Jalan Malioboro Jogja Sabtu Hari Ini Ditutup, Ini 8 Pengalihan Arusnya
Merah Putih Malioboro 2026 digelar Sabtu 15 Agustus. Cek 8 titik penutupan dan pengalihan arus lalu lintas di Jogja.
Prosesi upacara HUT RI ke-80 di Gedung Agung Jogja. - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA— Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta bukan sekadar bangunan kenegaraan di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja. Bangunan yang berdiri di ujung selatan Malioboro ini menjadi salah satu saksi penting perjalanan sejarah Indonesia, termasuk ketika Jogja menjadi ibu kota Republik Indonesia pada masa revolusi.
Kompleks Gedung Agung memiliki luas sekitar 4,4 hektare dan berada tepat di seberang Benteng Vredeburg. Hingga kini, istana tersebut tetap digunakan sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia ketika melakukan kunjungan kerja ke Jogja.
Selain menjadi tempat penerimaan tamu negara dan VVIP serta pelantikan pejabat, halaman depan Gedung Agung juga rutin digunakan untuk pelaksanaan Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih setiap 17 Agustus.
Sejarah Gedung Agung bermula pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pembangunan gedung tersebut diprakarsai Anthonie Hendriks Smissaert, Residen Belanda ke-18 di Yogyakarta, pada 1824. Perancangnya adalah arsitek A.A.J. Payen.
Bangunan tersebut awalnya dirancang sebagai kediaman resmi residen Belanda. Namun, pembangunan sempat terhenti akibat meletusnya Perang Diponegoro pada 1825. Pembangunan kemudian dilanjutkan hingga akhirnya selesai pada 1832.
Perjalanan Gedung Agung tidak selalu berjalan mulus. Pada 10 Juni 1867, gempa bumi dahsyat mengguncang Jogja dan meruntuhkan bangunan awal tersebut.
Bangunan kemudian dirancang ulang dan pembangunan gedung baru selesai pada 1869. Bangunan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal gedung induk Gedung Agung saat ini.
Ketika status administrasi Yogyakarta meningkat dari keresidenan menjadi provinsi pada 1927, Gedung Agung kemudian difungsikan sebagai kediaman Gubernur Belanda. Fungsi tersebut berlangsung hingga masa pendudukan Jepang.
Peran Gedung Agung semakin penting setelah Indonesia merdeka. Pada 6 Januari 1946, pemerintah Republik Indonesia memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta karena situasi keamanan di Jakarta yang tidak kondusif.
Sejak saat itu, Gedung Agung menjadi Istana Kepresidenan sekaligus kediaman Presiden Soekarno bersama keluarga.
Pada masa revolusi, berbagai peristiwa penting berlangsung di kompleks tersebut. Salah satunya adalah pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947.
Gedung Agung juga menjadi tempat kelahiran Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, pada 23 Januari 1947.
Selain itu, lima kabinet Republik Indonesia pada masa revolusi terbentuk dan dilantik di Gedung Agung.
Peristiwa penting lainnya terjadi pada 19 Desember 1948 ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II. Tentara Belanda mengepung Gedung Agung dan menangkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Mohammad Hatta sebelum keduanya diasingkan.
Pimpinan negara kemudian kembali ke Istana Yogyakarta pada 6 Juli 1949 setelah situasi politik dan perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia memasuki fase baru.
Setelah ibu kota Republik Indonesia kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, Gedung Agung tidak lagi digunakan sebagai kediaman harian presiden.
Fungsinya berubah menjadi tempat singgah resmi Presiden serta lokasi berbagai agenda kenegaraan di DIY.
Salah satu kegiatan yang secara rutin digelar adalah upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus. Halaman depan Gedung Agung menjadi lokasi pelaksanaan Upacara Detik-Detik Proklamasi serta Upacara Penurunan Bendera untuk tingkat DIY.
Gedung Agung juga terus dirawat sebagai bangunan bersejarah dan bagian dari warisan budaya. Masyarakat dapat mengenal sejarahnya melalui program Istura atau Istana untuk Rakyat yang memungkinkan kunjungan secara terbatas.
Dari sisi arsitektur, Gedung Agung mencerminkan gaya Indies atau Hindia Belanda abad ke-19. Bangunannya memadukan gaya Neoklasik Eropa dengan penyesuaian terhadap kondisi iklim tropis.
Kompleks ini tidak hanya terdiri atas gedung induk. Sejumlah bangunan dan fasilitas menjadi bagian dari kawasan istana, antara lain:
Gedung Induk (Gedung Negara): terdapat Ruang Garuda sebagai ruang acara utama, serta Ruang Diponegoro dan Ruang Sudirman.
Wisma Negara: salah satu bangunan pendukung di kompleks istana.
Wisma Sawojajar: bangunan pendukung untuk kebutuhan kegiatan kenegaraan.
Wisma Bumireta: bagian dari kompleks wisma Gedung Agung.
Wisma Indrasana: salah satu bangunan di kawasan istana.
Wisma Saptapratala: bangunan pendukung lainnya.
Kompleks Senisono: berada di sisi selatan kompleks dan dipugar serta diintegrasikan sejak era 1990-an.
Monumen Tugu Dagoba: berada di halaman depan istana. Tugu berbahan batu andesit tersebut memiliki tinggi sekitar 3,5 meter dan berasal dari daerah Cupuwatu.
Dengan perjalanan sejarah hampir dua abad, Gedung Agung memiliki posisi penting dalam sejarah Jogja dan Indonesia. Bangunan yang awalnya didirikan sebagai kediaman residen Belanda tersebut kemudian berubah menjadi Istana Kepresidenan dan menjadi saksi ketika Jogja memainkan peran sentral dalam mempertahankan keberlangsungan Republik Indonesia.
Kini, Gedung Agung tetap berdiri di jantung Jogja, berdampingan dengan kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer, sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga memiliki jejak yang kuat di Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Merah Putih Malioboro 2026 digelar Sabtu 15 Agustus. Cek 8 titik penutupan dan pengalihan arus lalu lintas di Jogja.
Kehadiran Speling memberinya kesempatan untuk kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa terbebani biaya.
BMKG memprediksi cuaca DIY pada 17 Agustus 2026 didominasi cerah berawan. Berikut rincian prakiraan cuaca di lima wilayah Jogja.
Kemenhut menjelaskan translokasi gajah Deo dan Sinta dari Gembira Loka Zoo Jogja ke Tabang Zoo, Kalimantan Timur.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, layanan pendidikan diperluas melalui sekolah negeri, sekolah kemitraan
Mengenal sejarah Paskibraka yang berawal dari Jogja pada 1946, makna formasi 17-8-45, hingga pembinaan Paskibraka di bawah BPIP.