Mengenal Profesi Teknisi Pelayanan Darah, Garda Tersembunyi Penyelamat

Media Digital
Media Digital Sabtu, 25 Juli 2026 05:42 WIB
Mengenal Profesi Teknisi Pelayanan Darah, Garda Tersembunyi Penyelamat

Alumni Program Studi Teknologi Bank Darah (TBD) STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, Wedyah Suryani (tengah) dan Winda Septiana (kiri) menjadi narasumber dalam podcast Blood Beyond Borders: Dari Donor hingga Menyelamatkan Nyawa yang tayang di kanal YouTube Harian Jogja, Jumat (24/7/2026) malam. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA - Profesi teknisi pelayanan darah masih belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, tenaga inilah yang bertanggung jawab memastikan setiap kantong darah aman dan sesuai sebelum ditransfusikan kepada pasien.

Hal tersebut mengemuka dalam podcast bertajuk Blood Beyond Borders: Dari Donor hingga Menyelamatkan Nyawa yang digelar Program Studi Teknologi Bank Darah (TBD) STIKES Guna Bangsa Yogyakarta dan tayang di kanal YouTube Harian Jogja, Jumat (24/7/2026) malam. Perbincangan menghadirkan alumni Prodi TBD STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, Wedyah Suryani yang kini bekerja di PMI Kabupaten Klaten serta Winda Septiana yang bertugas di Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) Jogja International Hospital (JIH).

Wedyah Suryani mengatakan teknisi pelayanan darah memiliki tugas khusus yang berbeda dengan analis kesehatan. Profesi tersebut menangani seluruh proses pelayanan darah, mulai dari pengambilan donor, pengolahan, pemeriksaan hingga pendistribusian darah kepada fasilitas kesehatan.

"Teknisi pelayanan darah atau teknisi transfusi darah secara khusus menangani pengambilan, pengolahan, pemeriksaan hingga pendistribusian darah," kata Wedyah dalam podcast, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan perjalanan satu kantong darah tidak berhenti setelah proses donor selesai. Sebelum dapat digunakan untuk pasien, darah harus melewati serangkaian tahapan mulai dari seleksi pendonor, pemeriksaan hemoglobin, tekanan darah, riwayat kesehatan, proses pengambilan darah hingga pengujian penyakit infeksi menular melalui transfusi darah.

Menurutnya, darah juga harus diperiksa terhadap HIV, sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dilakukan pemeriksaan ulang golongan darah, screening antibodi, hingga diolah menjadi komponen darah. Setelah seluruh tahapan dinyatakan aman, barulah darah dapat didistribusikan untuk kebutuhan pasien.

Wedyah menyebut tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah jumlah pendonor yang terus menurun, sementara kebutuhan darah tetap tinggi. Karena itu, teknisi pelayanan darah juga ikut berperan memberikan edukasi kepada masyarakat agar semakin banyak yang bersedia mendonorkan darah.

"Pendonornya semakin menurun. Padahal orang yang membutuhkan darah semakin banyak dan sampai sekarang darah belum bisa digantikan," jelasnya.

Sementara itu, Winda Septiana mengaku profesi teknisi pelayanan darah masih sering disalahpahami, bahkan oleh sesama tenaga kesehatan. Banyak yang belum mengetahui asal program studi, gelar lulusan, hingga ruang lingkup pekerjaan profesi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa lulusan Teknologi Bank Darah memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan dan salah satu penyelenggara program studi tersebut adalah STIKES Guna Bangsa Yogyakarta.

Di rumah sakit, lanjut Winda, Bank Darah Rumah Sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah. Unit tersebut juga menerima komponen darah, menjaga kualitas produk darah, serta melakukan uji kompatibilitas atau crossmatch antara darah donor dan pasien.

"Walaupun golongan darahnya sama, belum tentu cocok untuk ditransfusikan. Karena itu dilakukan pemeriksaan crossmatch agar darah yang diberikan benar-benar aman bagi pasien," katanya.

Menurut Winda, ketersediaan stok darah di rumah sakit juga sangat bergantung pada pasokan dari PMI. Ketika stok di PMI menurun, petugas BDRS harus mencari pasokan dari berbagai daerah agar pelayanan kepada pasien tetap berjalan.

"Kalau stok darah di PMI berkurang, kami juga kesulitan memberikan pelayanan yang optimal. Tugas kami memastikan darah tetap tersedia agar bisa segera didistribusikan kepada pasien," ujarnya.

Selain membahas peran profesi, keduanya juga mengungkap peluang kerja lulusan Teknologi Bank Darah masih terbuka lebar. Wedyah bahkan mengaku telah mendapat tawaran bekerja di PMI Kabupaten Klaten sebelum resmi lulus kuliah, sedangkan Winda memperoleh panggilan kerja hanya beberapa hari setelah wisuda dan langsung menjalani proses seleksi di rumah sakit. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online