Operasional Pos Damkar Bokoharjo Terganjal Formasi, BKPP Sleman Masih Tunggu
Operasional Pos Damkar Bokoharjo Sleman belum berjalan karena kebutuhan personel. BKPP masih menunggu kepastian formasi dari pemerintah pusat.
Foto ilustrasi buu nikah. /JIBI-Bisnis Indonesia.
Harianjogja.com, SLEMAN— Keputusan menikah di Kapanewon Ngaglik, Sleman, kini semakin dipengaruhi pertimbangan kesiapan pendidikan dan ekonomi. Kondisi tersebut terlihat dari kecenderungan sebagian calon pengantin yang memilih menunda pernikahan hingga merasa cukup matang dan memiliki penghasilan.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Ngaglik, Handoyo, mengatakan mayoritas calon pengantin yang datang ke KUA berada pada rentang usia 20-30 tahun. Mereka didominasi lulusan SMA/SMK.
Menurut Handoyo, tingkat pendidikan berkaitan dengan kesiapan calon pengantin dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mereka yang menempuh pendidikan perguruan tinggi cenderung menikah ketika telah mencapai usia yang dianggap matang sekaligus memiliki kesiapan penghasilan.
“Kalau perguruan tinggi, mereka sudah sesuai usia dan merasa matang dalam penghasilan,” kata Handoyo dihubungi, Sabtu (3/10/2026).
Pernikahan di Ngaglik Menurun
Kecenderungan menunda pernikahan juga tercermin dari data pencatatan pernikahan di KUA Ngaglik. Pada 2024, tercatat 461 pernikahan, kemudian jumlah tersebut turun menjadi 441 pernikahan pada 2025.
Memasuki 2026, penurunan belum terlihat tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. KUA Ngaglik mencatat 307 pernikahan sepanjang Januari-September 2026.
Jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pencatatan pada Januari-September 2025 yang mencapai 310 pernikahan.
Meski demikian, Handoyo menilai data hingga September belum dapat menjadi gambaran akhir kondisi pernikahan sepanjang 2026. Pencatatan pernikahan masih berlangsung hingga akhir tahun sehingga jumlahnya masih berpotensi bertambah.
Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial
Selain pendidikan dan kondisi ekonomi, perubahan lingkungan sosial juga dinilai ikut memengaruhi cara masyarakat memandang pernikahan.
Handoyo menyebut Ngaglik sebagai wilayah transisi yang berada dekat dengan kawasan perkotaan, tetapi masih memiliki karakter perkampungan. Kondisi tersebut membuat masyarakat berada dalam lingkungan sosial yang terus mengalami perubahan.
Masyarakat juga semakin banyak mendapatkan informasi melalui media sosial. Menurut Handoyo, konten media sosial yang banyak menampilkan gaya hidup dan konsumsi dapat ikut memengaruhi pertimbangan masyarakat sebelum memutuskan menikah.
“Ngaglik itu kan daerah transisi, dekat kota tapi nuansa kampung ada. Pemahaman masyarakat dan informasi media sosial juga terdampak,” katanya.
Dalam bimbingan perkawinan, KUA Ngaglik turut menggali alasan calon pengantin memutuskan menikah. Faktor usia dan pemenuhan persyaratan menjadi bagian yang dibahas bersama calon pengantin sebelum mereka memasuki kehidupan rumah tangga.
Menunggu Ekonomi Lebih Mapan
Ketua Komisi D DPRD Sleman, M. Arif Priyosusanto, memiliki pandangan yang sama mengenai adanya kecenderungan penundaan pernikahan. Menurut dia, peningkatan pendidikan di masyarakat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tren tersebut.
“Kalau menurut saya ada penundaan pernikahan, sehingga angka cenderung menurun. Tren ini disebabkan peningkatan pendidikan di masyarakat,” kata Arif.
Selain pendidikan, Arif mengatakan kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan bagi sebagian masyarakat. Mereka memilih menunggu sampai kondisi ekonomi dirasa lebih mapan sebelum memutuskan menikah.
“Faktor ekonomi juga berpengaruh mas, istilahnya nunggu mapan lagi nikah, itu beberapa saya jumpai di masyarakat,” ujarnya.
Data KUA Ngaglik menunjukkan jumlah pernikahan memang belum kembali ke angka 2024. Namun, angka Januari-September 2026 yang hanya turun tipis dibandingkan periode sama 2025 masih akan berubah karena pencatatan pernikahan berlangsung hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan menikah di Ngaglik tidak hanya berkaitan dengan usia atau pemenuhan persyaratan administrasi. Pendidikan, kesiapan penghasilan, kondisi ekonomi, serta perubahan lingkungan sosial turut menjadi pertimbangan calon pengantin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Operasional Pos Damkar Bokoharjo Sleman belum berjalan karena kebutuhan personel. BKPP masih menunggu kepastian formasi dari pemerintah pusat.
Indonesia menyampaikan sikap soal excess capacity, kerja paksa, dan MFN dalam Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Amerika Serikat.
Sebanyak 580 atlet dari Jawa Tengah dan DIY mengikuti kejuaraan pencak silat di Temanggung untuk pembinaan dan penjaringan bibit unggul.
DPRD Kota Jogja mendorong optimalisasi lahan perkotaan, pekarangan, dan aset pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Event di Jogja dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi kreatif dengan membuka peluang bagi UMKM, pekerja seni, dan pelaku usaha kreatif.
Pernikahan di Ngaglik cenderung menurun. Pendidikan dan kesiapan ekonomi menjadi pertimbangan calon pengantin sebelum menikah.