mekanisme pertahanan diri untuk mencapai keseimbangan baru. Kedukaan dipahami sebagai pengalaman yang unik dan holistik karena menyentuh aspek fisik, mental, sosial, hingga spiritual seseorang.
Totok juga memaparkan tahapan kedukaan yang umum dialami, mulai dari penyangkalan, kemarahan, bargaining, depresi, hingga penerimaan. Ia mengingatkan adanya risiko unfinished grief apabila proses tersebut tidak tertangani dengan baik.
“Kedukaan yang dibiarkan berlarut-larut dapat berkembang menjadi persoalan klinis yang lebih berat,” katanya.
Pada hari kedua, kegiatan diisi dengan sesi berbagi pengalaman langsung dari keluarga korban dan relawan pendamping. Dalam sesi ini terungkap bahwa sejumlah praktik sosial dan budaya di masyarakat—seperti pertanyaan berulang mengenai santunan, tekanan untuk segera ‘ikhlas’, hingga kehadiran orang-orang yang tidak dikenal—sering kali justru memperpanjang dan memperdalam duka keluarga.
Sepanjang kegiatan, Beranda Migran juga membuka ruang aman bagi relawan untuk membicarakan kelelahan emosional dan trauma sekunder yang mereka alami. Pengalaman menghadapi konflik sosial, risiko penipuan, hingga tekanan ekspektasi dari lingkungan sekitar menjadi pengingat bahwa pendamping juga membutuhkan pendampingan.
Melalui program ini, Beranda Migran menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas relawan dan purna pekerja migran sebagai garda depan pendampingan keluarga korban. Penguatan psikososial ini diharapkan mampu mendukung proses pemulihan keluarga korban sekaligus meningkatkan kualitas pendampingan di tingkat komunitas migran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 28 September 2026, lengkap dengan 10 jadwal keberangkatan dari kedua arah.
Jadwal KA Bandara YIA Senin 28 September 2026 tersedia 24 perjalanan dari YIA ke Stasiun Tugu dan sebaliknya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 28 September 2026 lengkap 15 perjalanan dan tarif Rp8.000, dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.
Cek jadwal KRL Solo-Jogja Senin 28 September 2026 dari Palur ke Jogja/Tugu, lengkap dengan waktu di setiap stasiun.
Sergey Lavrov menyerukan pembentukan Negara Palestina berdasarkan kerangka internasional dan resolusi PBB di Sidang Umum PBB.