Barcelona Hajar Betis 5-2, Blaugrana Catat Sembilan Kemenangan Beruntun
Barcelona menang 5-2 atas Real Betis pada pekan kesembilan Liga Spanyol 2026/2027 dan memperpanjang rekor kemenangan menjadi sembilan laga.
Kadin DIY memprioritaskan green job sektor bambu pada 2027 melalui penguatan SDM, integrasi rantai pasok, dan hilirisasi produk. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Jogja (DIY) akan menjadikan penguatan vokasi hijau atau green TVET (Technical and Vocational Education and Training) di sektor bambu sebagai program prioritas pada 2027. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM), mengintegrasikan rantai pasok dari hulu hingga hilir, serta membuka peluang kerja ramah lingkungan atau green job.
Wakil Ketua Umum Bidang Revitalisasi Vokasi, SDM, dan Ketenagakerjaan Kadin DIY, Romi Haryanto, menyampaikan komitmen tersebut di sela pelatihan Akademi Komunitas Bambu pada Senin (19/10/2026). Menurut dia, pengembangan industri bambu perlu dilakukan secara menyeluruh agar potensi komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menciptakan peluang usaha baru.
"Kami punya komitmen dan apresiasi terhadap inisiasi dari Akademi Komunitas Bambu ini dan juga kementerian. Kenapa? Karena ini sesuai dengan komitmen dari Kadin DIY tentang green job dan green economy," ujar Romi.
Kadin DIY menilai penguatan industri bambu tidak cukup hanya mengembangkan produk jadi. Kesiapan tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, pengelolaan tanaman, hingga proses produksi perlu dibangun dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Romi menjelaskan pengembangan sektor bambu harus dimulai dari penyiapan SDM yang memahami keseluruhan proses produksi. Pembinaan tidak boleh hanya menyasar pelaku industri pengolahan, tetapi juga pihak yang terlibat dalam penyediaan dan pengelolaan bahan baku.
"Perlu mulai diciptakan di hulu itu SDM yang paham tentang tanam, paham tentang grinder, paham tentang penyimpanan, paham tentang pengawetan, sampai nanti menjual dan memproduksinya," tutur Romi.
Menurutnya, kesiapan tenaga kerja di sektor hulu menjadi bagian penting untuk mendukung keberlanjutan industri bambu. Dengan pemahaman mengenai proses penanaman, penyimpanan, pengawetan, hingga produksi dan pemasaran, rantai pasok diharapkan dapat berjalan lebih baik.
Konsep green TVET yang didorong Kadin DIY juga disebut sejalan dengan roadmap nasional yang dirancang Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terkait pemetaan okupasi green job.
Pengembangan sektor ini diharapkan membuka peluang bagi generasi muda untuk menjadi wirausahawan baru di bidang bambu. Peluang tersebut tidak terbatas pada pengolahan bahan baku, tetapi juga mencakup berbagai tahapan dalam rantai produksi.
Selain menyiapkan tenaga kerja, Kadin DIY mendorong pembentukan proyek percontohan atau piloting yang menghubungkan berbagai sentra bambu di DIY.
Romi mengatakan sentra bambu di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul saat ini masih berjalan secara terpisah. Melalui proyek percontohan, berbagai kegiatan diharapkan dapat terhubung dalam satu ekosistem, mulai dari penanaman, pelatihan SDM, hingga produksi kerajinan.
Untuk mendukung rencana tersebut, Kadin DIY siap memfasilitasi kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, periset kampus, dan komunitas lokal.
Pemetaan potensi wilayah untuk penanaman bambu, luas lahan, serta standar kualitas bambu menjadi fokus penataan ekosistem. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun keterkaitan antara penyediaan bahan baku dan kebutuhan industri pengolahan.
Romi menambahkan, penguatan green TVET di sektor bambu akan menjadi program prioritas Kadin DIY pada 2027. Program tersebut akan memetakan kebutuhan SDM industri bambu secara terperinci pada tingkat hulu, tengah, hingga hilir agar sektor ini memiliki daya saing dan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Di sisi lain, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rr Citra Rapati, menyoroti posisi Indonesia dalam pasar bambu dunia.
Dia menyebut Indonesia berada di peringkat ke-12 dunia dengan pangsa pasar global sekitar 0,9%. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena bambu relatif mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.
"Indonesia sangat kecil sekali di posisi 12 dengan market share yang kecil juga, 0,9 persen. Padahal kalau kita ke sana ke mari, kita bisa lihat bambu itu di mana-mana, Bapak Ibu," ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemenperin menginisiasi program Akademi Komunitas Bambu dengan konsep train of trainers. Program ini bertujuan mencetak SDM industri yang kompeten dalam membangun dan mengelola rantai pasok bambu secara terintegrasi.
Kemenperin menegaskan penguatan sektor hulu harus menjadi prioritas sebelum industri masuk ke tahap pengolahan dan hilirisasi. Ketersediaan bahan baku, teknik pemanenan, serta pemahaman petani menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar kebutuhan industri dapat terpenuhi.
"Kita harus menguatkan sisi hulunya dulu. Sehingga kita untuk peserta, kami minta rekomendasi dari industri bambunya, kemudian selama ini siapa yang suplai ke teman-teman industri," jelasnya.
Citra menjelaskan lemahnya pembinaan di sektor hulu dapat berdampak pada kelancaran pasokan untuk industri pengolahan. Tanpa bahan baku yang memadai dan pengelolaan yang baik, pelaku industri di sektor tengah maupun hilir akan menghadapi kesulitan.
"Kalau kita enggak punya bahan baku, dan dinas perindustrian tidak membantu membina teman-teman di hulu, jadi kalau diceritakan Pak Marjuni tadi itu yang kalau ngambil itu tidak ada grade-nya, tidak ada pembinaan, kemudian bagaimana teknik pemanenannya tidak dipahami oleh orang-orang di hulu, sudah pasti kita di tengah-tengah ini cicil lipat," tambahnya.
Melalui program Akademi Komunitas Bambu, peserta dari berbagai daerah diharapkan mampu menjadi pelatih atau penggerak pengembangan potensi bambu di wilayah masing-masing. Mereka berasal dari Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jogja, hingga Jawa Tengah.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menilai hilirisasi produk berbasis serat alam dapat memberikan hasil ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan penjualan bahan mentah.
Selain bambu, komoditas yang disebut memiliki potensi untuk dikembangkan melalui hilirisasi meliputi enceng gondok, pandan laut, dan rotan.
"Kita jual bambu lonjoran sama jual mebel dari bambu, ya jelas, itu bisa berkali-kali lipat pertambahan nilainya," tegasnya.
Menurut Halim, pengolahan bahan baku menjadi produk jadi merupakan salah satu cara meningkatkan nilai tambah komoditas. Karena itu, pengembangan keterampilan dan kapasitas SDM menjadi bagian penting dalam mendukung industri berbasis serat alam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Barcelona menang 5-2 atas Real Betis pada pekan kesembilan Liga Spanyol 2026/2027 dan memperpanjang rekor kemenangan menjadi sembilan laga.
Rupiah melemah ke Rp18.046 per dolar AS akibat kekhawatiran pengetatan kebijakan The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
UKDW menjadi ruang diseminasi Festival Inovasi Jogja 2026, menghadirkan inovasi pengelolaan sampah, kesehatan mental, pariwisata, dan pangan.
Pembangunan markas Yon TP di Gunungkidul masih menunggu izin Sultan HB X. Sebanyak 400 personel TNI telah disiapkan di Banyusoco.
Singapura mengirim pemberitahuan pencegahan kepada tujuh perusahaan pemilik konsesi di Indonesia terkait potensi asap karhutla lintas batas.
Realisasi investasi Kota Magelang mencapai Rp246,23 miliar hingga Triwulan III 2026. Pemkot tetap membuka peluang dengan mengacu tata ruang dan regulasi.