Jelang Liburan Sekolah, Akses Wisatawan Harus Disiapkan

Newswire
Newswire Kamis, 18 Juni 2026 15:57 WIB
Jelang Liburan Sekolah, Akses Wisatawan Harus Disiapkan

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja, Danang Rudiyatmoko. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Kebijakan penghentian fungsi parkir bus wisata di kawasan Jalan Senopati menjadi perhatian DPRD Kota Jogja menjelang puncak musim libur sekolah 2026. Akses wisatawan rombongan yang menggunakan bus dinilai berpotensi menghadapi kendala karena belum optimalnya konektivitas dari kantong parkir pengganti menuju kawasan wisata utama di pusat kota.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja, Danang Rudiyatmoko, menilai momentum liburan sekolah menjadi ujian bagi kesiapan infrastruktur dan layanan pariwisata Kota Jogja. Menurutnya, sebagian besar wisatawan nusantara yang datang secara berkelompok masih mengandalkan transportasi bus untuk mengunjungi berbagai destinasi unggulan.

Kondisi tersebut semakin menjadi sorotan setelah kawasan parkir bus di Jalan Senopati tidak lagi difungsikan. Di sisi lain, rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas menuju Malioboro juga dinilai perlu diimbangi dengan solusi transportasi yang memudahkan mobilitas wisatawan.

"Musim libur sekolah kali ini benar-benar menguji kesiapan kota dalam menyambut dan menampung arus wisatawan," ujar Danang kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

Kantong Parkir Pengganti Dinilai Belum Ideal

Saat ini, Pemerintah Kota Jogja mengarahkan bus wisata untuk memanfaatkan kantong parkir di Terminal Giwangan dan kawasan Menara Kopi. Namun, menurut Danang, lokasi tersebut masih menyisakan persoalan karena jaraknya cukup jauh dari pusat aktivitas wisata seperti Malioboro dan Taman Pintar.

Ia menilai wisatawan akan mengalami kesulitan apabila harus berjalan kaki dari lokasi parkir menuju destinasi wisata. Karena itu, keberadaan layanan transportasi penghubung atau shuttle menjadi kebutuhan yang perlu segera dipastikan kesiapan operasionalnya.

Menurut Danang, persoalan akses wisatawan tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Pariwisata. Dinas Perhubungan juga perlu terlibat aktif dalam menyiapkan sistem transportasi pendukung yang mampu menghubungkan kantong parkir dengan kawasan wisata di pusat kota.

"Kantong parkir di Menara Kopi itu jaraknya cukup jauh kalau wisatawan diminta jalan kaki ke Malioboro atau Taman Pintar. Sehingga harus ada solusi, mau diangkut pakai apa? Agen wisata pasti bingung memikirkan aksesnya," kata Danang.

Taman Pintar Jadi Sorotan Saat Musim Libur Sekolah

Danang menyebut keberadaan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati dan Abu Bakar Ali (ABA) selama ini menjadi salah satu penunjang mobilitas wisatawan yang berkunjung ke kawasan pusat Kota Jogja. Pada periode liburan, jumlah wisatawan yang bergerak di kawasan tersebut dapat mencapai lebih dari satu juta orang.

Menurutnya, kelancaran akses wisatawan juga berkaitan dengan kinerja sejumlah destinasi unggulan, termasuk Taman Pintar yang pada tahun ini memiliki target pendapatan melalui skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebesar Rp12 miliar hingga Rp13 miliar dari sektor penjualan tiket.

Ia menjelaskan, Taman Pintar menjadi salah satu tujuan favorit wisata keluarga dan rombongan pelajar selama musim libur sekolah. Dalam pola perjalanan wisata yang umum terjadi, wisatawan biasanya mengunjungi kawasan pantai terlebih dahulu sebelum mengakhiri perjalanan di Malioboro dan Taman Pintar.

Karena itu, Danang menilai integrasi antara penataan kawasan perkotaan, pengelolaan lalu lintas, dan aksesibilitas pariwisata perlu dirancang secara lebih komprehensif. Ia menyoroti pentingnya sinkronisasi antara pengembangan kawasan sumbu filosofi dengan kebutuhan mobilitas wisatawan yang terus meningkat.

"Taman Pintar itu sektor vital saat libur sekolah. Jangan sampai lambat mengintegrasikan konsep wisata dan penataan kawasan, taruhannya wisatawan bisa lari ke daerah lain," ujarnya.

Komisi B DPRD Jadwalkan Bertemu Kemenparekraf

Untuk membahas berbagai tantangan sektor pariwisata tersebut, Komisi B DPRD Kota Jogja menjadwalkan kunjungan kerja ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 21 Juni 2026. Salah satu agenda yang akan diperjuangkan adalah dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) serta penguatan penyelenggaraan berbagai agenda wisata dan ekonomi kreatif di Kota Jogja.

Danang menilai sektor pariwisata masih menjadi salah satu penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jogja. Oleh sebab itu, perencanaan jangka panjang terkait akses wisata, transportasi, hingga sinergi dengan daerah penyangga seperti Sleman dan Bantul perlu diperkuat agar ekosistem pariwisata tetap tumbuh secara berkelanjutan.

"Ini fokus pemikiran saya ke depan. Kita perlu membuka ruang diskusi bersama Pemda DIY, Sleman, dan Bantul untuk memetakan di mana saja titik penopang akses wisata kota. Semua pihak harus duduk bersama dalam satu meja," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online