Diskusi UII Soroti Kemunduran Sains Islam dan Pentingnya Rekonstruksi

Sunartono
Sunartono Sabtu, 24 Oktober 2026 06:47 WIB
Diskusi UII Soroti Kemunduran Sains Islam dan Pentingnya Rekonstruksi

UII membahas sejarah kejayaan sains Islam, faktor kemundurannya, serta strategi rekonstruksi melalui kajian turats dan epistemologi Ulil Albab. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Kebangkitan sains di dunia Islam tidak cukup ditempuh dengan mengulang kejayaan masa lalu. Diperlukan rekonstruksi pemikiran yang mampu mengambil nilai positif dari sejarah sekaligus melahirkan inovasi untuk menjawab tantangan masa depan.

Pakar Teknologi Informasi Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, menyampaikan hal tersebut dalam forum diskusi kajian turats bertajuk Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Bidang Ilmu Sains dan Rekayasa, Jumat (23/101/2026).

Fathul mengupas perjalanan peradaban Islam, faktor kemunduran sains, dan strategi membangun kembali tradisi keilmuan. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan membutuhkan dukungan pendanaan, komunikasi antarsaintis, serta keterbukaan terhadap beragam latar belakang pemikiran.

Fathul menjelaskan, peradaban Islam pernah mencapai masa kejayaan pada pertengahan abad ke-8 hingga akhir abad ke-10. Salah satu penopangnya adalah gerakan penerjemahan karya-karya non-Arab, terutama dari Yunani, yang menjadi tonggak pengembangan ilmu pengetahuan.

Gerakan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan, mulai dari khalifah, keluarga istana, pejabat, militer, intelektual, hingga saintis. Apresiasi terhadap penerjemah juga menunjukkan besarnya penghargaan terhadap aktivitas keilmuan pada masa itu.

"Penerjemah penuh waktu saat itu dihargai hingga 500 dinar per bulan, atau setara dengan ±2.125 gram emas," ujar Prof. Fathul saat memaparkan data historis mengenai apresiasi ilmu pengetahuan pada masa lampau.

Dukungan terhadap penerjemahan tersebut, menurut paparan Fathul, melintasi batas agama, mazhab, etnis, suku, dan bahasa. Kalangan yang terlibat mencakup orang Arab maupun non-Arab, Muslim maupun non-Muslim, serta kelompok Sunni dan Syiah.

Porsi Penulisan Buku Sains Menurun

Fathul juga memaparkan perubahan porsi penulisan buku sains berdasarkan data statistik rata-rata bergerak 50 tahun. Pada Zaman Keemasan Islam, yakni periode 800–1100, porsinya sempat mencapai sekitar 12%.

Namun, angka tersebut merosot menjadi sekitar 4% pada kisaran tahun 1100. Memasuki pertengahan abad ke-11, kurva sains mulai melandai seiring meningkatnya porsi penulis yang berafiliasi dengan madrasah.

Fathul menjelaskan bahwa kemunduran sains di dunia Islam tidak disebabkan satu faktor tunggal. Sejumlah teori yang dibahas mencakup krisis ekonomi di Iran pada abad ke-11 yang memicu migrasi saintis, meningkatnya kuasa pemimpin agama yang menggeser fokus ke ilmu agama, serta rangkaian konflik dari era Perang Salib hingga serangan bangsa Mongol ke Baghdad pada 1258.

Selain itu, energi umat yang terserap untuk layanan keagamaan dan meningkatnya popularitas sufisme turut disebut dalam penjelasan mengenai kemunduran tersebut. Berbagai faktor itu pada akhirnya berdampak terhadap dua pilar utama perkembangan sains, yakni komunikasi antarsaintis dan dukungan pendanaan.

Rekonstruksi Pemikiran untuk Kebangkitan Sains

Untuk membangun kembali peradaban, Fathul merujuk tipologi Mozaffari (1998) yang membedakan strategi peradaban. Ia menekankan pentingnya meninggalkan corak Reproduksivisme, yakni pendekatan mekanis yang berorientasi kaku pada masa lalu dan mempertahankan pola pikir baku.

Sebagai alternatif, Fathul mendorong Rekonstruksivisme, yaitu proses intelektual yang berorientasi pada masa depan dengan tetap mengambil unsur positif dari masa lalu. Pendekatan ini menuntut adanya invensi dan inovasi untuk menghasilkan pemikiran maupun karya baru.

Strategi tersebut juga perlu disertai semangat Komunalisme untuk mencari jalan tengah di antara beragam pemikiran, serta Universalisme agar umat Islam dapat hidup berdampingan secara terhormat dengan peradaban lain.

Dalam konteks pendidikan sains dan rekayasa modern, Fathul mengadaptasi lima spirit epistemologi Ulil Albab untuk menghubungkan aktivitas berpikir dan berzikir.

Lima spirit tersebut meliputi:

Meningkatkan integrasi. Upaya ini mencakup islamisasi diri dan integrasi nilai Islam ke dalam disiplin ilmu. Dalam pendidikan teknik, etika dan nilai Islam ditanamkan di berbagai mata kuliah, bukan hanya ditempatkan dalam satu mata kuliah khusus.

Mengasah sensitivitas. Spirit ini berkaitan dengan kemampuan membaca tanda-tanda alam serta membaca dan memahami data secara berulang. Dalam kegiatan laboratorium, penerapannya mencakup observasi cermat, replikasi, dan kepekaan terhadap dampak sosial maupun lingkungan.

Memastikan relevansi dimana penelitian perlu diarahkan pada kemaslahatan. Fathul menempatkan maqasid al-syari'ah sebagai kerangka untuk menilai teknologi.

Mengembangkan imajinasi. Perencanaan masa depan yang berkelanjutan. Dalam bidang rekayasa, spirit ini diterapkan melalui desain berorientasi masa depan yang memperhatikan keberlanjutan antargenerasi dan foresight teknologi.

Menjaga independensi. Sikap mandiri dalam berpendapat dan tanggung jawab personal. Dalam penelitian, penerapannya meliputi budaya tabayyun untuk memverifikasi data, telaah sejawat atau peer review, serta penjagaan integritas dan akuntabilitas riset.

Asmuni Tekankan Pentingnya Kajian Turats

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, Asmuni, menyoroti pentingnya kajian turats atau literatur klasik dalam membangun epistemologi Islam.

Menurut Asmuni, kajian mendalam terhadap teks-teks klasik kerap dihindari karena dianggap kurang populer dibandingkan pembahasan yang bersifat struktural maupun operasional. Padahal, pemahaman terhadap fondasi keilmuan masa lalu menjadi salah satu bekal untuk membaca perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Dalam pemaparannya, Asmuni menyoroti istilah turos, yang dijelaskan dalam naskah sebagai pembukaan lembaran literatur klasik abad pertama Hijriah, serta Ulil Albab yang dikaitkan dengan intelektual penjaga keilmuan atau al-musaddaq al-muraqib.

Tradisi akademik yang kuat, dalam konteks tersebut, diharapkan mampu melahirkan intelektual yang konsisten mengawal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam kerangka pemikiran Islam.

Diskusi juga menyinggung literatur kontemporer mengenai arsitektur intelektual dunia Islam, termasuk karya Yumna Tois Al-Khuli yang disebut sebagai cucu Amin Al-Khuli, serta pemikiran filsafat ilmu dari Toha Abdurrahman.

Melalui kajian turats dan pembahasan epistemologi Islam, sivitas akademika diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek praktis keilmuan. Nilai-nilai sejarah dan pemikiran Islam juga perlu diterjemahkan ke dalam kegiatan pembelajaran, penelitian laboratorium, dan proyek rekayasa agar dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online