Kisah Sagon Gulung Makmur Sanden Bantul Bangkit Setelah Sempat Berhenti

Kiki Luqman
Kiki Luqman Rabu, 14 Oktober 2026 14:37 WIB
Kisah Sagon Gulung Makmur Sanden Bantul Bangkit Setelah Sempat Berhenti

Muryati saat membuat Sagon Gulung. /Harian Jogja-Kiki Luqman.

Harianjogja.com, BANTUL—Setelah sempat berhenti akibat pandemi Covid-19 dan kenaikan harga bahan baku, usaha Sagon Gulung Makmur di Gadingsari, Sanden, Bantul, kembali berproduksi sejak sekitar enam bulan terakhir. Usaha jajanan tradisional yang dirintis orang tua Muryati pada 1991 itu kini menghasilkan rata-rata 250 biji sagon gulung setiap hari dengan melibatkan anggota keluarga.

Di dapur produksinya, aroma kelapa parut berpadu dengan asap tipis dari anglo yang digunakan untuk memasak sagon gulung. Muryati bersama suami dan anak-anaknya berusaha menjaga keberlangsungan usaha keluarga tersebut sekaligus mempertahankan cara pembuatan tradisional yang telah dijalankan selama puluhan tahun.

Perjalanan Sagon Gulung Makmur tidak selalu berjalan mulus. Usaha yang semula dimulai dengan produksi kecil-kecilan untuk dipasarkan di pasar tradisional itu pernah mengalami peningkatan permintaan pada 1997, sebelum akhirnya berhenti dan kembali dirintis oleh Muryati.

“Kalau orang tua saya sejak 1991 itu sudah buat. Tapi cuma sedikit-sedikit dipasarkan di pasar-pasar. Terus tahun 1997 itu pernah banyak karena ada yang menjualkan,” kata Muryati saat ditemui di tempat produksinya, Jumat (9/10) lalu.

Pada masa ketika pemasarannya dibantu pihak lain, produksi sagon gulung keluarga Muryati pernah mencapai 50 kilogram adonan dalam sehari. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan produksi saat ini yang rata-rata mencapai lima kilogram adonan per hari.

Sempat Berhenti Saat Pandemi

Perjalanan usaha keluarga tersebut kemudian menghadapi tantangan ketika pandemi Covid-19 melanda. Kenaikan harga bahan baku turut membebani biaya produksi hingga keluarga Muryati memutuskan berhenti membuat sagon gulung.

Ketika orang tuanya semakin sepuh, Muryati mengambil alih usaha tersebut. Meski sudah mengenal proses pembuatannya, menghidupkan kembali produksi setelah sempat terhenti tetap membutuhkan ketekunan dan penyesuaian.

“Terus ada corona, terus harga bahan bakunya mahal-mahal itu loh, terus enggak buat. Terus baru enam bulanan ini saya buat lagi,” ujarnya.

Sejak kembali berproduksi, Muryati menata lagi kegiatan usaha dari dapur rumahnya. Ia bersama keluarga menyiapkan bahan, mengolah adonan, memasak sagon, hingga memenuhi kebutuhan toko dan pesanan pelanggan.

Keluarga tersebut tidak hanya berupaya menjaga jumlah produksi, tetapi juga mempertahankan karakter sagon gulung yang dibuat secara tradisional. Salah satu caranya ialah tetap menggunakan anglo dalam proses memasak.

Tepung Ketan, Kelapa, dan Gula Jawa

Sagon Gulung Makmur mempertahankan tiga bahan utama dalam pembuatannya, yakni tepung ketan, kelapa parut, dan gula jawa. Tepung ketan diperoleh dari pedagang beras, sedangkan kelapa dibeli dari petani setempat.

Proses pembuatan dimulai dengan mengayak tepung ketan untuk memisahkan bagian yang halus dan kasar. Tepung bertekstur halus digunakan untuk membuat kulit sagon berwarna putih, sementara bagian yang lebih kasar dicampur dengan parutan kelapa dan gula jawa untuk dijadikan isian.

Kelapa juga harus diparut dan diolah sesuai kebutuhan agar menghasilkan tekstur yang sesuai untuk kulit maupun isian. Persiapan bahan tersebut membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan proses memasaknya.

Setelah seluruh bahan siap, adonan diolah hingga menjadi sagon gulung. Tahapan ini membutuhkan keterampilan agar tekstur dan hasil akhir produk sesuai dengan yang diharapkan.

Penggunaan anglo menjadi salah satu ciri yang dipertahankan keluarga Muryati. Alat memasak tradisional itu dinilai menghasilkan tekstur berbeda dibandingkan wajan teflon.

Ficdal, anak Muryati yang turut membantu usaha keluarga, mengatakan penggunaan anglo sudah menjadi bagian dari proses pembuatan sagon gulung sejak dahulu. Ia tidak mengetahui secara pasti alasan orang tuanya memilih alat tersebut, tetapi menilai permukaan anglo memengaruhi tekstur hasil masakan.

Menurut Ficdal, bentuk dan permukaan alat memasak turut menentukan hasil akhir sagon gulung. Karena itu, keluarga tetap mempertahankan penggunaan anglo meskipun peralatan memasak modern semakin mudah dijumpai.

Keterampilan Memasak 

Di tengah keterlibatan anggota keluarga dalam produksi, ada satu tahapan yang masih menjadi tanggung jawab utama Muryati, yakni memasak sagon gulung hingga matang. Anak-anaknya sudah membantu berbagai pekerjaan, tetapi belum sepenuhnya menguasai teknik tersebut.

“Kalau gorengnya ini, anak saya belum bisa. Kalau bukan saya yang goreng, tepungnya belum bisa,” kata Muryati.

Kemampuan mengolah adonan hingga matang menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk. Proses tersebut tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga pengalaman untuk memahami adonan dan menghasilkan sagon gulung sesuai karakter yang selama ini dipertahankan.

Keterlibatan anak-anaknya menjadi bagian dari kegiatan produksi sehari-hari. Namun, keterampilan memasak masih perlu dikuasai agar proses pembuatan dapat terus berjalan dengan baik.

250 Biji

Saat ini, Sagon Gulung Makmur rata-rata mengolah lima kilogram adonan per hari. Dari jumlah tersebut, keluarga Muryati dapat menghasilkan sekitar 250 biji sagon gulung untuk memenuhi kebutuhan toko dan pesanan pelanggan.

Jumlah produksi dapat meningkat apabila ada permintaan khusus. Ficdal mengatakan salah satu pesanan terbesar yang pernah mereka layani membutuhkan hingga 10 kilogram adonan.

“Sehari lima kilo adonan. Lima kilo adonan kurang lebih jadi 250 biji,” kata Ficdal.

Pemasaran sagon gulung masih berfokus pada wilayah sekitar tempat produksi. Produk tersebut dipasok ke sejumlah toko di Srandakan, Sanden, dan Celep, sementara pelanggan juga dapat melakukan pemesanan secara langsung melalui nomor telepon yang tersedia.

“Ke toko-toko sekitar Srandakan. Baru sekitar Sanden sama Celep,” ujarnya.

Permintaan pelanggan turut memengaruhi pengemasan produk. Sebagian pembeli menginginkan setiap biji dibungkus secara terpisah, sedangkan pelanggan lain memilih kemasan yang lebih praktis.

Untuk harganya, satu biji sagon gulung dijual sekitar Rp2.000. Sementara itu, kemasan berisi lima biji dibanderol Rp10.000.

“Per pak isi lima Rp10.000, kalau ecer Rp2.000-an,” kata Ficdal.

Dengan pilihan tersebut, pembeli dapat menyesuaikan jumlah pembelian berdasarkan kebutuhan. Bagi keluarga Muryati, pesanan toko dan pelanggan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur jumlah adonan yang diproduksi setiap hari.

Membatasi Penyimpanan

Selain menyesuaikan produksi dengan permintaan, keluarga Muryati juga harus memperhitungkan daya tahan sagon gulung. Jajanan tradisional tersebut hanya dapat bertahan sekitar satu hingga tiga hari.

Keluarga Muryati belum menawarkan sagon gulung dalam bentuk beku. Penyimpanan di dalam kulkas justru dapat merusak tekstur kulit produk tersebut.

“Belum, soalnya kalau sudah jadi terus masuk kulkas, kulitnya hancur,” ujar Ficdal.

Kondisi itu membuat Sagon Gulung Makmur masih mengandalkan produksi harian dan pesanan pelanggan. Keluarga tersebut belum dapat memperpanjang masa penyimpanan melalui metode pembekuan tanpa mengubah karakter produknya.

Di sisi lain, usaha ini tetap memanfaatkan bahan baku yang diperoleh dari pedagang dan petani setempat. Kegiatan produksi yang melibatkan anggota keluarga juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan usaha setelah sempat berhenti.

Bagi Muryati, kembali memproduksi sagon gulung bukan sekadar menjalankan usaha rumahan. Ia meneruskan usaha yang dibangun orang tuanya sejak 1991, melewati peningkatan permintaan pada 1997, masa sulit saat pandemi Covid-19, hingga kembali berproduksi sekitar enam bulan terakhir.

Dari dapur rumah di Gadingsari, Sanden, Bantul, Sagon Gulung Makmur kini melanjutkan perjalanan sebagai usaha keluarga yang tetap mengandalkan resep, bahan baku, dan proses pembuatan tradisional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online