Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Luncurkan Gemati untuk Dampingi Warga ODGJ

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 14 Oktober 2026 10:17 WIB
Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Luncurkan Gemati untuk Dampingi Warga ODGJ

Petugas kesehatan dan kalurahan sedang mengunjungi seorang warga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa di Kalurahan Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, Senin (23/6/2025)./Istimewa-Lurah Sorosutan

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, mengembangkan inovasi Gemati atau Digegem Nganggo Ati untuk mendampingi warga dengan gangguan jiwa agar memperoleh penanganan kesehatan yang tepat dan berkelanjutan. Program ini mengedepankan pendekatan persuasif, pemeriksaan medis, hingga pendampingan agar warga dapat menjalani pengobatan sesuai kebutuhan.

Inovasi Gemati juga menjadi tindak lanjut atas Pasal 76 ayat (1) huruf a dan b Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Ketentuan tersebut menyatakan setiap orang berhak mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan jiwa yang aman, bermutu, dan terjangkau, serta memperoleh informasi dan edukasi mengenai kesehatan jiwa.

Lurah Sorosutan, Muhammad Zulazmi, mengatakan Gemati menjadi bagian dari Gerakan Kelurahan Sehat, Tanggap, dan Tangguh Bencana (GK STB). Salah satu fokus gerakan tersebut adalah memperkuat penanganan kesehatan jiwa di lingkungan masyarakat.

“Gemati ini untuk memastikan saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa bisa terdampingi dengan baik,” kata Zulazmi kepada Harianjogja.com, Selasa (13/10/2026).

Gemati Libatkan Sukarelawan dan Tenaga Pendamping

Dalam pelaksanaannya, Kelurahan Sorosutan menggandeng Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), khususnya Pokja IV, serta Relawan Ambulans Jupiter yang berada di wilayah Sorosutan.

Pendampingan dilakukan dengan mendatangi warga yang membutuhkan bantuan kesehatan jiwa. Petugas kemudian membangun pendekatan persuasif agar warga bersedia menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

Setelah warga bersedia, petugas membantu mengantarkan mereka ke rumah sakit untuk menjalani asesmen. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar penentuan penanganan yang sesuai, baik melalui rawat jalan maupun rawat inap.

Pendampingan juga diarahkan untuk memastikan warga yang membutuhkan pengobatan rutin dapat menjalani terapi secara konsisten. Kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga medis diharapkan membantu mengendalikan kondisi kesehatan dan mencegah kekambuhan.

“Dengan penanganan yang tepat, kondisi warga dengan gangguan jiwa bisa membaik. Paling tidak, ketika harus mendapatkan intervensi obat secara terus-menerus, obatnya diminum secara teratur sehingga tidak kambuh,” katanya.

Zulazmi menjelaskan pendampingan terhadap warga dengan gangguan jiwa sebenarnya telah dilakukan sejak lama. Namun, kegiatan tersebut kemudian diperkuat dan diwadahi melalui Gemati agar pelaksanaannya menjadi gerakan yang lebih terarah.

Menurut dia, kesehatan jiwa juga berkaitan erat dengan kondisi fisik. Warga yang mengalami penyakit menular, seperti tuberkulosis (TB) dan HIV, maupun penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes, kanker, dan penyakit kardiovaskular, dapat menghadapi persoalan kesehatan jiwa. Sebaliknya, gangguan kesehatan jiwa juga dapat memperburuk kondisi fisik, terutama ketika seseorang harus menjalani pengobatan jangka panjang.

Dukungan Keluarga Jadi Tantangan Pendampingan

Di sisi lain, Pegiat Gemati, Ainy Ihsaniah, mengungkapkan bahwa program pendampingan kesehatan jiwa masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utamanya adalah keterbatasan dukungan keluarga terhadap proses penanganan dan pemulihan warga.

Ainy mencontohkan kasus seorang remaja putus sekolah yang mengurung diri dan kerap menyakiti diri sendiri. Informasi mengenai kondisi remaja tersebut diterima tim ketika yang bersangkutan baru saja menyayat tangannya hingga membutuhkan penanganan medis dan penjahitan luka di RS Jogja.

Menindaklanjuti laporan itu, Ainy bersama tim bersinergi dengan kelurahan, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), dan Puskesmas untuk melakukan kunjungan serta pemeriksaan dini terhadap kondisi remaja tersebut.

Remaja itu kemudian dibawa ke RS Hardjolukito untuk menjalani rawat inap selama satu pekan. Dalam proses penanganan, keluarga juga memperoleh edukasi mengenai kemungkinan penempatan remaja tersebut di panti sosial agar mendapatkan pembinaan dan pendampingan lebih lanjut.

Namun, rencana tersebut terkendala karena keluarga tidak memberikan izin saat penempatan di panti sosial akan dilaksanakan. Akibatnya, penanganan lanjutan tidak dapat berjalan sesuai rencana dan kondisi remaja tersebut kembali berulang.

Kasus tersebut menjadi gambaran tantangan yang dihadapi dalam pendampingan warga dengan masalah kesehatan jiwa. Dukungan keluarga dinilai penting untuk membantu proses pemulihan sekaligus memastikan penanganan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Keluarga Terkadang Menutup Diri dari Pendampingan

Ainy mengatakan kendala serupa tidak hanya ditemukan saat menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) maupun orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Dalam sejumlah kasus, warga membutuhkan bantuan, tetapi keluarga justru menutup diri sehingga petugas kesulitan menjalin komunikasi dan memberikan pendampingan.

“Yang paling utama ya tantangan dengan keluarga. Ada yang perlu bantuan, tetapi keluarga menutup diri. Kami mau masuk sekadar silaturahmi pun tidak bisa,” kata Ainy.

Melalui Gemati, Kelurahan Sorosutan berupaya memperkuat keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam mendampingi warga yang membutuhkan layanan kesehatan jiwa. Kolaborasi antara kelurahan, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan, dan keluarga menjadi bagian penting agar warga dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online