Wali Kota Hasto Minta Tiap Kemantren di Jogja Terapkan Bapak Asuh Trotoar

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Sabtu, 10 Oktober 2026 12:57 WIB
Wali Kota Hasto Minta Tiap Kemantren di Jogja Terapkan Bapak Asuh Trotoar

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo saat ditemui di Dinas Lingkuhan Hidup Jogja, Minggu (1/3/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo meminta warga dan pemilik bangunan di sepanjang trotoar ikut menjaga kebersihan fasilitas umum secara rutin. Dia berharap program Bapak Asuh Trotoar yang diterapkan di Kemantren Wirobrajan dapat menjadi contoh bagi seluruh kemantren di Kota Jogja.

Melalui program tersebut, masyarakat diajak bergotong royong merawat trotoar di depan rumah, toko, sekolah, maupun bangunan lainnya. Dengan pembagian tanggung jawab yang jelas, kebersihan trotoar diharapkan tidak hanya bergantung pada petugas pemerintah.

“Kalau semua kecamatan melakukan hal seperti ini, trotoar-trotoar bisa bersih semua. Tidak hanya tiap Jumat, tetapi dirawat oleh masing-masing yang ada di belakang trotoar,” katanya di Kemantren Wirobrajan pada Sabtu (10/10/2026).

Menurut Hasto, program Bapak Asuh Trotoar memberikan kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab merawat setiap bagian trotoar. Ketentuan itu dituangkan dalam surat keputusan (SK) yang diterbitkan oleh kemantren.

SK tersebut mengatur ruas trotoar sekaligus panjang bagian yang menjadi tanggung jawab masing-masing pihak. Dengan demikian, warga dan pihak lain yang terlibat dapat mengetahui area yang perlu dirawat secara gotong royong.

Pihak yang dilibatkan dalam program ini dapat berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk sekolah, pemilik toko, dan pemilik rumah yang berada di sepanjang trotoar. Hasto berharap kemantren lain menerapkan mekanisme serupa agar pemeliharaan fasilitas umum dapat dilakukan secara lebih merata.

Sampah dan Rumput Liar Jadi Perhatian

Hasto mengatakan persoalan kebersihan trotoar yang perlu segera ditangani antara lain sampah dan rumput liar yang tumbuh di sejumlah titik. Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi perhatian, terutama jika mengganggu fungsi trotoar bagi pejalan kaki.

Meski demikian, dia menilai keberadaan PKL masih dapat ditoleransi selama aktivitasnya tidak menimbulkan gangguan berlebihan dan kebersihan lingkungan tetap terjaga.

Hasto juga mengajak warga yang bangunan atau rumahnya berada di belakang trotoar untuk melakukan perawatan sederhana. Langkah tersebut bisa dimulai dengan mencabut rumput liar dan mengambil sampah yang berserakan.

“Rumah yang ada di belakangnya itu apa salahnya mencabut rumputnya, mengambil sampah. Itu saja,” ujarnya.

Perawatan Trotoar Tak Hanya Mengandalkan ASN

Hasto menjelaskan aparatur sipil negara (ASN) melaksanakan kegiatan kerja bakti setiap pekan. Sementara itu, perawatan melalui program Bapak Asuh Trotoar dapat dilakukan dengan frekuensi yang disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing lokasi.

Dengan pola tersebut, kebersihan trotoar diharapkan tetap terjaga di luar kegiatan kerja bakti mingguan. Warga maupun pemilik bangunan dapat melakukan perawatan secara berkala tanpa harus menunggu kegiatan bersama yang dijadwalkan pemerintah.

Hasto berharap keterlibatan masyarakat dalam menjaga trotoar dapat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan rutin mingguan.

Pembagian tanggung jawab melalui program Bapak Asuh Trotoar diharapkan membuat pemeliharaan fasilitas umum lebih konsisten. Selain menjaga lingkungan perkotaan tetap bersih, upaya tersebut juga ditujukan untuk menciptakan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online