Gerai KDMP Bantul Belum Beroperasi, DPRD Soroti Kesiapan Pengurus
Operasional gerai KDMP di Bantul masih menunggu petunjuk teknis pusat. DPRD mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial dan pendampingan pengurus.
Sejumlah petani menanam padi di wilayah Manding, Trirenggo, Bantul, Senin (19/10/2026). DKPP Bantul menyebut sejumlah daerah di wilayahnya berpotensi mengalami masa tanam mundur akibat kemarau./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL—Musim kemarau yang diprediksi masih berlangsung hingga November atau Desember membuat jadwal musim tanam pertama (MT 1) di sejumlah wilayah Bantul berpotensi mundur. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul menyebut penanaman padi akan menyesuaikan dengan perkiraan datangnya musim hujan.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menjelaskan petani di wilayah dengan pasokan air terbatas biasanya menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca dan masuknya musim penghujan. Karena hujan diperkirakan baru turun pada November atau Desember, jadwal tanam di sejumlah daerah kemungkinan ikut bergeser.
"Mungkin MT1 ini kami agak mundur tanamnya karena adanya prediksi BMKG hujan itu di Desember kedua," kata Joko, Senin (19/10/2026).
Imogiri dan Dlingo Berpotensi Mundur Tanam
Joko menyebut kawasan Imogiri dan Dlingo menjadi dua wilayah yang berpotensi mengalami keterlambatan MT 1. Kedua kapanewon tersebut kerap menghadapi kekeringan karena akses air yang terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhan pertanian, petani di wilayah itu juga memerlukan bantuan sumur bor karena pasokan air dari saluran irigasi masih minim.
"Sementara kalau daerah sekitaran hulu sungai yang melewati Bantul kemungkinan masih aman pola tanamnya," ungkap dia.
Di sisi lain, Joko menyampaikan kondisi sektor pertanian Bantul secara umum masih relatif aman dari dampak kemarau. Salah satu faktor pendukungnya adalah keberadaan enam sungai besar yang melintasi wilayah Bantul, dengan lima sungai di antaranya masih memiliki cadangan air yang cukup.
Bagi wilayah yang mengalami kekeringan, DKPP Bantul telah meminta petani mempertimbangkan tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air. Pilihan tersebut mencakup padi berumur pendek dan tanaman palawija.
"Padi bisa tapi yang umur pendek saja, kemudian jenis palawija itu kan tidak butuh air banyak," ujarnya.
Petani Manding Tetap Tanam Padi
Berbeda dengan wilayah yang pasokan airnya terbatas, petani di Manding, Trirenggo, Bantul, masih dapat menjalankan penanaman padi sesuai jadwal.
Sutarjo, salah seorang petani di kawasan tersebut, mengatakan pasokan air untuk lahan pertanian di Manding masih mencukupi meskipun musim kemarau belum berakhir. Aliran irigasi yang lancar membuat petani tidak perlu menunggu musim hujan untuk mulai menanam.
"Meski masih musim kemarau, kami di Manding tetap menanam padi sesuai jadwal. Sejauh ini pasokan air irigasi masih mencukupi dan alirannya lancar. Jadi, tidak ada alasan untuk menunda tanam atau beralih ke tanaman lain," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Operasional gerai KDMP di Bantul masih menunggu petunjuk teknis pusat. DPRD mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial dan pendampingan pengurus.
Pagu dana desa Gunungkidul turun dari Rp168,8 miliar menjadi Rp51,9 miliar pada 2026. Kalurahan diminta mengoptimalkan realisasi anggaran.
Desa Timbulsloko, Demak, menjadi percontohan pemulihan pesisir berbasis alam setelah satu dekade menghadapi abrasi dan banjir rob.
Sleman menjadi lokasi uji coba Program Perintis 10 Hari untuk mempercepat balik nama tanah sekaligus mengoptimalkan penerimaan PPh dan BPHTB.
HATO memperkenalkan HATO Fillet dengan kandungan dada ayam asli hingga 80% dalam Chicken & Egg Run 2026 yang diikuti lebih dari 3.000 pelari.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mengkaji penggabungan empat SD yang kekurangan murid setelah lima sekolah lebih dulu menjalani regrouping pada 2026.