Pasangan Muda di Mlati Sleman Makin Pertimbangkan Ekonomi Sebelum Menikah

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Sabtu, 03 Oktober 2026 19:57 WIB
Pasangan Muda di Mlati Sleman Makin Pertimbangkan Ekonomi Sebelum Menikah

Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Keputusan pasangan muda di Kapanewon Mlati untuk menikah kini tidak semata-mata soal menemukan pasangan. Latar belakang pendidikan, karier, hingga kondisi ekonomi turut menjadi pertimbangan sebelum mereka memutuskan membangun rumah tangga.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Mlati, Sigit Purnomo, mengatakan pendaftar pernikahan saat ini banyak berasal dari generasi kelahiran 2000-an. Latar belakang pendidikan mereka beragam, mulai dari SMA/SMK hingga sarjana.

Menurut Sigit, pendidikan berkaitan dengan cara pasangan menentukan waktu menikah. Mereka yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung mempertimbangkan lebih banyak hal, termasuk karier dan kondisi ekonomi.

“Kalau pendidikannya cenderung rendah yang penting ada jodoh. Latar belakang pendidikan memang menentukan,” kata Sigit dihubungi, Sabtu (3/10/2026).

Pasangan Muda Mulai Lebih Memikirkan Ekonomi

Sigit mengatakan pasangan kelahiran 2000-an kini mulai banyak mendaftarkan pernikahan di KUA Mlati. Sementara itu, pasangan kelahiran 1990-an menurut pengamatannya mulai lebih jarang karena sebagian masih mengejar karier.

Perubahan tersebut juga terlihat dari cara pasangan muda mempertimbangkan kondisi ekonomi. Mereka dinilai semakin sadar bahwa membangun rumah tangga membutuhkan perencanaan sehingga tidak ingin terburu-buru menikah.

“Kalau saya tanya anak-anak sekarang, mereka sudah sadar ekonomi. Mereka sudah melek. Makin melek. Tidak nekat. Ada planning,” katanya.

Pasangan kelahiran 2000-an pun mulai mendominasi pendaftar pernikahan. Dari sisi usia, pasangan yang mendaftarkan pernikahan di KUA Mlati saat ini paling banyak berada di kisaran 25 tahun.

Mayoritas Calon Pengantin Ingin Dua Anak

Pertimbangan pasangan muda tidak berhenti pada kesiapan menikah. Calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan juga mendapatkan bimbingan perkawinan.

Dalam bimbingan tersebut, calon pasangan antara lain ditanya mengenai rencana jumlah anak. Sigit mengatakan mayoritas pasangan menginginkan dua anak.

“Hampir 90% ingin punya dua anak. Sisanya hanya mau satu,” ujarnya.

Menurut Sigit, kecenderungan tersebut menjadi salah satu gambaran perubahan pola perencanaan keluarga dibandingkan generasi sebelumnya. Jumlah anak yang direncanakan pasangan saat ini cenderung lebih sedikit.

Ada Fenomena Laki-Laki Lajang Menikahi Janda

Selain perubahan pertimbangan sebelum menikah, Sigit juga melihat fenomena lain dari pasangan yang mendaftarkan pernikahan di KUA Mlati. Berdasarkan pengamatannya, terdapat kecenderungan laki-laki lajang menikah dengan perempuan yang berstatus janda.

Namun, Sigit belum dapat memastikan apakah kecenderungan tersebut berkaitan dengan persoalan ekonomi. Ia menyebut pengamatan tersebut merupakan hasil pemantauannya selama melihat pasangan yang mendaftar di KUA Mlati.

“Fenomena yang rada menarik itu ada yang banyak malah laki lajang mendapat janda. Anak muda sekarang tidak tahu kenapa. Saya melihat ada kecenderungan itu. Pengamatan pribadi dalam pemantauan saya di KUA Mlati,” ucapnya.

Mayoritas Pasangan Berasal dari Mlati

Sigit mengatakan mayoritas pasangan yang menikah di KUA Mlati merupakan warga setempat. Meski demikian, KUA tetap melayani pasangan dari luar wilayah.

Pelayanan tersebut dapat dilakukan karena administrasi pernikahan dapat dilaksanakan berdasarkan lokasi pelaksanaan pernikahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Lebih jauh, Sigit melihat perubahan pertimbangan pasangan dalam menentukan waktu menikah berkaitan dengan perubahan demografi. Salah satunya terlihat dari jumlah anak yang direncanakan keluarga yang kini cenderung lebih sedikit.

“Persoalannya bukan tidak mau menikah. Orang tua calon pengantin juga rata-rata punya dua anak. Sekarang mulai terasa program keluarga berencana,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online