Gaji PPPK Ditanggung APBN, DPRD DIY Soroti Potensi Pengurangan DAU
DPRD DIY menyoroti rencana pengalihan gaji PPPK ke APBN yang berpotensi mengurangi DAU dan manfaat bagi anggaran daerah.
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara (tengah) dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu sore, (21/10/2026)./ Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, JOGJA—Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 akan digelar pada 6–8 November di Loman Park Hotel Yogyakarta untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman budaya dan kebugaran. Festival ini juga menjadi upaya Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY untuk mendorong kunjungan wisata pada periode low season atau musim sepi.
Mengusung tema RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing, JCWF 2026 menggabungkan kekayaan budaya Jawa, pengalaman wellness, kreativitas, dan pariwisata berkelanjutan. Penyelenggara menargetkan 1.500 peserta dalam kegiatan yang memasuki tahun keempat tersebut.
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara, mengatakan festival sengaja dipertahankan pada November untuk membantu mengisi periode kunjungan wisata yang relatif sepi. Harapannya, kegiatan ini dapat mengurangi kesenjangan antara musim sepi dan musim ramai wisatawan.
“Budaya adalah ruh utama yang menghubungkan manusia dengan identitasnya,” ujarnya dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut GKR Bendara, filosofi Jawa seperti hamemayu hayuning bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat gotong royong mencerminkan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang mendukung kesejahteraan.
Melalui JCWF 2026, BPPD DIY ingin membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang tidak hanya menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Festival ini menyasar wisatawan dengan minat khusus yang menginginkan pengalaman lebih mendalam daripada sekadar mengunjungi destinasi. Menurut GKR Bendara, segmen wisatawan wellness berpotensi memberikan belanja lebih besar karena mencari aktivitas, layanan, dan pengalaman yang sesuai dengan minat mereka.
Wisatawan dalam segmen ini juga dinilai memiliki perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan. Pilihan akomodasi ramah lingkungan, penggunaan air secara bijak, serta pengelolaan sampah menjadi beberapa aspek yang berkaitan dengan kebiasaan berwisata berkelanjutan.
JCWF 2026 akan menghadirkan lima zona pengalaman, yaitu Mind & Body, Healing & Therapy, Nature Connection, Creative Expression, dan Culinary Wellness. Pengunjung juga dapat menjelajahi panggung utama, ruang komunitas, pasar produk artisan wellness, area pertemuan bisnis, serta sesi konsultasi satu lawan satu.
Situs resmi JCWF mencantumkan 82 program dalam rangkaian festival. Tiket masuk area festival tersedia gratis melalui registrasi, tetapi tidak otomatis mencakup seluruh aktivitas. Sejumlah program mengharuskan pengunjung melakukan pendaftaran tersendiri dan membayar biaya partisipasi sesuai ketentuan masing-masing.
Informasi registrasi dapat diakses melalui situs resmi JCWF 2026. Pengunjung disarankan memeriksa jadwal, kuota, dan biaya setiap program sebelum mendaftar.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar DIY, Ellya Shari, mengatakan wisata wellness dapat dikembangkan melalui beragam kegiatan yang menggabungkan budaya dengan pengalaman personal.
Aktivitas seperti membatik, misalnya, tidak hanya memperkenalkan seni tradisional, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang melatih kesabaran. Sementara itu, gastronomi dan pengenalan jamu herbal dapat menjadi bagian dari wisata yang mengangkat tradisi kuliner lokal.
“Banyak hal sebenarnya yang bisa dikupas dari yang Yogyakarta punya untuk diambil, dimasukkan ke dalam wellness. Jadi bukan hanya beberapa, tapi banyak mulai budaya sampai dengan ke kuliner,” paparnya.
Ellya berharap pengembangan wisata wellness dapat menarik wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya untuk berbagai layanan lokal. Menurutnya, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Karena selama ini jika kita hanya mengejar quantity tourism, seringkali itu membuat Jogja tampak penuh, tetapi dampak ekonominya kurang begitu terasa. Ini melibatkan banyak dari hotel, resto, desa wisata, sehingga nanti diharapkan dampak ekonominya dapat merata,” lanjutnya.
General Manager Loman Park Hotel, Handono Suyatno Putro, menyambut penyelenggaraan festival tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan potensi wisata wellness kepada masyarakat sekaligus mempertemukan pelaku usaha yang bergerak di bidang tersebut.
“Loman Park Hotel Yogyakarta menyambut dengan kegiatan ini dengan senang, semoga nanti semuanya berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Melalui JCWF 2026, penyelenggara berharap kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam. Selain memperluas pilihan bagi wisatawan, kegiatan ini diharapkan membuka peluang kolaborasi dan memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku pariwisata di DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY menyoroti rencana pengalihan gaji PPPK ke APBN yang berpotensi mengurangi DAU dan manfaat bagi anggaran daerah.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian, Kamis 22 Oktober 2026. Simak daftar harga jual dan buyback semua ukuran.
BGN DIY mengevaluasi uji coba MBG prasmanan di Sentolo dan Turi. Perluasan layanan masih menunggu kesiapan teknis dan arahan pusat.
Persik Kediri menjamu PSS Sleman pada pekan keenam Super League. Simak jadwal, prediksi pemain, performa, dan suasana duka suporter.
Jepang mewajibkan skrining TBC bagi WNI yang akan tinggal jangka menengah hingga panjang. Simak jadwal, prosedur, biaya, dan pengecualiannya.
PSM Makassar menjamu Persebaya Surabaya pada 22 Oktober 2026. Simak jadwal, prediksi pemain, performa terkini, dan rekor pertemuan kedua tim.