Gelombang Pasang Bikin Nelayan Pantai Depok Bantul Jarang Melaut

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 12 Oktober 2026 20:57 WIB
Gelombang Pasang Bikin Nelayan Pantai Depok Bantul Jarang Melaut

Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Nelayan Pantai Depok, Bantul, menghadapi pilihan sulit dalam dua pekan terakhir. Gelombang pasang membuat aktivitas melaut lebih berisiko, sedangkan hasil tangkapan yang minim berpotensi membuat pendapatan tidak cukup untuk menutup biaya operasional.

Salah seorang nelayan Pantai Depok, Henri, mengatakan dirinya memilih mengurangi aktivitas melaut karena khawatir terhadap keselamatan, terutama ketika perahu kembali menuju pantai.

“Terlalu berisiko, lebih baik milih jarang melaut,” ujar Henri, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, gelombang yang menghantam perahu saat mendekati daratan dapat menyebabkan kecelakaan laut. Jika perahu terbalik atau karam, nelayan berisiko kehilangan hasil tangkapan sekaligus mengalami kerusakan atau kehilangan perahu, mesin, dan alat tangkap.

Karena itu, Henri memilih lebih berhati-hati daripada memaksakan diri melaut dalam kondisi yang dinilai membahayakan.

“Ya kami cari amannya saja, jangan sampai terjadi laka laut dan hasil tangkapan ikan serta alat tangkap dan mesin hilang ketika perahu karam dihantam gelombang pasang,” katanya.

Mesin Lebih Besar, Biaya Operasional Ikut Jadi Pertimbangan

Nelayan Pantai Depok lainnya, Mistok, mengatakan sebagian nelayan masih berusaha melaut meski gelombang sedang pasang. Mereka mengandalkan mesin dengan tenaga lebih besar untuk mendukung perjalanan di laut.

Menurut Mistok, mesin berkekuatan 15 PK dinilai cukup ketika kondisi gelombang relatif baik. Namun, saat gelombang pasang, nelayan setidaknya membutuhkan mesin berkekuatan 30 PK.

Meski demikian, mesin yang lebih bertenaga tidak menjamin nelayan memperoleh hasil tangkapan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam kondisi tertentu, ikan yang didapat justru tidak cukup untuk menutup ongkos melaut.

Situasi itu membuat nelayan harus memperhitungkan dua risiko sekaligus, yakni keselamatan di tengah gelombang dan kemungkinan merugi setelah kembali ke daratan.

“Jadi serba salah, kalau melaut gelombang pasang, melaut malah tombok,” ujar Mistok.

Bagi nelayan, mengurangi aktivitas melaut menjadi salah satu pilihan untuk menekan risiko kecelakaan dan kerugian. Namun, keputusan tersebut juga berarti kesempatan memperoleh penghasilan dari hasil tangkapan menjadi lebih terbatas.

Sebelumnya, BMKG telah mengingatkan nelayan dan masyarakat yang menggunakan transportasi laut agar mewaspadai gelombang tinggi.

Gelombang dengan ketinggian 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Lampung, perairan selatan Banten, perairan selatan Jawa Barat, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online