Jalan Kulonprogo Terancam Rusak akibat Kendaraan Berat, Ini Kata DPRD
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific
Harianjogja.com, KULONPROGO— Musim kemarau tahun ini membawa ancaman yang lebih besar bagi wilayah Kulonprogo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat lonjakan tajam kejadian kebakaran lahan dan hutan yang mencapai 66 kasus, jauh lebih tinggi dibanding musim kemarau sebelumnya yang hanya mencatat lima kejadian.
Peningkatan tersebut terjadi setelah wilayah Kulonprogo sebelumnya mengalami kemarau basah yang masih diselingi hujan. Kondisi itu membuat potensi kebakaran lahan pada tahun-tahun sebelumnya relatif lebih rendah dibanding saat ini.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, mengatakan berbagai faktor diduga menjadi pemicu meningkatnya kebakaran lahan dan hutan selama musim kemarau.
“66 kejadian kebakaran lahan dan hutan meningkat dibanding sebelumnya hanya lima, faktor penyebabnya mulai dari kelalaian hingga tidak diketahui. Ada dugaan juga membuang puntung rokok saat lewat tepi jalan hingga membakar sampah yang tidak diawasi menjadi penyebab kebakaran lahan dan hutan saat kemarau,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (7/10/2026).
Selain faktor kelalaian manusia, Eko menjelaskan kondisi alam saat musim kemarau juga turut meningkatkan risiko kebakaran. Daun-daun kering yang mudah terbakar serta panas matahari yang terfokus pada benda tertentu dapat memicu munculnya titik api.
Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, Kulonprogo kembali dihadapkan pada dua kejadian kebakaran lahan yang terjadi secara berurutan.
Menurut Eko, kebakaran terjadi pada Senin dan Selasa lalu di wilayah Pendoworejo, Girimulyo. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 12 hektare.
“Senin dan Selasa kemarin secara berturut-turut terjadi kebakaran lahan di Pendoworejo, Girimulyo yang diperkirakan sampai 12 hektare areal lahan yang terbakar,” lanjutnya.
Proses pemadaman di lokasi tersebut tidak berjalan mudah. Medan perbukitan yang sulit dijangkau membuat armada mobil pemadam kebakaran tidak bisa langsung mencapai seluruh titik api.
Petugas akhirnya mengombinasikan pemadaman menggunakan kendaraan pemadam dengan metode manual. Langkah itu dilakukan untuk memastikan api tidak meluas hingga mengancam kawasan permukiman warga.
“Jadi pakai metode manual pemadamannya, petugas naik halau api pakai galah kemudian kendaraan truk pemadam fokus di sekitar permukiman antisipasi kalau api mengarah ke permukiman kami halau dengan jangkauan semprotan,” ucap Eko.
Ia menambahkan salah satu titik kebakaran diduga berawal dari aktivitas pembakaran sampah yang dikira sudah padam, namun ternyata masih menyisakan bara dan kemudian merembet ke area sekitar. Sementara satu titik lainnya masih dalam penyelidikan karena penyebab kebakaran belum diketahui.
“Pemadaman yang dilakukan cukup lama di satu titik penyebabnya karena bakar sampah dikiranya sudah padam ternyata masih ada dan merembet sedangkan satu titik lainnya kebakaran lahan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya,” imbuhnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, menilai meningkatnya kejadian kebakaran lahan dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, kombinasi cuaca panas, kondisi lahan yang kering, serta banyaknya material mudah terbakar membuat api lebih cepat membesar dan menyebar.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau masih berlangsung. Warga diimbau tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area terbuka, serta menghindari aktivitas pembakaran lahan tanpa pengawasan.
“Jangan membakar sampah sembarangan terutama di sekitar lahan kering, jangan membuang puntung rokok sembarangan dan hindari pembakaran lahan dan jangan meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat membesar ketika ada angin dan lahan kering,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
JPU mengungkap temuan 74 kg emas dan 2,67 juta dolar AS dalam dakwaan TPPU Febrie Adriansyah di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Manajer KDMP mengeluhkan ketidakjelasan kerja, penempatan jauh dari domisili, hingga mekanisme relokasi setelah menerima PKWT.
Mark Zuckerberg mengaku tak memiliki gelar sarjana saat dicecar soal dasar menilai risiko beauty filter Instagram terhadap pengguna muda.
Telkomsel dan ITNY berkolaborasi mengembangkan talenta digital mahasiswa melalui magang, guest lecturer, dan berbagai program edukasi digital.
Triumph Bonneville T40 dan T40 Black hadir dengan mesin 400 cc, desain klasik, serta fitur modern. Harga baru diumumkan pada awal 2027.