ISPA Bantul Tembus 11.883 Kasus, Ini Langkah Penanganan dan Pencegahannya

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 19 Oktober 2026 13:57 WIB
ISPA Bantul Tembus 11.883 Kasus, Ini Langkah Penanganan dan Pencegahannya

Ilustrasi, Dokter memeriksa anak yang mengalami gejala ISPA./Antara-Nova Wahyudi/kye

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Bantul masih menjadi perhatian setelah jumlah penderitanya mencapai 11.883 kasus pada April 2026. DPRD Bantul meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) memperkuat fasilitas Puskesmas sekaligus mengintensifkan pencegahan dari sumber paparan, termasuk asap akibat pembakaran lahan.

Berdasarkan data Dinkes Bantul, jumlah kasus ISPA tercatat mencapai belasan ribu setiap bulan selama Januari-Mei. Angka tersebut kemudian turun di bawah 10.000 kasus pada Juli dan Agustus, dengan jumlah terendah pada Juli sebanyak 8.382 kasus.

Ketua Komisi D DPRD Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, mengatakan cuaca kemarau ekstrem dan tingginya fenomena kebakaran menjadi beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi tersebut.

"Dua faktor itu yang belakangan serius terjadi tentu semakin memperparah munculnya ISPA," ujarnya, Senin (19/10/2026).

DPRD Minta Puskesmas Siap Tangani Pasien ISPA

Pramu Diananto Indratriatmo, yang akrab disapa Nanto, menyebut pihaknya telah menginstruksikan dua langkah kepada instansi terkait untuk menanggulangi ISPA. Upaya tersebut meliputi penguatan fasilitas kesehatan di Puskesmas serta imbauan pencegahan dari sumbernya.

"Yang pertama adalah penguatan fasilitas di Puskesmas dan kedua imbauan pencegahan dari sumbernya terkait dengan pembakaran lahan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," katanya.

Menurut Nanto, Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama perlu memiliki sarana dan prasarana yang memadai agar masyarakat terdampak ISPA bisa memperoleh penanganan secara optimal.

Dia meminta Dinkes Bantul memastikan kesiapan fasilitas kesehatan, meskipun instansi tersebut menghadapi keterbatasan anggaran.

"Tentunya ya kami minta Puskesmas di Bantul untuk sarana kesehatannya harus siap untuk menerima masyarakat yang terdampak. Dinas harus bekerja keras meskipun dengan keterbatasan anggaran," ujarnya.

Penguatan layanan kesehatan tersebut diharapkan membantu menekan dampak ISPA, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap dan kondisi lingkungan.

Pencegahan ISPA Dimulai dari Pengendalian Asap Kebakaran

Selain meningkatkan kesiapan Puskesmas, DPRD Bantul menyoroti pentingnya pencegahan kebakaran di tingkat wilayah. Instansi terkait bersama perangkat kewilayahan diminta rutin melakukan pemantauan serta memberikan edukasi mengenai dampak asap dari pembakaran lahan.

Nanto menilai sosialisasi kepada masyarakat perlu diperkuat, termasuk melalui media sosial, agar praktik pembakaran lahan dapat ditekan selama musim kemarau.

"Itu mungkin salah satu langkah preventif untuk pencegahan, dinas terkait bisa edukasi dan sosialisasi lewat sosial media agar pembakaran lahan ini bisa ditekan selama musim kemarau," ungkapnya.

Upaya pencegahan tersebut menjadi bagian dari langkah untuk mengurangi sumber paparan yang berpotensi memperburuk gangguan pernapasan masyarakat.

Warga Diimbau Terapkan PHBS dan Memakai Masker

Nanto juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Menurut dia, setiap warga perlu menjaga kondisi kesehatan masing-masing, terutama mereka yang termasuk kelompok rentan.

Saat beraktivitas di luar rumah, masyarakat diimbau menggunakan masker. Sementara itu, penggunaan pembersih udara di dalam ruangan juga disebut sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya pencegahan.

"Ini penting untuk pencegahan, jangan sampai karena hal sepele seperti masker masyarakat lengah dan malah terserang ISPA," katanya.

DPRD Bantul berharap penguatan fasilitas Puskesmas, pengendalian pembakaran lahan, edukasi mengenai dampak asap, serta penerapan PHBS dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, upaya menekan kasus ISPA dapat dilakukan melalui kesiapan pelayanan kesehatan sekaligus pencegahan di lingkungan masyarakat. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online