Kisah Mbah Wariyana di Bantul, Berjalan 2 Km Berjualan Demi Rawat Cucu Disabilitas

Kiki Luqman
Kiki Luqman Kamis, 22 Oktober 2026 20:47 WIB
Kisah Mbah Wariyana di Bantul, Berjalan 2 Km Berjualan Demi Rawat Cucu Disabilitas

Wariyana dan Cahyo saat ditemui di kediamannya. /Harian Jogja-Kiki Luqman.

Harianjogja.com, BANTUL— Setiap pagi, Mbah Wariyana, 65, berjalan kaki lebih dari dua kilometer menuju Pasar Imogiri, Bantul, untuk menjual jajanan pasar. Dari dagangannya, dia hanya memperoleh sekitar Rp30.000 hingga Rp35.000 sehari, penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus merawat Cahyo, cucunya yang berusia 18 tahun dan mengalami disabilitas sejak bayi.

Selama sekitar 13 tahun, Wariyana merawat Cahyo seorang diri setelah kedua orang tua pemuda tersebut pergi dan tidak pernah kembali maupun memberikan kabar. Kini, keduanya tinggal bersama dalam kondisi ekonomi terbatas, dengan Wariyana menjalankan peran sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh.

Rutinitas itu dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Wariyana berangkat membawa berbagai jajanan, mulai dari lempeng, kacang rebus, hingga makanan kecil lainnya, lalu biasanya kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 WIB.

“Sehari-hari saya berjualan lempeng dan jajanan kecil-kecilan. Ada kacang rebus, dan jajanan lainnya. Kalau membawa dagangan banyak, hasilnya lumayan. Namun, sehari-hari biasanya hanya mendapat Rp30.000 atau Rp35.000, tidak tentu,” tutur Wariyana, Kamis (22/10).

Berjalan Kaki demi Menjual Jajanan

Jarak rumah menuju Pasar Imogiri yang mencapai lebih dari dua kilometer menjadi tantangan tersendiri bagi Wariyana. Pada usia 65 tahun, dia tetap menempuh perjalanan tersebut untuk mendapatkan penghasilan, meski terkadang harus menggunakan ojek ketika kelelahan saat pulang.

Namun, mencari nafkah bukan satu-satunya hal yang harus dipikirkan Wariyana setiap hari. Di rumah, Cahyo membutuhkan perhatian karena tidak bisa berjalan maupun berbicara sehingga bergantung pada bantuan neneknya untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat Wariyana menghadapi dilema ketika harus meninggalkan rumah untuk berjualan. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Cahyo selama dirinya tidak berada di rumah untuk mengawasi.

Wariyana mengaku terkadang terpaksa mengikat kaki cucunya ketika pergi berjualan. Tindakan itu dilakukan karena rumah mereka berada di dekat sungai dan dia takut Cahyo bergerak keluar rumah tanpa pengawasan hingga mencapai jalan atau sungai.

Pernah suatu ketika Wariyana lupa mengikat kaki Cahyo sebelum berangkat bekerja. Saat kembali ke rumah, dia mendapati cucunya tidak berada di tempat yang biasanya sehingga panik dan berusaha mencarinya.

“Terpaksa saya lakukan supaya kalau dia bergerak ke luar rumah tidak membahayakan dirinya. Saya khawatir dia sampai ke jalan atau sungai,” ujarnya.

Popok Menjadi Kebutuhan Mendesak

Di tengah penghasilan yang tidak menentu, Wariyana harus memastikan kebutuhan perawatan Cahyo tetap terpenuhi. Salah satu kebutuhan yang paling mendesak adalah popok, yang masih digunakan Cahyo setiap hari, termasuk popok dewasa.

Ketika persediaan popok habis, Wariyana harus mencari bantuan atau mengupayakan cara lain agar kebutuhan tersebut tetap tersedia. Baginya, kebutuhan itu menjadi hal penting yang harus diprioritaskan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

“Kalau untuk makan, seadanya saja. Yang penting ada kecap, garam, dan air putih. Tidak apa-apa, yang penting ada popok,” kata Wariyana.

Bantuan dari orang-orang yang peduli terkadang datang dalam bentuk beras, popok, dan kebutuhan lainnya. Namun, bantuan tersebut tidak selalu tersedia sehingga Wariyana tetap harus berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan dari berjualan.

Selama ini, Wariyana tercatat menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Dia juga pernah memperoleh bantuan lain, termasuk beras dan popok, melalui orang-orang yang membantu mencarikan bantuan untuk keluarganya.

Meski demikian, menurut Wariyana, bantuan di luar PKH belakangan sudah jarang diterima. Situasi tersebut membuat upaya memenuhi kebutuhan hidup dan perawatan Cahyo tetap menjadi bagian dari perjuangan sehari-harinya.

Radio Menjadi Hiburan Cahyo di Rumah

Ketika Wariyana pergi berjualan, Cahyo biasanya menghabiskan waktu dengan mendengarkan radio. Perangkat tersebut menjadi hiburan bagi Cahyo selama berada di rumah.

Sementara itu, kebutuhan perawatan Cahyo tetap menjadi tanggung jawab Wariyana seorang diri. Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, perempuan berusia 65 tahun itu terus menjalani rutinitas berjualan demi memenuhi kebutuhan mereka berdua.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online