15 SMP di Sleman Direhabilitasi, Anggaran Capai Rp2,26 Miliar

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Jum'at, 23 Oktober 2026 20:57 WIB
15 SMP di Sleman Direhabilitasi, Anggaran Capai Rp2,26 Miliar

Ilustrasi gedung sekolah rusak - JIBI

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman merehabilitasi 15 sekolah menengah pertama (SMP) negeri sepanjang 2026 dengan anggaran APBD sebesar Rp2,2675 miliar. Perbaikan tersebut terutama menyasar bangunan dengan kerusakan pada bagian atap, termasuk konstruksi kayu yang keropos akibat serangan rayap.

Ketua Tim Kerja Sarana dan Prasarana Disdik Sleman, Ruling Yulianto, mengatakan program rehabilitasi dilaksanakan melalui dua tahap penganggaran, yakni APBD murni dan anggaran perubahan. Kedua tahap tersebut mencakup total 15 sekolah yang membutuhkan perbaikan fisik bangunan.

Pada APBD murni, terdapat sembilan sekolah yang masuk program rehabilitasi. Hingga Oktober 2026, tujuh sekolah telah menyelesaikan pekerjaan, sedangkan dua sekolah lainnya ditargetkan segera rampung.

Disdik Sleman kemudian menambah enam sekolah melalui anggaran perubahan. Dengan tambahan tersebut, jumlah sekolah yang masuk program rehabilitasi pada tahun ini mencapai 15 SMP negeri.

“Yang sudah selesai tujuh sekolah dari anggaran murni. Dua lainnya ditargetkan selesai dalam waktu dekat. Kemudian, di anggaran perubahan ada tambahan enam sekolah,” katanya, Jumat (23/10/2026).

Anggaran Rehabilitasi SMP Sleman Rp2,2675 Miliar

Berdasarkan data anggaran yang disampaikan Disdik Sleman, rehabilitasi fisik konstruksi melalui APBD murni mencapai Rp1,416 miliar. Sementara itu, anggaran perubahan dialokasikan sebesar Rp851,5 juta.

Jika digabungkan, total anggaran rehabilitasi 15 SMP negeri tersebut mencapai Rp2,2675 miliar. Dana itu digunakan untuk menangani kerusakan bangunan sekolah sesuai kebutuhan perbaikan yang telah diidentifikasi.

Ruling menjelaskan, kerusakan yang ditemukan umumnya berada pada bagian atap. Kondisi tersebut dipengaruhi usia bangunan yang sudah lama serta serangan rayap yang merusak konstruksi kayu.

Menurut dia, tingkat kerusakan bangunan terkadang tidak terlihat parah apabila hanya diamati dari luar. Namun, pemeriksaan lebih lanjut setelah bagian atap dibuka dapat menunjukkan kondisi konstruksi yang sebenarnya.

“Sekilas terlihat masih kokoh, tetapi setelah dibuka ternyata sudah rusak berat karena dimakan rayap. Rata-rata kerusakannya memang pada bagian atap,” ujarnya.

Temuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebutuhan rehabilitasi. Perbaikan diperlukan agar bagian bangunan yang mengalami kerusakan dapat ditangani sesuai tingkat kondisinya.

Kerusakan Sedang hingga Berat Jadi Prioritas

Ruling mengatakan rehabilitasi yang dibiayai melalui APBD difokuskan pada bangunan dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat. Adapun kerusakan ringan ditangani melalui mekanisme pembiayaan lain, termasuk dana bantuan operasional sekolah (BOS) sesuai ketentuan yang berlaku.

Pembedaan penanganan berdasarkan tingkat kerusakan tersebut membuat kebutuhan perbaikan dapat disesuaikan dengan sumber pembiayaannya. Untuk kerusakan yang membutuhkan rehabilitasi fisik lebih besar, Disdik Sleman mengalokasikan anggaran melalui APBD.

Selain menyelesaikan pekerjaan tahun ini, Disdik Sleman mulai menyusun daftar sekolah prioritas untuk program rehabilitasi 2027. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 17 sekolah yang berpotensi masuk dalam program tersebut.

Jumlah itu masih berupa hasil pendataan awal dan belum menjadi penetapan akhir sekolah penerima rehabilitasi tahun depan. Disdik Sleman masih menyusun prioritas sebelum menentukan sekolah yang akan ditangani.

Ruling menyebut kerusakan pada sekolah-sekolah yang terdata untuk program 2027 diperkirakan masih didominasi bagian atap bangunan. Pendataan tersebut menjadi bagian dari persiapan untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi berikutnya.

Dengan program rehabilitasi yang berjalan pada 2026 dan penyusunan prioritas untuk 2027, Disdik Sleman melanjutkan penanganan kondisi fisik bangunan sekolah negeri berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan perbaikan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online