Komitmen Jadi Kampus Inklusif, UMBY Resmikan Unit Layanan Disabilitas

Newswire
Newswire Minggu, 06 September 2026 08:07 WIB
Komitmen Jadi Kampus Inklusif, UMBY Resmikan Unit Layanan Disabilitas

UMBY meresmikan Unit Layanan Disabilitas untuk memperkuat akses pendidikan inklusif, fasilitas ramah difabel, dan pendampingan mahasiswa. /Istimewa.

Harianjogja.com, BANTUL— Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memperkuat komitmennya membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif dengan meresmikan Unit Layanan Disabilitas (ULD). Peresmian yang disertai workshop penguatan kapasitas tersebut digelar pada Kamis (27/8/2026) sebagai langkah untuk memastikan akses pendidikan tinggi yang ramah difabel dapat dinikmati seluruh mahasiswa.

ULD UMBY diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai unit layanan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang terbuka dan mudah diakses seluruh lapisan masyarakat. Komitmen tersebut sejalan dengan nilai yang terkandung dalam lirik Mars UMBY, yakni “Tuk Seluruh Anak Bangsa.”

Peresmian ULD dihadiri Rektor UMBY Agus Slamet, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Wafit Dinarto, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Tutut Dewi Astuti, jajaran dekanat, ketua program studi, serta perwakilan 16 Lembaga Kemahasiswaan (LK) UMBY.

Sejumlah pemangku kepentingan dari jejaring inklusi juga hadir, di antaranya National Paralympic Committee (NPC) DIY, SLB G AB Helen Keller Indonesia Yogyakarta, Komunitas Difabel Pinilih Sedayu, Yayasan Belalang Kupu-Kupu, SMA Tumbuh Yogyakarta, serta Komisi Nasional Disabilitas (KND).

UMBY Terbuka untuk Seluruh Anak Bangsa

Rektor UMBY Agus Slamet mengatakan pendirian ULD merupakan bentuk nyata dari nilai dasar yang selama ini menjadi bagian dari identitas institusi. Menurutnya, slogan “Untuk Seluruh Anak Bangsa” harus diwujudkan melalui keterbukaan kampus bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.

"Arti 'Untuk Seluruh Anak Bangsa' adalah tidak memilih dan memilah. UMBY terbuka untuk seluruh anak bangsa, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Terbukti, banyak mahasiswa difabel di UMBY yang mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional maupun internasional, salah satunya Suryo Nugroho di cabang olahraga badminton," ujar Agus Slamet.

Keberadaan mahasiswa difabel yang telah menorehkan prestasi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa akses terhadap pendidikan dan kesempatan berkembang dapat membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengoptimalkan potensinya.

Karena itu, keberadaan ULD diarahkan untuk memperkuat dukungan kampus terhadap mahasiswa disabilitas, baik dalam aspek aksesibilitas maupun layanan pendampingan selama menjalani pendidikan.

Dirintis Sejak 2023

Ketua ULD UMBY Agustinus Hary Setyawan menjelaskan pembentukan unit tersebut merupakan hasil dari proses yang telah dirintis sejak 2023. Proses itu antara lain dilakukan melalui pembenahan sarana dan prasarana fisik, kerja sama dengan Biro Layanan Psikologi dan Konseling, serta studi banding atau benchmarking.

Pada 2026, ULD UMBY akhirnya resmi terbentuk dengan dukungan program hibah PT Inklusi. Pembentukannya juga berlandaskan UU No. 8 Tahun 2016, PP No. 13 Tahun 2020, dan Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023.

"Hari ini menjadi tonggak awal pelaksanaan milestone program kerja lima tahun ke depan (2026–2030). Kami berkomitmen mengawal pembangunan fasilitas kampus yang ramah difabel serta membangun iklim akademik yang inklusif, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional," terang Hary.

Dengan adanya ULD, pengembangan kampus inklusif UMBY akan diarahkan melalui program kerja lima tahun. Fokusnya tidak hanya pada penyediaan fasilitas yang lebih mudah diakses, tetapi juga membangun lingkungan akademik yang mendukung mahasiswa disabilitas.

Tantangan Terbesar Bukan Hanya Fasilitas

Kepala ULD Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ishartiwi, yang hadir sebagai narasumber workshop, memberikan apresiasi terhadap dukungan jajaran rektorat UMBY dalam pembentukan unit tersebut.

Meski demikian, Ishartiwi mengingatkan bahwa pembangunan kampus inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas fisik. Menurutnya, tantangan yang lebih besar justru terletak pada bagaimana membangun kesadaran dan budaya inklusif di lingkungan sivitas akademika.

"Menyediakan lingkungan fisik itu relatif mudah selama tersedia anggaran. Namun, membangun kesadaran (awareness) dan budaya inklusif di kalangan civitas akademika membutuhkan kepedulian serta konsistensi yang tinggi. UMBY harus terus menangkap peluang kolaborasi dan program pendanaan mitra luar agar unit ini berkembang secara berkelanjutan," ungkap Ishartiwi.

Pandangan tersebut menjadi bagian penting dalam workshop penguatan kapasitas ULD UMBY. Pengembangan layanan bagi mahasiswa disabilitas membutuhkan keterlibatan berbagai unsur kampus sehingga prinsip inklusivitas tidak hanya menjadi program unit tertentu, tetapi menjadi budaya bersama.

Dukungan terhadap langkah UMBY juga disampaikan pengurus Yayasan Pinilih Sedayu, Nur Asrida. Ia berharap kehadiran ULD dapat memberikan dampak lebih luas terhadap kemajuan dan kesejahteraan warga disabilitas, khususnya di kawasan Sedayu hingga tingkat nasional.

“Kami merasa tersanjung dan terhormat dengan adanya langkah seperti ini. Semoga ini akan lebih meningkatkan kesejahteraan, terutama bagi warga disabilitas,” ujarnya.

Aksesibilitas hingga Pendampingan Psikologis

Setelah peresmian, UMBY melanjutkan agenda dengan workshop pemetaan program kerja. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyusun langkah konkret pengembangan layanan disabilitas dalam lima tahun mendatang.

Komitmen UMBY mencakup peningkatan aksesibilitas fisik, penyesuaian kurikulum akademik, hingga layanan pendampingan psikologis bagi mahasiswa disabilitas.

Langkah tersebut menempatkan pendidikan inklusif bukan hanya sebagai persoalan akses masuk ke perguruan tinggi. Mahasiswa disabilitas juga membutuhkan lingkungan akademik yang mendukung agar dapat mengikuti proses pembelajaran, beraktivitas di lingkungan kampus, serta mengembangkan potensi secara optimal.

Dengan terbentuknya ULD, UMBY menegaskan arah pengembangan kampus yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada pembentukan budaya akademik yang inklusif. Kolaborasi dengan komunitas difabel, lembaga pendidikan, organisasi olahraga, hingga pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online