1.001 Pembatik Bakal Ramaikan Malioboro 3 Oktober, Jalan Ditutup 3 Jam

Anisatul Umah
Anisatul Umah Rabu, 30 September 2026 09:07 WIB
1.001 Pembatik Bakal Ramaikan Malioboro 3 Oktober, Jalan Ditutup 3 Jam

Panitia menunjukkan sketsa batik Sumbu Filosofi dalam Konferensi Pers di D'Senopati Malioboro Grand Hotel, Selasa sore, (29/9/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 1.001 pembatik akan membatik bersama di kawasan Malioboro, Jogja, pada Sabtu (3/10/2026) dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Kegiatan bertajuk Simfoni 1001 Pembatik tersebut berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 15.00 WIB. Khusus pelaksanaan membatik di jalan, ruas Malioboro akan ditutup sementara selama tiga jam, yakni pukul 06.00-09.00 WIB.

Penutupan jalan diberlakukan dari Perempatan Batik Terang Bulan hingga kawasan Titik 0 Kilometer Jogja.

Kegiatan ini digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, serta Dekranasda DIY.

Simfoni 1001 Pembatik juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Jogja yang jatuh pada 7 Oktober 2026.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X direncanakan membuka kegiatan tersebut.

Batik Sumbu Filosofi Jadi Motif Bersama

Ketua Organizing Committee Simfoni 1001 Pembatik, Indah Rahayu Murniati, mengatakan panitia memilih Sumbu Filosofi Jogja sebagai motif yang akan dibatik bersama.

Motif tersebut akan menampilkan sejumlah elemen yang menjadi bagian dari Sumbu Filosofi, di antaranya gunung, Tugu, Krapyak, Keraton, dan Plengkung Gading.

Peserta nantinya mendapatkan sketsa sebagai panduan sebelum mulai membatik.

"Kainnya sudah ada polanya, sudah digambar Sumbu Filosofi. Jadi nanti ada contohnya, jadi nanti kita ngasih sketsa lalu dibatik," ujar Indah dalam konferensi pers di D'Senopati Malioboro Grand Hotel, Selasa (29/9/2026).

Peserta dikenai biaya pendaftaran Rp100.000. Biaya tersebut sudah mencakup kaos, kain, perlengkapan membatik, hingga proses pewarnaan.

Setelah selesai dibatik, kain akan dibawa ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta untuk menjalani proses pewarnaan. Kain kemudian dikembalikan kepada peserta.

Panitia menyediakan waktu sekitar dua jam untuk proses membatik karena kegiatan berlangsung di jalan umum yang ditutup sementara.

Peserta Tak Hanya dari Jogja

Indah mengatakan Simfoni 1001 Pembatik menjadi kegiatan membatik bersama pertama yang digelar Kadin DIY untuk masyarakat luas.

Menurut dia, panitia sempat khawatir target 1.001 peserta tidak terpenuhi. Namun, antusiasme masyarakat justru tinggi hingga masa pendaftaran berakhir.

"Sampai tanggal yang sudah kami tentukan masih banyak yang telepon, masih ada tempat tidak, mungkin karena penasaran," ucapnya.

Ketua Bidang Publikasi dan Dokumentasi Simfoni 1001 Pembatik, Y. Sri Susilo, mengatakan mayoritas peserta berasal dari DIY dan sekitarnya.

Meski demikian, panitia juga mencatat peserta dari sejumlah daerah di luar DIY, di antaranya Jakarta, Kalimantan, Surabaya, Solo, Magelang, Purworejo, dan Semarang.

Menurut Sri Susilo, dominasi peserta dari DIY tidak terlepas dari keterlibatan sejumlah instansi dan sekolah yang mengirimkan peserta.

"Kita cakupannya sementara ini memang Yogyakarta dan sekitarnya, bahwa ada satu dari Jakarta, Kalimantan, Surabaya, itu juga ada," jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online