Pangan Fungsional Pandan Bisa Jadi Peluang Ekonomi Baru

Newswire
Newswire Minggu, 05 Juli 2026 05:57 WIB
Pangan Fungsional Pandan Bisa Jadi Peluang Ekonomi Baru

KWT Sleman dilatih mengembangkan pangan fungsional berbasis pandan dan cabai menjadi produk bernilai tambah untuk meningkatkan ekonomi keluarga. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Program pengembangan pangan fungsional berbasis pandan dan cabai yang digagas Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) membuka peluang usaha baru bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur di Pedukuhan Puluhan, Jerukan, Kalurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Sleman. Melalui pelatihan teknologi tepat guna, puluhan anggota KWT dibekali keterampilan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai ekonomi untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

Program tersebut dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada Jumat (15/5) dan Sabtu (27/6). Mengusung semangat filosofis angudi mulyaning bangsa, UMBY menerapkan kolaborasi Triple Helix yang mempertemukan perguruan tinggi sebagai pusat inovasi, Credit Union (CU) Cindelaras Tumangkar sebagai penguat literasi keuangan, serta KWT Subur Makmur sebagai pelaku utama pengembangan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.

Kegiatan ini difokuskan pada pengembangan komoditas pekarangan menjadi pangan fungsional yang memiliki nilai tambah. Berdasarkan hasil kajian tim peneliti UMBY bersama pakar pangan, tanaman pandan yang selama ini banyak tumbuh di lingkungan masyarakat ternyata memiliki potensi besar karena kaya senyawa aktif, tetapi pemanfaatannya masih belum optimal.

"Ekstrak pandan memiliki aktivitas antioksidan yang dapat mencegah ketengikan produk, memiliki aktivitas antidiabetes, antiinflamasi, serta aromanya bisa menjadi relaksasi," ujar Profesor Lilis Suryani dikutip Sabtu (4/7/2026).

Selain pandan, tim pengabdian juga mengembangkan inovasi pada komoditas cabai. Langkah tersebut dilakukan sebagai solusi menghadapi persoalan harga cabai yang sering anjlok saat musim panen raya sehingga merugikan petani. Untuk meningkatkan nilai jual hasil panen, peserta pelatihan diajarkan mengolah cabai segar menjadi permen cabai yang memiliki nilai tambah sekaligus daya tarik tersendiri di pasar.

Berbagai kendala teknis selama proses pengolahan juga menjadi bagian dari materi pelatihan. Risiko memudarnya warna serta aroma pandan akibat proses pemanasan diatasi melalui penerapan sains terapan yang sederhana. Para dosen UMBY memperkenalkan teknik pembentukan kompleks metalloklorofil, sekaligus metode enkapsulasi menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan terjangkau, seperti gum arab serta tepung maizena, untuk membantu mempertahankan kandungan ekstrak pandan.

Rangkaian pelatihan dirancang tidak hanya memberikan keterampilan produksi, tetapi juga membangun fondasi usaha yang berkelanjutan. Pada tahap awal, peserta memperoleh pembekalan mengenai pentingnya kandungan gizi dalam pangan fungsional. Selanjutnya, peserta mempraktikkan pembuatan berbagai produk olahan berupa bakpia pandan, onde-onde ketawa, mochi kaya antioksidan, serta permen cabai sebagai produk inovatif berbasis komoditas lokal.

Pelatihan tersebut juga diarahkan untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam mengembangkan usaha secara bersama-sama. Targetnya bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis memasak, tetapi juga memperkuat pengelolaan keuangan rumah tangga, menumbuhkan budaya gotong royong, meningkatkan kemampuan manajemen usaha, serta mendorong pemanfaatan teknologi digital agar pemasaran produk dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan produksi pangan fungsional berbasis pandan, UMBY menyerahkan bantuan berupa seperangkat peralatan produksi modern yang siap digunakan. Bantuan tersebut meliputi mixer berkapasitas besar, oven, alat pencacah (chopper), hingga mesin penyegel plastik (sealer). Selain itu, peserta juga memperoleh dukungan penguatan merek melalui penyediaan desain kemasan yang disiapkan agar mampu bersaing di pasar modern.

Program tersebut mendapat sambutan positif dari pengurus maupun anggota KWT Subur Makmur. Mereka menilai kehadiran berbagai produk olahan baru berbasis pandan dan cabai dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan untuk membantu menambah pendapatan keluarga setelah pandemi.

Dosen pemandu UMBY, Agus Setiyoko, menekankan pentingnya menjaga konsistensi produksi setelah pelatihan selesai agar keterampilan yang telah diperoleh benar-benar dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

"Harapan kami, Pedukuhan Puluhan bisa dikenal sebagai sentra olahan pangan sehat berbasis pandan, yang pada akhirnya mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar," tutur Agus.

Komitmen mendampingi pengembangan pangan fungsional berbasis pandan juga ditegaskan oleh manajemen UMBY, CU Cindelaras Tumangkar, dan Pemerintah Kalurahan Sumberarum. Ketiga pihak sepakat melakukan supervisi secara berkala guna menjaga standar mutu produk sekaligus menyusun strategi penetrasi pasar yang lebih luas sehingga produk olahan berbasis pandan dan cabai dapat berkembang menjadi usaha masyarakat yang berdaya saing.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online