Dinkes Bantul Pastikan Belum Ada Temuan Influenza A di Bumi Projotamansari
Dinkes Bantul memastikan belum ada temuan influenza A hingga 29 September 2026 meski terdapat laporan 24 kasus di DIY.
Penampakan lahan pertanian yang mengering dan terbakar di kawasan Selopamioro, Imogiri, Bantul belum lama ini. DKPP setempat menyebut belum ada laporan mengenai gagal panen di wilayahnya meski kemarau sudah berlangsung beberapa bulan. / Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL—Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bantul mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Namun, hingga kini kondisi tersebut belum sampai menyebabkan gagal panen di lahan pertanian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan ke sejumlah wilayah pertanian. Dari pemantauan tersebut, belum ditemukan laporan mengenai lahan yang mengalami gagal panen akibat kekurangan air.
“Sejatinya ada dampaknya [kemarau], tetapi sampai sekarang belum ada laporan dari petani untuk gagal panen. Kami juga sudah berkeliling dan tidak menemukan adanya lahan yang gagal panen,” kata Joko, Senin (5/10/2026).
Menurut Joko, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi langkah antisipasi petani sebelum kemarau berlangsung lebih panjang. DKPP Bantul telah memberikan sosialisasi sejak April hingga Juni mengenai potensi kemarau sehingga petani dapat menyesuaikan pola tanam.
Joko mengatakan petani di wilayah yang tidak memiliki sumber air memadai memilih menanam palawija. Sementara petani yang tetap menanam padi diarahkan memilih varietas dengan umur panen lebih pendek.
“Kalau daerah itu tidak ada sumber air, mereka menanam palawija. Kalau tetap menanam padi, tentu mencari yang umurnya pendek. Jadi saat terjadi kemarau panjang, mereka sudah panen,” ujarnya.
Penyesuaian tersebut membuat petani dapat mengurangi risiko tanaman kekurangan air ketika kemarau berlangsung lebih lama. Pilihan komoditas dan waktu panen disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Selain strategi pola tanam, Joko menyebut pasokan air untuk pertanian di Bantul masih relatif tersedia. Sejumlah sungai yang melintas di wilayah tersebut masih mengalir dan membantu memenuhi kebutuhan irigasi lahan.
“Alhamdulillah di Bantul ada enam sungai yang melintas. Di antaranya ada Sungai Opak, Oyo, Progo, Code yang masih mengalir semuanya,” katanya.
Dukungan pengairan juga berasal dari pembangunan jaringan irigasi. DKPP Bantul mencatat terdapat 21 titik bantuan irigasi yang saat ini telah berfungsi dan mengalirkan air ke lahan pertanian.
“Kami dapat bantuan irigasi sebanyak 21 titik, dan sudah mengalir semua. Insyaallah tidak ada kegagalan panen,” ujar Joko.
Meski belum ditemukan lahan yang gagal panen, DKPP Bantul tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi pertanian selama kemarau. Adaptasi pola tanam dan ketersediaan sumber air menjadi faktor penting untuk menjaga produksi pertanian di tengah periode kering yang berlangsung lebih panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul memastikan belum ada temuan influenza A hingga 29 September 2026 meski terdapat laporan 24 kasus di DIY.
Presiden Prabowo berkomitmen membangun ekosistem sepak bola hingga daerah dan menggandeng klub profesional bersama FIFA.
DPRD DIY meminta pemerintah dan DPR RI menyinkronkan aturan ojol dalam RUU Ketenagakerjaan dan revisi UU LLAJ.
Pendapatan parkir Sleman baru Rp3,17 miliar hingga September 2026. DPRD menilai masih banyak potensi PAD yang bisa dioptimalkan.
Lima motuba seperti Civic Estilo, Starlet, BMW E30, W124 dan Lancer GTi masih diburu karena desain, sejarah, komunitas, dan kelangkaannya.
Kemarau panjang belum memicu gagal panen di Bantul. Petani menyesuaikan komoditas, memilih palawija dan padi berumur pendek.