Antrean Pertalite di Jogja, Stok Aman tetapi Kuota Belum Bertambah

Anisatul Umah
Anisatul Umah Jum'at, 16 Oktober 2026 20:57 WIB
Antrean Pertalite di Jogja, Stok Aman tetapi Kuota Belum Bertambah

Pengendara sepeda motor mengantre pembelian BBM jenis Pertalite di SPBU Jogokariyan, Mantrijeron, Kota Jogja, pada Kamis (3/8/2026) siang. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Antrean kendaraan untuk membeli Pertalite masih menjadi perhatian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah memastikan stok BBM bersubsidi tersebut aman, tetapi usulan tambahan kuota yang diajukan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY belum mendapat persetujuan.

Kondisi ini membuat ketersediaan stok dan kecukupan kuota perlu dibedakan. Pertamina menyatakan pasokan masih terjaga, sedangkan penyaluran Pertalite tetap harus mengikuti alokasi yang ditetapkan pemerintah.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan peningkatan konsumsi BBM bersubsidi menjadi salah satu alasan Pemda DIY mengusulkan penambahan kuota kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Menurut Taufiq, konsumsi Pertalite di DIY meningkat sekitar 6%–7% pada periode Juni hingga Agustus 2026. Angka pasti peralihan konsumsi pada September belum dapat dipastikan, tetapi diperkirakan tidak jauh berbeda dari periode sebelumnya.

Dia mengapresiasi langkah Pemda DIY yang mengusulkan tambahan kuota untuk menjaga kelancaran penyaluran BBM bersubsidi hingga akhir tahun.

“Kalau tidak nambah, 100 itu nggak akan cukup sampai dengan akhir tahun,” ujar Taufiq, Jumat (16/10/2026).

Dia menjelaskan, dari dua provinsi yang menjadi wilayah kerja Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, yakni DIY dan Jawa Tengah, DIY menjadi daerah yang mengusulkan tambahan kuota tersebut.

Berdasarkan data per 30 September 2026, realisasi penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite dan solar di wilayah kerjanya rata-rata telah melampaui kuota sebesar 3%–7%. Jika tidak ada penyesuaian kuota hingga akhir tahun, realisasi penyaluran diperkirakan bisa melampaui alokasi sebesar 10%–15%.

“Diperkirakan nanti kalau sampai dengan akhir tahun kuotanya tidak bertambah, bisa over 10% hingga 15%,” jelasnya.

Stok Pertalite Diklaim Aman

Meski konsumsi meningkat, Taufiq memastikan stok BBM di wilayah DIY dan Jawa Tengah masih dalam kondisi aman. Pertalite disebut memiliki ketahanan stok setara tujuh kali konsumsi normal, sedangkan solar sekitar 11–14 kali konsumsi normal.

Namun, ketersediaan stok tidak otomatis membuat penyaluran bisa ditambah tanpa penyesuaian kuota. Pertamina tetap harus menyalurkan BBM bersubsidi sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Taufiq, apabila tambahan kuota tidak disetujui, tekanan terhadap penyaluran berpotensi semakin terasa menjelang akhir tahun, terutama pada Desember ketika konsumsi masyarakat cenderung meningkat.

Dia mengatakan penambahan kuota tidak memiliki jadwal tetap karena bergantung pada hasil evaluasi. Penyesuaian terkadang dilakukan pada November.

Taufiq juga meminta masyarakat tidak khawatir terhadap ketersediaan BBM di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Dia menegaskan stok Pertalite dan solar masih terjaga, meskipun terdapat pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.

SPBU Atur Pembelian untuk Mengurai Antrean

Taufiq menilai peralihan konsumen ke Pertalite merupakan hal yang wajar ketika masyarakat mempertimbangkan selisih harga BBM. Peningkatan permintaan tersebut turut menjadi tantangan bagi SPBU dalam mengatur antrean.

Sejumlah SPBU di Yogyakarta mengambil inisiatif untuk mempercepat pelayanan, antara lain dengan mengatur pembelian berulang. Menurut Taufiq, langkah tersebut patut diapresiasi karena dapat membantu mengurangi waktu tunggu konsumen.

Dia menilai pembelian berulang perlu diwaspadai apabila mengarah pada praktik penimbunan atau pembelian BBM untuk dijual kembali secara eceran.

Beberapa SPBU juga menerapkan batas pembelian Pertalite maksimal lima liter untuk sepeda motor. Menurut Taufiq, jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan harian sebagian pengguna kendaraan roda dua.

“Kebutuhan harian kan lima liter, sudah bisa sampai dua hari. Motor rata-rata kan tiga sampai empat liter,” katanya.

Sementara itu, pembelian Pertalite untuk mobil diatur sesuai dengan batas yang tercantum dalam kode QR. Pengaturan tersebut ditujukan untuk mempercepat pelayanan dan mengurangi antrean di SPBU.

Meski demikian, batas pembelian lima liter untuk sepeda motor dalam keterangan tersebut merupakan inisiatif sejumlah SPBU, bukan berarti telah berlaku seragam di seluruh SPBU DIY.

Pemda DIY Tunggu Persetujuan Tambahan Kuota

Sebelumnya, seluruh kabupaten/kota di DIY telah mengajukan tambahan kuota Pertalite untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026, termasuk mengantisipasi kenaikan konsumsi selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah DIY, Atik Sudarmi, mengatakan besaran usulan mengacu pada proyeksi kebutuhan dari Pertamina Patra Niaga. Perhitungan tersebut mempertimbangkan tren konsumsi, kondisi di lapangan, dan potensi peningkatan aktivitas masyarakat menjelang libur akhir tahun.

“Semua kabupaten/kota mengajukan tambahan. Besaran usulan berdasarkan prognosa dari Pertamina Patra Niaga,” ujar Atik.

Menurut dia, tambahan kuota yang diusulkan tahun ini tidak berbeda signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan konsumsi menjelang Nataru menjadi salah satu pertimbangan utama.

Pemda DIY telah mengirimkan surat usulan tambahan kuota kepada BPH Migas. Namun, hingga informasi tersebut disampaikan, keputusan mengenai penambahan alokasi belum diterima.

Atik menjelaskan usulan disampaikan dalam bentuk persentase berdasarkan proyeksi kebutuhan. Besaran akhir dalam satuan kiloliter dapat berubah mengikuti hasil evaluasi dalam sidang triwulanan BPH Migas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online