Pemkab Kulonprogo Rotasi Pejabat, Susilaningsih Jadi Direktur RSUD Wates
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Sejumlah orang tua ada yang mengantre dan menunggu proses anaknya masuk asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulonprogo, Jumat (31/7/2026)/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif\r\n
Harianjogja.com, KULONPROGO— Fenomena sejumlah siswa yang mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo mendapat perhatian serius dari DPRD Kulonprogo. Dewan meminta pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab utama siswa memilih meninggalkan sekolah berbasis asrama tersebut.
Perhatian ini muncul karena para siswa yang mundur diduga mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan dan pola kehidupan baru di asrama. DPRD menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak jika tidak ditangani secara tepat.
Ketua Komisi IV DPRD Kulonprogo, Edi Priyono, mengatakan dinas terkait perlu bergerak cepat untuk memastikan persoalan yang dihadapi para siswa dapat segera diidentifikasi. Menurutnya, perubahan lingkungan dari rumah ke sistem pendidikan berasrama bisa menjadi tantangan besar bagi sebagian anak.
"Saya akan minta OPD yang berwenang untuk segera melakukan penanganan yang tepat, karena kalau kondisi itu dibiarkan berlarut akan sangat membahayakan mental anak," ujar Edi, Senin (17/8/2026).
DPRD Minta Akar Masalah Ditelusuri
Edi menilai jumlah siswa yang memilih mundur menjadi sinyal perlunya evaluasi lebih mendalam terhadap proses adaptasi peserta didik di Sekolah Rakyat. Penelusuran tidak hanya dilakukan pada faktor kerinduan terhadap keluarga, tetapi juga kemungkinan adanya persoalan lain yang memengaruhi kenyamanan siswa selama tinggal di asrama.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan apakah kondisi yang dialami siswa masih dalam batas wajar sebagai proses penyesuaian atau sudah mengarah pada gangguan psikologis yang membutuhkan penanganan khusus.
"Nanti kita cari tahu sejauh mana kondisi rindunya, apakah masih wajar atau mengarah pada depresi. Kita cari tahu penyebab dan alasannya, jangan sampai rindu rumah karena tidak kerasan atau bahkan akibat bullying di SR," katanya.
Ia menegaskan, seluruh faktor yang berpotensi memicu ketidaknyamanan siswa harus diidentifikasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Psikolog Diminta Dampingi Siswa
Sebagai langkah penanganan, DPRD Kulonprogo mendorong keterlibatan tenaga profesional, termasuk psikolog, untuk memberikan pendampingan kepada siswa yang sedang menjalani masa adaptasi di asrama.
Pendampingan tersebut dinilai penting untuk membantu anak-anak mengelola tekanan psikologis, membangun rasa nyaman, sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selain itu, Edi juga menyoroti pentingnya kepastian pendidikan bagi siswa yang sudah memutuskan mundur dari Sekolah Rakyat. Menurutnya, jangan sampai keputusan keluar dari sekolah menyebabkan anak kehilangan akses pendidikan.
"Saya berharap segera ada kepastian, mulai dari upaya menciptakan kondisi agar anak-anak menjadi kerasan, sampai upaya kelanjutan nasib pendidikan bagi anak-anak yang mundur. Kalau perlu diterjunkan psikolog di sana," ujarnya.
Dinsos Optimalkan Layanan Psikologi
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kulonprogo, Dian Putera Karana, menjelaskan sebagian siswa yang mengundurkan diri mengaku belum terbiasa tinggal di lingkungan asrama.
Pemerintah daerah, kata Dian, tengah menyiapkan langkah lanjutan agar siswa yang mundur tetap memperoleh akses pendidikan yang layak demi keberlanjutan masa depan mereka.
Dinsos juga terus berkoordinasi dengan pengelola SR Terintegrasi 1 Kulonprogo untuk memastikan berbagai kebutuhan siswa dapat terpenuhi, termasuk dukungan layanan kesehatan dan pendampingan psikologis.
"Kami juga melakukan layanan psikologi di SR dengan mengoptimalkan psikolog yang ada yang bertujuan agar anak-anak tetap merasa nyaman di asrama," kata Dian.
Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulonprogo diharapkan mampu menjadi sarana pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Karena itu, suasana belajar dan lingkungan asrama yang aman serta nyaman menjadi faktor penting agar siswa dapat bertahan dan berkembang selama mengikuti pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Buruh masih mengawal 10 isu dalam RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, mulai dari upah, PHK, outsourcing hingga JKP.
Jamsostek Award 2026 DIY memberikan penghargaan kepada pemda, kalurahan, serta perusahaan. Simak daftar lengkap para penerimanya.
Lembah Oya Kedungjati di Selopamioro, Bantul, membuka peluang kerja dan pendapatan bagi pemuda sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Geely dan NIO memperkuat bisnis baterai dan charging dengan investasi Rp1,7 triliun serta pengembangan teknologi battery swapping.
Survei Segara Research Institute menunjukkan 73,8 persen ojol bergabung sebagai pekerja gig karena tidak mendapatkan pekerjaan formal.