Bantul Diguyur Hujan Setelah 161 Hari, BPBD Lanjutkan Dropping Air

Yosef Leon
Yosef Leon Sabtu, 24 Oktober 2026 18:57 WIB
Bantul Diguyur Hujan Setelah 161 Hari, BPBD Lanjutkan Dropping Air

Ilustrasi. /JIBI-Sunaryo Haryo Bayu

Harianjogja.com, BANTUL—Hujan kembali mengguyur Kabupaten Bantul setelah wilayah tersebut mencatat hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Indonesia mencapai lebih dari 161 hari pada titik pengamatan di Pajangan. Namun, turunnya hujan belum membuat warga terbebas dari persoalan kekeringan karena sumur-sumur yang mengering masih membutuhkan waktu untuk kembali terisi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul memastikan pelayanan distribusi air bersih masih berlanjut hingga sumber air warga pulih. Hujan yang mulai turun sejak Jumat (23/10/2026) malam dan lebih merata pada Sabtu (24/10/2026) pagi hingga siang belum cukup untuk memulihkan ketersediaan air tanah.

Sekretaris BPBD Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, mengatakan hujan pada Jumat malam belum mengguyur seluruh wilayah secara merata. Kondisi berubah pada Sabtu pagi ketika hujan mulai turun di berbagai wilayah Bantul.

“Jumat malam sudah hujan tapi belum merata dan Sabtu pagi hujannya merata di Bantul. Jadi empat bulan lebih akhirnya turun hujan,” kata Ribut.

Meski hujan telah kembali turun, BPBD belum dapat memastikan kapan sumur-sumur warga yang mengering akan kembali terisi. Pengalaman pada musim kemarau sebelumnya menunjukkan hujan yang turun satu hingga tiga kali belum cukup untuk memulihkan sumber air yang terdampak kekeringan.

Menurut Ribut, pemulihan air sumur membutuhkan waktu lebih panjang dan bergantung pada keberlanjutan hujan serta kondisi tanah. Karena itu, hujan yang baru turun dalam waktu singkat belum bisa dijadikan patokan bahwa krisis air bersih telah berakhir.

“Sesuai dengan pengalaman yang sudah-sudah, hujan sekali sampai tiga kali belum bisa memulihkan air sumur. Karena paling tidak sebulan kalau memulihkan air sumur itu,” ujarnya.

BPBD Bantul Masih Distribusikan Air Bersih

Kondisi sumur warga yang belum pulih membuat BPBD Bantul tetap melanjutkan pelayanan distribusi air bersih. Bantuan tersebut akan diberikan sampai sumur-sumur yang terdampak kekeringan benar-benar kembali menyediakan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk dropping air masih kami layani sampai kondisi sumur warga benar-benar pulih,” ucapnya.

BPBD berharap hujan tidak berhenti setelah mengguyur wilayah Bantul selama dua hari tersebut. Hujan yang berlanjut dalam beberapa pekan ke depan diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan air tanah sehingga ketergantungan warga terhadap bantuan air bersih berangsur berkurang.

Pemulihan sumber air menjadi perhatian karena hujan yang turun di permukaan belum tentu langsung membuat sumur warga kembali terisi. Dengan demikian, pelayanan distribusi air bersih masih diperlukan selama masyarakat belum dapat mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Pajangan Catat HTH Terpanjang di Indonesia

Sebelum hujan kembali turun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat titik pengamatan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pajangan, Bantul, mengalami periode hari tanpa hujan lebih dari 161 hari. Catatan tersebut menjadikan lokasi itu sebagai titik pengamatan dengan periode tanpa hujan terpanjang dibandingkan titik pengamatan di provinsi lain berdasarkan data yang disampaikan BMKG pada 19 Oktober 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Yogyakarta, Mamenun, menjelaskan bahwa catatan tersebut merujuk pada hasil pengamatan di pos curah hujan atau BPP Pajangan, Kabupaten Bantul.

“Yang dimaksud terlama di Indonesia itu, memang HTH terpanjang ada di pos BPP Pajangan, Kabupaten Bantul. Ini menjadi terpanjang bila dibandingkan dengan titik-titik pengamatan di setiap provinsi,” kata Mamenun, Senin (19/10/2026).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online