Lulusan Perguruan Tinggi Pilih Merantau, Jogja Hadapi Perubahan Demografi

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 14 Oktober 2026 08:37 WIB
Lulusan Perguruan Tinggi Pilih Merantau, Jogja Hadapi Perubahan Demografi

Sejumlah calon pekerja mengamati brosur lowongan di Job Fair Jogja 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Jogja melalui Dinsosnakertrans pada 15–16 Juli 2026 di Auditorium LPP Agro Nusantara, Jl. Urip Sumoharjo, Yogyakarta. Harian Jogja/Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, JOGJA—Angkatan kerja yang berasal dari penduduk asli Kota Jogja diprediksi mulai menurun pada periode 2030–2040. Perubahan struktur demografi dan kecenderungan generasi muda berpendidikan tinggi mencari pekerjaan di luar daerah menjadi tantangan bagi ketersediaan tenaga kerja lokal.

Ketua Tim Kerja (Katimja) Kelompok Rumpun PP Nakertrans Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja, Mohammad Soko Marhendi, mengatakan penambahan jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja saat ini tidak signifikan. Sebaliknya, jumlah penduduk yang keluar dari angkatan kerja justru lebih besar.

“Kalau memang semakin ke sini tidak ada pendatang, kalau hanya warga asli Kota Jogja saja, mungkin sekitar 2030–2040 nanti sudah mulai decline angkatan kerja kami,” kata Soko saat ditemui di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Wijaya Kusuma Jogja, Selasa (13/10/2026).

Menurut dia, kecenderungan tersebut berkaitan dengan perubahan komposisi penduduk Kota Jogja yang semakin didominasi kelompok usia tua. Meski demikian, angka pasti mengenai jumlah penduduk yang masuk dan keluar dari angkatan kerja masih perlu dipastikan melalui data statistik.

Lulusan Pendidikan Tinggi Cenderung Merantau

Di sisi lain, Soko melihat kecenderungan lulusan berpendidikan menengah ke atas untuk mencari pekerjaan di luar Kota Jogja karena peluang ekonomi yang dinilai lebih besar. Sebaliknya, penduduk dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah cenderung bertahan di Kota Jogja.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.

Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinsosnakertrans Kota Jogja, Erna Nur Setyaningsih, membenarkan kecenderungan penduduk berpendidikan menengah ke bawah untuk tetap tinggal di Kota Jogja.

“Cost biaya hidup di luar negeri tinggi. Sedangkan di Jogja masih masih sektor informal, pariwisata, kuliner dan jasa yang bisa menampung mereka tanpa harus mengeluarkan biaya hidup yang tinggi. Ini belum mempertimbangkan ikatan budaya Jawa masih kuat,” kata Erna.

Sementara itu, warga dengan latar belakang pendidikan tinggi cenderung menemukan kesesuaian antara harapan dan realitas pekerjaan di kota-kota besar. Menurut Erna, kota-kota besar dapat memenuhi harapan pencari kerja lulusan perguruan tinggi, terutama dari sisi gaji, dibandingkan Kota Jogja pada khususnya dan DIY pada umumnya.

“Dan Jogja kan produsen SDM, bukan konsumen,” katanya.

Dinsosnakertrans Beri Bimbingan Karier kepada Pelajar

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, Dinsosnakertrans Kota Jogja menjalankan program penyuluhan dan bimbingan jabatan bagi pelajar, terutama siswa sekolah menengah kejuruan (SMK).

Program ini bertujuan membantu generasi muda mengenali pilihan karier sekaligus mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Melalui kegiatan tersebut, pelajar diharapkan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mulai merencanakan masa depan dan menentukan pekerjaan yang ingin ditekuni.

“Jadi, kami memberikan bimbingan jabatan di sekolah-sekolah supaya mereka memahami masa depannya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan,” kata Soko.

Dia menyebut program penyuluhan dan bimbingan jabatan telah berjalan secara rutin setiap tahun. Pada 2026, kegiatan tersebut diperkirakan menyasar sekitar 450 orang.

Soko menambahkan, siswa SMK menjadi salah satu sasaran utama karena relatif lebih dekat dengan tahap memasuki dunia kerja. Selain itu, mahasiswa juga menjadi sasaran pendampingan terkait pilihan karier dan persiapan memasuki pasar kerja.

Ke depan, penyiapan tenaga kerja lokal dinilai penting untuk menghadapi perubahan demografi sekaligus memastikan penduduk usia produktif memiliki kesiapan dan kesempatan bekerja. Upaya tersebut menjadi salah satu langkah untuk merespons tantangan ketersediaan angkatan kerja penduduk asli Kota Jogja pada masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online