Okupansi Hotel Berbintang Sleman 40-50 Persen, PHRI Bidik Pasar MICE

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 15 Oktober 2026 13:17 WIB
Okupansi Hotel Berbintang Sleman 40-50 Persen, PHRI Bidik Pasar MICE

Ilustrasi Hotel- Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Okupansi hotel di Kabupaten Sleman diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir November 2026. Untuk menjaga kinerja usaha selama periode low season atau musim sepi kunjungan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman memperluas promosi ke luar daerah dan membidik pasar kegiatan bisnis.

Ketua BPC PHRI Sleman, Andhu Pakerti, mengatakan kondisi tersebut merupakan pola musiman yang biasa terjadi dalam industri perhotelan. Periode Oktober hingga akhir November menjadi masa jeda di antara libur sekolah dan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Biasanya low season berlangsung sampai akhir November. Okupansi mulai naik awal Desember menjelang libur sekolah dan Nataru, dan pemesanan biasanya sudah mulai masuk sejak November,” tuturnya, Kamis (15/10/2026).

Saat ini, okupansi hotel berbintang di Sleman berada di kisaran 40%-50%. Sementara itu, tingkat keterisian hotel nonbintang tercatat lebih rendah.

Andhu menjelaskan tingkat hunian hotel juga berbeda berdasarkan hari. Pada hari kerja, hotel cenderung lebih sepi dengan tamu yang didominasi peserta rapat dan kalangan korporasi, sedangkan akhir pekan relatif lebih ramai.

“Saat ini okupansi di Sleman masih di kisaran 40–50% untuk hotel berbintang, dan non-bintang lebih rendah. Hari kerja lebih sepi, terisi terutama oleh tamu rapat dan korporasi, sedangkan akhir pekan lebih ramai,” katanya.

Perbedaan tersebut menunjukkan pasar korporasi dan kegiatan pertemuan menjadi salah satu segmen yang dapat diandalkan ketika kunjungan wisatawan belum meningkat. Karena itu, PHRI Sleman berupaya memperluas jangkauan pemasaran agar hotel tetap memperoleh tamu di luar musim liburan.

PHRI Sleman Perluas Promosi ke Luar Daerah

Salah satu strategi yang dilakukan PHRI Sleman adalah menggelar table top, yakni pertemuan bisnis antara pelaku industri pariwisata dan calon mitra dari luar daerah. Kegiatan ini bertujuan memperluas jaringan pemasaran sekaligus membuka peluang kerja sama baru.

Andhu menyebut PHRI Sleman telah mengadakan kegiatan tersebut di Bandar Lampung, Jakarta, dan Karawang sepanjang 2026. Promosi ke luar daerah itu direncanakan berlanjut pada tahun depan.

Selain menyasar wisatawan, PHRI Sleman membidik pasar meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Segmen ini mencakup kegiatan pertemuan, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran yang berpotensi mendatangkan tamu di luar periode liburan.

Untuk mendukung pemasaran tersebut, PHRI Sleman tengah mendata kapasitas hotel dan tempat penyelenggaraan acara milik anggota. Data itu akan menjadi bahan promosi untuk menjangkau pasar MICE, terutama dari kalangan korporasi dan asosiasi.

PHRI Sleman juga mendorong anggotanya menyiapkan paket penawaran menarik untuk November dan periode Nataru. Namun, penawaran tersebut diharapkan tidak memicu persaingan tarif yang tidak sehat di antara pelaku usaha perhotelan.

Hotel Tingkatkan Layanan dan Efisiensi Belanja

Selain memperluas pasar, PHRI Sleman berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui pelatihan sumber daya manusia. Materi pelatihan antara lain mencakup keselamatan dan kesehatan kerja (K3), higiene sanitasi, serta tata graha atau housekeeping.

Pelatihan tersebut dilaksanakan bersama dinas terkait, termasuk instansi yang menangani sektor pariwisata, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Peningkatan kompetensi pekerja menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas pelayanan kepada tamu.

Di sisi operasional, PHRI Sleman mengembangkan strategi efisiensi belanja hotel dengan mendorong pembelian langsung dari pelaku usaha binaan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman.

Upaya tersebut disertai pemetaan distribusi produk UMKM, petani, dan pelaku usaha binaan DP3. Melalui pemetaan ini, kebutuhan hotel diharapkan dapat dipertemukan dengan pemasok lokal yang sesuai.

Sistem pemetaan distribusi itu dikembangkan melalui aplikasi yang direncanakan untuk dihibahkan kepada pemerintah daerah. Inisiatif tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara industri perhotelan dan pelaku usaha lokal.

“Kami berharap pelaku industri perhotelan dapat menjaga kinerja usaha selama musim sepi sekaligus memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok sektor pariwisata,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online