Harga Cabai di Kulonprogo Terjun Bebas, Daya Beli Jadi Penyebab

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Minggu, 18 Oktober 2026 17:47 WIB
Harga Cabai di Kulonprogo Terjun Bebas, Daya Beli Jadi Penyebab

Foto ilustrasi penjual cabai keriting. - Antara

Harianjogja.com, KULONPROGO—Harga cabai di Kabupaten Kulonprogo mengalami penurunan setelah permintaan masyarakat melemah. Pasokan dari petani yang relatif stabil tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan, sehingga stok cabai melimpah dan mendorong harga di tingkat petani turun.

Ketua Asosiasi Petani Cabai atau Champion Cabai Kulonprogo, Sukarman, mengatakan harga cabai merah keriting dan cabai rawit merah sempat melonjak ketika permintaan pembeli meningkat. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena penjualan kembali melemah.

Harga cabai merah keriting di tingkat petani yang sebelumnya sempat mencapai Rp55.000 per kilogram kini turun menjadi Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah yang sempat menyentuh Rp65.000 per kilogram kini anjlok menjadi Rp45.000 per kilogram.

"Sekarang harga keduanya cenderung turun bahkan terjun bebas karena cabai merah keriting kini harganya Rp50 ribu perkilogram dan harga cabai rawit merah yang anjlok menjadi Rp45 ribu perkilogram," katanya kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).

Daya Beli Masyarakat Pengaruhi Harga Cabai

Sukarman menjelaskan pergerakan harga cabai dipengaruhi oleh daya beli masyarakat dan hasil panen petani. Ketika harga cabai sempat naik, daya beli masyarakat masih normal. Namun, produksi cabai saat itu tidak maksimal akibat serangan penyakit yang membuat hasil panen menurun drastis.

Di tengah permintaan yang masih tinggi, terbatasnya hasil panen membuat harga cabai melonjak. Situasi tersebut berbeda dengan kondisi sekarang, ketika pasokan relatif stabil tetapi permintaan masyarakat tidak mengalami peningkatan berarti.

"Kami memperkirakan turunnya harga cabai disebabkan oleh daya beli masyarakat yang sedang rendah," ucap Sukarman.

Meski harga cabai sedang menurun, Sukarman memperkirakan harga komoditas tersebut berpeluang kembali naik dalam waktu dekat. Kondisi kekeringan yang terjadi saat ini dinilai dapat memengaruhi hasil panen berikutnya dan berpotensi mendorong kenaikan harga.

"Fenomena kekeringan seperti sekarang terkadang dapat menjadi pemicu naiknya harga cabai saat panen nanti," lanjutnya.

Minim Hajatan Turunkan Permintaan Cabai

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Bidang Sarana dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Kirmi, menyebut perubahan pola konsumsi masyarakat turut memengaruhi permintaan cabai.

Salah satu faktor yang disoroti ialah minimnya jumlah hajatan di masyarakat akhir-akhir ini. Berkurangnya kegiatan tersebut ikut menekan kebutuhan bahan pangan, termasuk cabai yang kerap digunakan dalam jumlah besar untuk keperluan memasak saat hajatan.

Sebaliknya, ketika kegiatan hajatan berlangsung ramai, permintaan cabai biasanya meningkat tajam karena komoditas tersebut menjadi salah satu bahan pangan penting.

"Kondisi saat ini hasil panen masih sedikit tapi kebutuhan dari masyarakat juga tidak naik, artinya berimbang antara pasokan dan kebutuhan," kata Kirmi.

Kondisi tersebut menunjukkan penurunan harga cabai di Kulonprogo tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan hasil panen, tetapi juga dengan perubahan permintaan masyarakat. Ketika kebutuhan belum meningkat, pasokan yang tersedia belum cukup mendorong harga naik di tingkat petani.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online