Warga Karang Sentolo Tolak Tambang Pasir Sungai Progo
Warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulonprogo, kembali memprotes tambang pasir Sungai Progo. CV BKS menyebut seluruh perizinan telah lengkap.
Sejumlah orang tua ada yang mengantre dan menunggu proses anaknya masuk asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulonprogo, Jumat (31/7/2026)/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif\r\n
Harianjogja.com, KULONPROGO—Sejumlah siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo mengalami homesick atau rindu rumah setelah menjalani keseharian di asrama. Kondisi tersebut membuat beberapa siswa merasa tidak betah dan memilih mundur, padahal mereka belum genap menjalani pendidikan selama satu bulan.
Pelaksana Tugas Kepala SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Agus Ristanto, mengatakan pada awalnya terdapat sembilan siswa yang merasa tidak betah tinggal di asrama dan ingin pulang. Namun, guru kemudian melakukan komunikasi dan memberikan pengertian kepada para siswa sehingga sebagian keinginan untuk mundur dapat ditanggulangi.
"Awalnya sembilan terus dua siswa dalam proses komunikasi dan penanganan lanjut sedangkan ada satu siswa yang sudah resmi mengundurkan diri secara tertulis atas persetujuan orang tuanya," katanya saat ditemui di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Jumat (14/8/2026).
Homesick Muncul Saat Siswa Beradaptasi
Masa awal pendidikan di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo diwarnai berbagai dinamika. Para siswa masih menjalani proses adaptasi sekaligus pembentukan kebiasaan atau habituasi dengan kehidupan di asrama.
Menurut Agus, salah satu faktor yang kemudian diketahui memicu ketidakbetahan siswa adalah kelonggaran penggunaan telepon seluler atau HP. Akses tersebut awalnya diberikan untuk membantu komunikasi antara siswa dengan orang tua.
Namun, komunikasi melalui HP justru membuat sebagian siswa semakin merasakan kerinduan terhadap rumah. Anak-anak kemudian meminta orang tua datang menjemput mereka.
"Ketika kami memberikan HP itu untuk komunikasi, anak-anak memanfaatkannya untuk minta dijemput: 'Jemput aku Bu, jemput aku Pak.' Orang tua yang tidak tega akhirnya datang menjemput," lanjut Agus.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan sekolah untuk memperketat akses penggunaan HP bagi siswa yang tinggal di asrama.
Sekolah Pastikan Bukan karena Bullying
Agus menegaskan ketidakbetahan siswa di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo murni berkaitan dengan faktor pribadi dan proses penyesuaian diri. Menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan tindakan perundungan maupun tekanan senioritas di lingkungan asrama.
Dia memastikan tidak terdapat senioritas karena seluruh siswa saat ini masih merupakan angkatan pertama sehingga belum memiliki tingkatan kakak kelas. Adapun jika ada kakak kelas dari SR Bantul, keberadaannya hanya difungsikan sebagai pendamping untuk membantu proses penyesuaian.
"Guna menjaga fokus serta kenyamanan belajar anak di lingkungan asrama, kami kini memperketat dan membatasi penggunaan HP. Langkah ini diambil agar proses pembiasaan (habituasi) kehidupan berasrama dapat berjalan mandiri tanpa pemicu emosional yang berlebihan dari luar," jelas Agus.
Pembatasan HP tersebut diharapkan membantu siswa menjalani proses habituasi kehidupan asrama secara lebih mandiri. Sekolah juga terus melakukan penanganan terhadap siswa yang masih mengalami kendala dalam beradaptasi.
Satu Siswa Resmi Mundur
Waka Kesiswaan SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Ikhsan, mengatakan sekolah tidak dapat memaksakan siswa yang telah memutuskan mundur untuk tetap bertahan di SR. Keputusan tersebut telah menjadi keinginan siswa dan mendapat persetujuan dari orang tuanya.
"Siswa-siswa yang mengalami kendala adaptasi ini tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan tersebar dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti Gunungkidul, Sleman, Bantul, hingga Kulonprogo," ucapnya.
Saat ini, satu siswa telah resmi mengundurkan diri dari SR Terintegrasi 1 Kulonprogo secara tertulis. Sementara dua siswa lainnya masih dalam proses pengunduran diri sehingga belum secara resmi meninggalkan asrama.
Adapun enam siswa lainnya masih menjalani proses penyesuaian agar dapat tetap bertahan mengikuti pendidikan di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo.
Dengan kondisi tersebut, pihak sekolah masih melakukan komunikasi dan pendampingan terhadap siswa yang mengalami kendala adaptasi. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya agar siswa dapat menjalani kehidupan berasrama tanpa merasa tertekan oleh kerinduan terhadap rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulonprogo, kembali memprotes tambang pasir Sungai Progo. CV BKS menyebut seluruh perizinan telah lengkap.
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Masinis KA Argo Bromo Anggrek ditetapkan sebagai tersangka kecelakaan di Bekasi. Ancaman hukuman maksimal 5 hingga 12 tahun penjara.
Pilur Gunungkidul di 31 kalurahan berlangsung aman. Lurah terpilih ditargetkan dilantik 26 November 2026 setelah tahapan administrasi selesai.
Paus Leo XIV menyerukan Eropa memperkuat peran menjaga perdamaian global dan mendorong dialog untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.
Defisit APBD-P Bantul 2026 membesar menjadi Rp154 miliar. Bupati Abdul Halim Muslih meminta OPD memperketat efisiensi anggaran.