Kemarau Berlanjut, Jadwal Tanam Padi di Bantul Terancam Mundur
Kemarau diprediksi berlanjut hingga November atau Desember. Jadwal tanam padi di Imogiri dan Dlingo, Bantul, berpotensi mundur
Warga membawa air bersih seusai diolah dari mesin pembersih air di wilayah Kapanewon Tepus, Gunungkidul, Senin (7/9/2026). /Antara-Bidhumas Polda DIY
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hujan dengan intensitas sangat ringan mulai terpantau di sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul. Namun, gerimis yang turun di Kapanewon Semin dan Ngawen belum berdampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat yang masih menghadapi kekeringan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Purwono, mengatakan hujan yang terpantau di wilayah Ngawen masih berupa gerimis dengan durasi singkat. Kondisi tersebut belum mampu membantu pemenuhan kebutuhan air bersih warga.
“Baru terpantau gerimis sangat ringan di Ngawen durasi singkat dan belum berdampak terhadap pemenuhan air bersih,” kata Purwono, Kamis (22/10/2026).
Gerimis Belum Menjadi Tanda Kekeringan Berakhir
Menurut Purwono, gerimis yang turun merupakan salah satu fenomena alam pada masa peralihan dari musim kemarau menuju pancaroba, sebelum memasuki musim penghujan. Karena itu, hujan ringan belum bisa menjadi penanda bahwa persoalan kekeringan di Gunungkidul telah berakhir.
Sejumlah wilayah masih mengalami kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih. BPBD Gunungkidul pun masih melanjutkan penyaluran bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Sejumlah daerah masih mengalami kekeringan sampai sekarang dan bantuan air bersih masih terus dipasok," katanya.
Anggaran Penanganan Kekeringan Disiapkan
Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih selama kemarau, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui BPBD bersama pemerintah kapanewon menyiapkan anggaran penanggulangan bencana hidrometeorologi kekeringan.
Anggaran yang disebutkan dalam rincian program tersebut mencakup alokasi reguler BPBD Gunungkidul sebesar Rp346,55 juta untuk pengadaan 800 tangki air. Sementara itu, anggaran reguler pemerintah kapanewon mencapai Rp659,34 juta untuk mendukung distribusi 2.977 tangki air.
"Kami juga menyiapkan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp1,35 miliar untuk memperkuat penanganan kekeringan," ungkap Purwono.
Secara keseluruhan, anggaran penanganan kekeringan yang disiapkan disebut mencapai Rp2,359 miliar. Dana tersebut diproyeksikan mendukung distribusi 5.223 tangki air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pasokan Air Ditargetkan Bertahan hingga Musim Hujan
Purwono memastikan anggaran yang tersedia masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan distribusi air bersih hingga musim hujan tiba. Meski demikian, waktu kedatangan musim hujan diperkirakan mundur berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Insya Allah cukup sampai musim hujan tiba, meskipun BMKG memprediksi waktunya mundur,” ujarnya.
Dengan masih berlangsungnya kekeringan di sejumlah wilayah, distribusi air bersih tetap menjadi salah satu upaya untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sembari menunggu musim hujan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau diprediksi berlanjut hingga November atau Desember. Jadwal tanam padi di Imogiri dan Dlingo, Bantul, berpotensi mundur
Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra mewaspadai kolektivitas dan pertahanan Persik Kediri yang baru kebobolan tiga gol dalam lima laga.
DPRD Kota Jogja mengawal anggaran pendidikan dan kesehatan 2027 serta mendorong penambahan layanan jantung dan cuci darah di RS Pratama.
Yusril Ihza Mahendra mendorong reformasi UU Tipikor untuk membedakan risiko bisnis dengan korupsi dan menyelaraskan aturan dengan standar UNCAC.
BI mewaspadai dampak El Niño terhadap inflasi pangan yang mencapai 5,03% pada September 2026. Beras, cabai, dan bawang merah menjadi perhatian.
Hujan ringan mulai terpantau di Gunungkidul, tetapi kekeringan masih berlangsung. BPBD menyiapkan anggaran Rp2,359 miliar untuk distribusi air bersih.