Gunungkidul Jadi Satu-satunya Lokus Energi Terbarukan di DIY, Ini yang Disiapkan

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 07 Oktober 2026 19:37 WIB
Gunungkidul Jadi Satu-satunya Lokus Energi Terbarukan di DIY, Ini yang Disiapkan

Foto ilustrasi biofuel. Energi bauran bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati. - Stockcake AI

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Petani di Gunungkidul berpeluang mendapat pasar baru untuk komoditas jagung dan singkong seiring masuknya kabupaten ini sebagai daerah prioritas pengembangan energi terbarukan. Pemerintah Pusat menunjuk Gunungkidul sebagai satu-satunya wilayah di DIY yang menjadi lokus pengembangan energi yang bersumber dari tanaman hayati.

Untuk mendukung program tersebut, Gunungkidul mendapat tambahan bantuan bibit jagung untuk lahan seluas 1.000 hektare. Program ini sekaligus diarahkan untuk mendorong pemanfaatan lahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budidaya komoditas yang dibutuhkan sebagai bahan baku energi terbarukan.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan terdapat 42 kabupaten di Indonesia yang ditunjuk Pemerintah Pusat sebagai daerah penopang energi terbarukan.

“Untuk DIY hanya Gunungkidul. Sedangkan, Jawa Tengah yang ikut program adalah Kabupaten Pati dan Wonogiri,” kata Mbak Endah, sapaan akrabnya, Rabu (7/10/2026).

Lahan Budidaya Masih Kurang

Endah mengatakan Pemkab Gunungkidul telah menyiapkan lahan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Namun, pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL) masih terus dilakukan karena lahan yang terdata hingga saat ini baru sekitar 800 hektare.

Artinya, masih terdapat kekurangan lahan dari target yang disiapkan untuk program tersebut.

“Masih kurang sehingga pendataan calon petani dan calon lokasi [CPCL] terus dilakukan agar diusulkan untuk memperkuat ketahanan energi ini,” katanya.

Program ketahanan energi tersebut akan difokuskan pada pengembangan bioethanol 50 (B5) atau yang dikenal dengan bensin nabati. Komoditas yang akan dikembangkan yakni jagung dan singkong, dengan penanaman melibatkan masyarakat.

“Jadi tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan, tapi harapannya juga bisa meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Empat Pabrik Energi Terbarukan Disiapkan

Pengembangan komoditas tersebut nantinya ditopang dengan rencana pembangunan empat pabrik energi terbarukan. Dua pabrik akan mengolah hasil produksi jagung, sedangkan dua pabrik lainnya mengolah bahan baku singkong.

Dengan adanya rencana tersebut, hasil panen petani diharapkan memiliki pasar yang mendukung kebutuhan program energi terbarukan.

“Harapannya dengan panen yang akan dibeli pemerintah untuk program energi terbarukan, maka para petani semakin teromitvasi untuk menanam komoditas yang dibutuhkan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan pengembangan energi terbarukan di Bumi Handayani memang akan difokuskan pada budidaya jagung dan singkong.

“Masih kita data karena butuh lahan sesuai yang telah dipersyaratakan untuk menjalankan program,” katanya.

Menurut Rismiyadi, program tersebut juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong agar dapat digunakan untuk budidaya jagung maupun singkong.

“Ini bagian menyukseskan pengembangan program energi terbarukan yang digagas oleh pemerintah. Makanya, harus didukung agar berjalan dengan sukses,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online