Kekeringan Kulonprogo Makin Parah, Distribusi Air Bersih Tembus 3 Juta Liter

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Jum'at, 16 Oktober 2026 18:37 WIB
Kekeringan Kulonprogo Makin Parah, Distribusi Air Bersih Tembus 3 Juta Liter

Ilustrasi. /Antara foto- Okky Lukmansyah

Harianjogja.com, KULONPROGO — Kekeringan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus meningkatkan kebutuhan air bersih bagi warga. Hingga pertengahan Oktober 2026, distribusi air yang tercatat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo telah mencapai sekitar 3 juta liter, dengan ribuan keluarga terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, mengatakan kebutuhan bantuan air bersih meningkat tajam sejak kekeringan mulai terjadi pada Juli 2026.

Pada Juli, BPBD menyalurkan 22 tangki air bersih. Jumlah tersebut meningkat menjadi 119 tangki pada Agustus, kemudian mencapai 282 tangki sepanjang September.

"Droping air yang dilakukan BPBD Kulonprogo bulan Juli 22 truk tangki, pada bulan berikutnya sebanyak 119 tangki truk pada Agustus dan pada September naik dua kali lipat mencapai 282 tangki truk," kata Eko saat dikonfirmasi, Jumat (16/10/2026).

Sementara itu, rekapitulasi distribusi selama Oktober masih berlangsung. Namun, tiga armada tangki milik BPBD disebut terus melakukan pengiriman setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga.

Setiap truk tangki mampu membawa sekitar 5.000 liter air bersih. Menurut Eko, masing-masing armada setidaknya melakukan tiga kali pengiriman dalam sehari selama Oktober.

"Selama Oktober ini armada kami sehari minimal tiga kali tiap truk melakukan droping air, itu artinya hampir 50 ribu liter air disalurkan dan itu hanya dari BPBD saja," ujarnya.

Kekeringan Menjangkau Delapan Kapanewon

Meluasnya wilayah yang membutuhkan bantuan menjadi salah satu indikator meningkatnya dampak kekeringan di Kulonprogo. Eko mengatakan, pada awalnya permintaan distribusi air hanya berasal dari kurang dari lima kapanewon. Kini, penyaluran telah menjangkau delapan kapanewon.

Wilayah tersebut meliputi Samigaluh, Girimulyo, Kokap, Pengasih, Temon, Panjatan, Nanggulan, dan Kalibawang.

Berdasarkan data terakhir BPBD yang disampaikan Eko, bantuan telah menjangkau 25 kalurahan dan 87 padukuhan, dengan 194 titik distribusi. Total penyaluran tercatat mencapai 604 tangki atau sekitar 3 juta liter air bersih.

Bantuan tersebut telah diterima 4.587 kepala keluarga (KK) atau 12.759 jiwa.

Sejumlah kalurahan menerima distribusi air lebih banyak dibandingkan wilayah lain. Giripurwo tercatat memperoleh 67 tangki, Kalirejo 63 tangki, Hargotirto 61 tangki, dan Pendoworejo 43 tangki.

Selain mengandalkan armada BPBD, penyaluran air juga dibantu relawan dari SAR Sigap, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan Palang Merah Indonesia (PMI). Masing-masing kelompok tersebut memiliki satu truk tangki untuk membantu distribusi selama musim kekeringan.

Pasokan Air Masih Memadai, Sumber Air Mulai Mengering

Di tengah meningkatnya kebutuhan warga, BPBD Kulonprogo menyebut pasokan air untuk distribusi masih tersedia. Air bersih yang disalurkan melalui armada BPBD bersumber dari Perumda Air Minum Tirta Binangun.

"Sementara ini masih aman ketersediaan air dari PDAM," kata Eko.

Meski pasokan untuk distribusi masih memadai, Eko mengungkapkan kekeringan semakin terasa karena sejumlah sumber air warga mulai mengering. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia berharap datangnya musim hujan nantinya dapat menjadi momentum untuk memulihkan cadangan air tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjaga mata air dan menanam vegetasi yang mendukung penyimpanan air di dalam tanah.

"Semoga besok pada saatnya datang musim penghujan kita bisa mengupayakan pelestarian mata air, misalnya dengan menanam vegetasi yang mendukung penyimpanan air tanah," ujarnya.

Upaya tersebut penting untuk mengurangi kerentanan warga saat musim kemarau kembali berlangsung. Sementara itu, distribusi air bersih masih menjadi langkah utama untuk membantu masyarakat yang sumber airnya mengering.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online