Gelombang Tinggi Ancam Perairan Selatan DIY, Nelayan Diminta Waspada

Newswire
Newswire Kamis, 22 Oktober 2026 13:37 WIB
Gelombang Tinggi Ancam Perairan Selatan DIY, Nelayan Diminta Waspada

Ilustrasi. /Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat pesisir dan nelayan mewaspadai potensi gelombang tinggi di perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 23–26 Oktober 2026. Ketinggian gelombang diperkirakan berkisar 2,5–4 meter di Samudra Hindia selatan DIY.

Prakirawan BMKG Yogyakarta, Rahmad Tauladani, mengatakan peringatan dini tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir maupun perairan selatan.

"Peringatan dini gelombang tinggi berkisar 2,5 meter sampai empat meter berpeluang terjadi di samudera Hindia selatan DIY," kata Rahmad dalam keterangan di Yogyakarta, Kamis (22/10/2026).

Potensi gelombang tinggi itu mencakup perairan Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, dan Gunung Kidul. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung selama periode peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

Angin Timuran Berpotensi Picu Gelombang Tinggi

Rahmad menjelaskan, potensi gelombang tinggi dipengaruhi kondisi sinoptik, termasuk angin timuran yang masih bertiup di wilayah Jawa. BMKG juga memantau adanya wilayah siklonik di barat Aceh dan utara Papua.

"Terpantau adanya wilayah siklonik di barat Aceh dan utara Papua, angin timuran masih bertiup di wilayah Jawa yang berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di perairan DIY," katanya.

BMKG mengimbau nelayan agar berhati-hati ketika melaut, terutama saat menangkap ikan menggunakan perahu. Kondisi angin dan gelombang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko keselamatan pelayaran.

Menurut Rahmad, perahu nelayan berisiko terdampak apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.

Sementara itu, kapal tongkang menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter. Untuk kapal feri, risiko tersebut berlaku apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.

Sejumlah Wilayah Jawa Tengah Masih Waspada Kekeringan

Di sisi lain, BMKG menyebut sejumlah daerah di Jawa Tengah masih berstatus Waspada kekeringan meteorologis pada dasarian ketiga Oktober 2026. Meski demikian, tidak ada lagi kabupaten atau kota yang berstatus Siaga maupun Awas.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan status tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis untuk periode 21–31 Oktober 2026 adalah Waspada.

"Status tertinggi adalah Waspada, selebihnya tidak ada peringatan," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Wilayah berstatus Waspada meliputi Kota Tegal, Pekalongan, dan Semarang. Adapun daerah berstatus serupa di tingkat kabupaten mencakup Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Temanggung, Semarang, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Boyolali, Klaten, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri.

Curah Hujan Jateng Masih Rendah

Berdasarkan analisis curah hujan dasarian kedua Oktober 2026, yakni periode 11–20 Oktober, seluruh wilayah Jawa Tengah mengalami curah hujan kategori rendah. Jumlah curah hujan pada periode tersebut tercatat 0–50 milimeter per dasarian.

Pemantauan hari tanpa hujan (HTH) hingga 20 Oktober juga menunjukkan kekeringan ekstrem, dengan periode tanpa hujan lebih dari 60 hari yang tersebar di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah.

Kategori sangat panjang mendominasi wilayah bagian selatan. Sementara itu, kategori panjang dengan periode tanpa hujan 21–30 hari terpantau di sejumlah titik wilayah timur dan Kabupaten Brebes.

Kategori menengah, dengan periode tanpa hujan 11–20 hari, tersebar di hampir seluruh wilayah. Adapun kategori pendek selama 6–10 hari mendominasi wilayah utara, sedangkan periode tanpa hujan 1–5 hari tercatat di beberapa titik wilayah tengah.

Meski sebagian besar wilayah mengalami periode tanpa hujan, BMKG masih mencatat hujan di Kabupaten Banyumas hingga pembaruan terakhir.

“Hujan masih tercatat hingga pembaruan terakhir pada 20 Oktober di Kabupaten Banyumas,” katanya.

HTH Terpanjang di Purworejo Capai 172 Hari

Goeroeh mengatakan periode hari tanpa hujan terpanjang tercatat di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, yakni selama 172 hari. Berikutnya, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, mencatat 170 hari tanpa hujan.

Sementara itu, Kecamatan Juwiring di Kabupaten Klaten dan Kecamatan Selogiri di Kabupaten Wonogiri masing-masing mencatat periode tanpa hujan selama 157 hari.

Data tersebut menunjukkan masih panjangnya periode tanpa hujan di sejumlah wilayah Jawa Tengah, meskipun status peringatan dini kekeringan meteorologis tertinggi pada dasarian ketiga Oktober 2026 berada pada tingkat Waspada.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online