Pakar UGM Ungkap Downgrading Makin Marak, Jadi Sinyal Tekanan Daya Beli

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Kamis, 08 Oktober 2026 11:07 WIB
Pakar UGM Ungkap Downgrading Makin Marak, Jadi Sinyal Tekanan Daya Beli

Warganet membagikan fenomena downgrade. /Threads

Harianjogja.com, SLEMAN—Fenomena downgrading atau peralihan konsumsi masyarakat ke barang yang lebih murah dinilai semakin terlihat di tengah tekanan ekonomi. Dosen FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menyebut kondisi tersebut terutama dipicu pendapatan riil yang stagnan dan kekhawatiran masyarakat terhadap ketidakpastian ekonomi di masa depan.

Menurut Wisnu, downgrading bukan semata-mata pilihan gaya hidup. Fenomena tersebut merupakan respons rumah tangga dalam mempertahankan konsumsi kebutuhan utama ketika ruang anggaran semakin terbatas.

"Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup," terang Wisnu pada Rabu (7/10/2026).

Konsumsi Kebutuhan Utama Dipertahankan

Wisnu menjelaskan rumah tangga pada dasarnya berupaya menjaga konsumsi inti, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan. Ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian meningkat, pengeluaran yang lebih fleksibel atau bersifat tersier menjadi bagian yang dikurangi.

Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai consumption smoothing. Rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengurangi konsumsi yang lebih fleksibel.

Dengan demikian, penyesuaian belanja yang dilakukan masyarakat tidak selalu berarti keinginan untuk berhemat. Menurut Wisnu, ruang pilihan rumah tangga dalam mengatur pengeluaran juga semakin terbatas.

Pendapatan Riil dan Ekspektasi Ekonomi

Wisnu menyebut terdapat dua faktor yang saling memperkuat tren downgrading.

Faktor pertama adalah pendapatan riil yang stagnan ketika harga sejumlah kebutuhan dasar, seperti pangan, pendidikan, dan energi, mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat kemampuan belanja riil rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak berubah.

Faktor kedua adalah menurunnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi. Masyarakat menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi juga karena khawatir terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan.

Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya rutin menjadi lebih tertahan.

"Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas," ujarnya.

"Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu," tandas Wisnu.

Downgrading di Kelas Menengah Jadi Perhatian

Menurut Wisnu, persoalan utama dari fenomena downgrading bukan semata-mata praktik peralihan konsumsi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah skala fenomena dan kelompok masyarakat yang mengalaminya.

Jika downgrading hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai kondisi sementara. Namun, situasinya berbeda apabila fenomena tersebut meluas, terutama di kelompok kelas menengah yang memiliki porsi besar dalam konsumsi nasional.

"Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah," tuturnya.

Meski demikian, Wisnu menilai tidak semua bentuk downgrading menunjukkan adanya penurunan kesejahteraan. Penyesuaian konsumsi dapat berlangsung secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga mengalami perubahan.

Misalnya, ketika anak telah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun, rumah tangga dapat mengalami perubahan pola konsumsi. Dalam kondisi tersebut, penyesuaian belanja tidak selalu menunjukkan tekanan ekonomi.

Sebaliknya, downgrading menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran.

"Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran," tegasnya.

Daya Beli Tertekan Bisa Berdampak ke Ekonomi

Wisnu menilai tekanan daya beli yang berlangsung dalam waktu lama dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian. Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa berpotensi ikut melambat.

Kondisi tersebut dapat membuat pelaku usaha menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja. Tekanan menjadi semakin serius ketika masyarakat mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup," tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online