Kebakaran Trans Home Jalan Jogja-Solo, 2 Karyawan Terjebak Ditemukan Meninggal Dunia

Newswire
Newswire Kamis, 01 Oktober 2026 20:42 WIB
Kebakaran Trans Home Jalan Jogja-Solo, 2 Karyawan Terjebak Ditemukan Meninggal Dunia

Kebakaran Trans Home Sleman menewaskan diduga dua korban yang ditemukan berdekatan di lantai tiga dan dievakuasi ke RS Bhayangkara. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN— Petugas pemadam kebakaran menemukan dua korban yang diduga meninggal dunia dalam insiden kebakaran di Gedung Trans Home, Jalan Yogyakarta-Solo Kilometer 11, Kalurahan Kalitirto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis.

Koordinator Unit Siaga SAR Sleman Dhedi Prasetya mengatakan kedua korban ditemukan dalam kondisi henti napas dan tidak teraba denyut nadi. Keduanya kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY untuk menjalani penanganan dan identifikasi.

"Proses evakuasi tadi korban ditemukan oleh teman-teman yang melakukan pemadaman, tapi belum bisa untuk melakukan evakuasi. Akhirnya mereka keluar untuk berkoordinasi kembali untuk proses evakuasi," katanya.

Dua Korban Ditemukan Berdekatan di Lantai Tiga

Dhedi menjelaskan pencarian dan evakuasi korban dilakukan setelah petugas memastikan kondisi di lokasi cukup aman untuk dimasuki. Berdasarkan identifikasi awal, kedua korban berjenis kelamin perempuan dan ditemukan berdekatan di sekitar tangga lantai tiga gedung.

"Posisi korban berada di lantai tiga berdekatan. Kedua korban berdekatan, berada di sekitar dekat tangga," ujarnya.

Saat dievakuasi, kondisi kedua korban sudah tidak menunjukkan tanda-tanda pernapasan dan denyut nadi tidak teraba. Meski demikian, identitas serta jenis kelamin korban masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.

"[Jenis kelamin] pastinya masih proses identifikasi. Tapi dari info awal tadi yaitu korban atas nama Ibu W dan Ibu S, perempuan," katanya.

Kapolsek Berbah, Sleman, AKP Fitrianto Heri Nugroho membenarkan adanya dua korban dalam kebakaran Gedung Trans Home. Ia menyebut korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani identifikasi.

"Ya [korban seorang karyawan]," jawabnya.

Evakuasi Melibatkan Delapan Personel

Proses evakuasi menghadapi kondisi gedung yang dipenuhi asap tebal serta memiliki akses relatif sempit. Untuk menjaga keselamatan petugas, hanya delapan personel yang masuk ke dalam gedung, sementara petugas lainnya bersiaga di luar.

"Teman-teman menggunakan SCBA dan juga peralatan-peralatan untuk membuka pintu, misalkan ada pintu yang tidak bisa dibuka," ujarnya.

Self-contained breathing apparatus (SCBA) digunakan untuk membantu pernapasan petugas ketika berada di area yang dipenuhi asap. Peralatan tersebut menjadi bagian dari perlengkapan yang digunakan dalam proses pencarian dan evakuasi korban.

"Yang lain standby di luar. Untuk yang masuk seluruhnya ada delapan personel karena aksesnya cukup sempit, jadi kita batasi untuk jumlah personelnya," katanya.

Asap Kimia hingga Bahan Berbahaya Jadi Kendala

Dhedi menyebut kondisi di dalam gedung menjadi salah satu tantangan dalam proses evakuasi. Selain medan yang sempit, terdapat banyak timbulan asap berbahan kimia yang mengepul di dalam ruangan.

"Ini termasuk evakuasi dengan medan sempit dan juga banyak hazmat ataupun benda-benda berbahaya, bahan-bahan beracun yang bisa menyebabkan tim evakuasi fail. Jadi perlu tim yang benar-benar kompeten," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan peralatan yang sesuai dan personel yang kompeten. Petugas juga perlu memastikan akses menuju lokasi korban dapat dilalui dengan aman sebelum proses evakuasi dilakukan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online