Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 30 September 2026 22:37 WIB
Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama

Kasat Polairud Polres Gunungkidul AKP Wawan Anggoro saat memberikan sosialisasi keselamatan nelayan dalam pelatihan yang digelar GISLI di Pantai Baron, Selasa (29/9). /Istimewa.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Keselamatan menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas nelayan di Kabupaten Gunungkidul. Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) menggelar Pelatihan Standar Kecakapan Nelayan (SKN) di Pantai Baron pada 29-30 September 2026.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan nelayan saat beraktivitas di laut. GISLI juga menggabungkan pelatihan dengan penguatan perlindungan sosial serta pemberdayaan perempuan, khususnya istri nelayan.

Koordinator Lapangan GISLI, Orima Melati mengatakan, program pemberdayaan masyarakat pesisir di Gunungkidul kembali dilanjutkan dengan pendekatan yang mencakup kecakapan nelayan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan perempuan istri nelayan.

“Program dilaksanakan secara komprehensif dengan menempatkan keselamatan nelayan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Tidak hanya bagi mereka yang melaut, tetapijuga bagi keluarga yang menunggu di rumah,” kata Melati, Rabu (30/9/2026).

Nelayan Gunungkidul Dapat Pelatihan SKN

Salah satu bagian utama kegiatan tersebut ialah pelatihan sertifikasi Standar Kecakapan Nelayan (SKN). Dalam pelaksanaannya, GISLI menggandeng tim dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap.

Menurut Melati, materi pelatihan diberikan melalui pembelajaran dan praktik. Materi tersebut ditujukan untuk memperkuat pengetahuan serta keterampilan yang mendukung keselamatan dan kecakapan nelayan ketika menjalankan aktivitas di laut.

“Materi diberikan melalui sesi pembelajaran dan praktik untuk

memperkuat pengetahuan serta keterampilan yang mendukung keselamatan dan kecakapan nelayan dalam menjalankan aktivitasnya di laut,” katanya.

Selain kecakapan melaut, nelayan juga mendapat pembekalan mengenai kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja para nelayan. GISLI memberikan stimulant pembayaran iuran selama tiga bulan kepada nelayan yang belum memiliki jaminan perlindungan kerja tersebut.

“Dukungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran bahwa keselamatan nelayan juga perlu didukung dengan perlindungan sosial,” katanya.

Istri Nelayan Ikut Diberdayakan

Program GISLI di Gunungkidul juga menyasar keluarga nelayan. Istri nelayan mendapatkan program pemberdayaan ekonomi melalui workshop kewirausahaan dan pemasaran yang dilaksanakan bersama Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Melati mengatakan materi workshop mencakup pengelolaan keuangan keluarga dan usaha hingga strategi pemasaran produk. Para istri nelayan juga mendapat penguatan mengenai peran mereka dalam mengingatkan pentingnya keselamatan ketika nelayan pergi melaut.

“Materi mencakup pengelolaan keuangan keluarga dan usaha serta strategi pemasaran produk. Ada juga peran agar para istri terus mengingatkan pentingnya keselamatan bagi nelayan saat di laut,” katanya.

Bagi GISLI, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas makna keselamatan bagi masyarakat pesisir. Keselamatan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perlengkapan atau kecakapan ketika berada di laut, tetapi juga dengan kesadaran keluarga, perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

“Program di Gunungkidul akan terus diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat pesisir dengan menghubungkan antara keselamatan, perlindungan, dan pemberdayaan,” katanya.

Nelayan Diingatkan Tak Memaksakan Diri

Dukungan terhadap pelatihan tersebut disampaikan Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 di Pantai Baron, Marjono. Menurut dia, pelatihan bagi nelayan bukan hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya keselamatan ketika beraktivitas di laut.

Pihaknya terus mengingatkan nelayan agar mengutamakan keselamatan saat bekerja. Nelayan juga diminta tidak memaksakan diri menangkap ikan ketika kondisi sedang tidak bagus.

“Yang tak kalah penting, nelayan juga diimbau untuk membawa alat pengaman diri saat di laut seperti jaket pelampung demi keselamatan,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online