Dari Duka Menjadi Amal Jariah, Masjid Hj Anis Syarifah Diresmikan

Sunartono
Sunartono Sabtu, 17 Oktober 2026 05:47 WIB
Dari Duka Menjadi Amal Jariah, Masjid Hj Anis Syarifah Diresmikan

Masjid bernama Hj Anis Syarifah idiresmikan pada Jumat (16/10/2026) di Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. /Istimewa.

Harianjogja.com, KULON PROGO—Sebuah masjid berdiri di dekat lokasi kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa Anis Syarifah, istri pengusaha rokok HS, Muhammad Suryo, pada 1 Maret 2026. Masjid bernama Hj Anis Syarifah itu diresmikan pada Jumat (16/10/2026) di Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peresmian masjid tersebut dihadiri ratusan warga. Di antara mereka, hadir Aab Abdullah, 37, salah satu pihak yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, dengan menggunakan kursi roda. Ia didampingi istrinya, Surati Julia Wijayanti, 35, yang mendorong kursi rodanya sepanjang acara.

Surati mengatakan berdirinya masjid itu menghadirkan harapan di tengah musibah yang telah mengubah kehidupan keluarganya. Ia melihat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut, termasuk hubungan yang terjalin antara keluarganya dan Suryo.

"Banyak hikmah yang bisa diambil dari kecelakaan ini. Di balik musibah, masih banyak pelajaran yang bisa kami petik” ujar Surati.

Ia berharap masjid tersebut menjadi sumber amal kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan masyarakat. Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena Suryo telah menerima keluarganya dengan baik setelah kecelakaan itu.

"Pak Suryo telah menganggap kami sebagai bagian dari keluarga. Kondisi keluarga kami berangsur membaik," katanya.

Wakaf untuk Mengenang Anis Syarifah

Masjid dibangun di dekat lokasi kecelakaan merupakan upaya memberikan makna baru pada tempat yang menyimpan kenangan pahit. Ia sengaja membeli lahan di kawasan tersebut untuk membangun rumah ibadah yang diharapkan menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang.

"Jika dahulu tempat ini menjadi saksi sebuah kehilangan, mulai hari ini semoga tempat ini menjadi saksi lahirnya ribuan kebaikan. Jika dahulu air mata saya jatuh, semoga hari ini lebih banyak kepala yang bersujud," tutur Suryo.

Keputusan membangun masjid itu diambil pada 17 April 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun almarhumah Anis Syarifah. Pada hari yang sama, pembangunan masjid dimulai dengan peletakan batu pertama.

Suryo kemudian mewakafkan masjid tersebut atas nama almarhumah, Anis Syarifah binti Sucipto. Ia mengungkapkan bahwa pembangunan itu juga menjadi bagian dari perjalanan menerima kenyataan setelah kehilangan pasangan hidup.

"Dulu kami sering bermimpi menua bersama, melihat anak-anak tumbuh dewasa, dan menjalani hari tua dalam satu rumah. Namun Allah memiliki rencana yang berbeda," ujar Suryo.

Ia menegaskan bahwa masjid tersebut bukan lagi milik pribadinya, melainkan telah diwakafkan untuk umat. Rumah ibadah itu terbuka bagi warga Palihan maupun masyarakat dari daerah lain yang ingin beribadah.

"Dinding, atap, dan lantainya dapat dibangun dengan tenaga dan biaya, tetapi roh masjid ini hadir melalui azan yang berkumandang, saf yang terisi, anak-anak yang mengaji," katanya.

Suryo pun menitipkan masjid tersebut kepada masyarakat agar dirawat dan dimakmurkan. Menurut dia, keberadaan masjid tidak hanya ditentukan oleh bangunan fisiknya, tetapi juga oleh kegiatan ibadah dan aktivitas sosial yang berlangsung di dalamnya.

Wabup Kulon Progo Apresiasi Pembangunan Masjid

Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko yang hadir dalam peresmian menyampaikan apresiasi atas berdirinya Masjid Hj Anis Syarifah. Ia mengaku mengikuti proses pembangunan masjid tersebut sejak awal hingga selesai.

"Saya menjadi saksi masjid ini dibangun sejak awal. Saya senang dan bangga karena selalu dimudahkan dari awal hingga selesai," katanya.

Dalam acara yang sama, Ustaz Mumpuni Handayayekti menyampaikan tausiyah dengan gaya yang cair dan dekat dengan jamaah. Ia mengingatkan bahwa kematian dapat datang kapan saja tanpa mengenal usia maupun kedudukan seseorang.

Menurut Mumpuni, orang yang telah meninggal tetap dapat dikenang melalui sedekah dan amal kebaikan yang diniatkan untuknya. "Masjid Hj Anis Syarifah ini menjadi amal baik bagi keluarga Pak Suryo dan almarhumah," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan masjid perlu disertai upaya memakmurkannya secara istiqamah. Kemegahan bangunan, menurut dia, perlu dihidupkan dengan kegiatan ibadah dan aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sediakan Fasilitas bagi Warga dan Musafir

Masjid Hj Anis Syarifah tidak hanya disiapkan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat setempat. Rumah ibadah ini juga menyediakan sejumlah fasilitas bagi warga dan musafir yang melintasi jalur nasional Purworejo–Yogyakarta.

Fasilitas yang tersedia meliputi akses Wi-Fi gratis, toilet, tempat mengisi daya telepon genggam hingga ruang untuk beristirahat.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang singgah, termasuk pengguna jalan yang membutuhkan tempat beribadah dan beristirahat selama perjalanan.

Bagi Suryo, masjid tersebut kini menjadi wakaf untuk umat. Harapannya, tempat yang dahulu menyimpan kenangan kehilangan itu dapat terus menghadirkan kebaikan melalui ibadah, persaudaraan, dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online